Bau tanah selepas diguyur air selang andalan Mang Uji membangunkanku pagi ini. Ah, hidungku
rupanyaa sudah tidak mampet lagi. Tapi mataku masih berat, sama seperti tiga
hari terakhir.
Aku jarang sakit. Namun sekalinya dihantam flu, butuh minimal satu minggu untuk membuatku mampu menyentuh laptop lagi. Kucoba untuk mengangkat kepala. Pusing bukan main. Kuingat kata ibu semalam,
"Ngga
ada hujan, ngga lagi banyak kerjaan, kamu pasti banyak pikiran.. Sampai-sampai
makan ngga bener, bukan jatah begadang juga milih melek berjam-jam.."
Aku
bisa menambah beberapa fakta lagi. Sahabat-sahabat super kacau ku tidak ada yang
sedang sakit. Bahkan mereka semakin getol ikut yoga dan pilates karena
Ence menjanjikan tubuh seksi di akhir sesi nanti. Artinya, tidak
mungkin bibit runny nose ini berasal dari mereka. Dan fakta paling penting disini yang menjadi bukti otentik penyebab tumbangnya seorang Gendis adalah
Radit and I officially had haven't met each other for a month.
Masa bodoh dengan kecanggihan teknologi yang selama ini kami jadikan tumpuan. Kesabaranku ternyata tidak
sejauh itu. Kuputuskan tidak menghubungi Radit sama sekali setelah
panggilanku disahut oleh Betari. Aku tidak tahu apakah pesanku sudah
sampai atau tidak. Entah Radit benar-benar marah atau aku yang kepalang
gengsi.
Aku terbatuk, sakitnya
bagai menggigit tenggorokanku. Kuraih gelas air yang ada di meja sebelah
kasurku. Kosong. Kulihat dengan sudut mataku, sesosok laki-laki entah duduk
entah tertidur di atas beanbag kesayanganku. Tidak jelas, kabur, kacamata sudah jauh dari jangkauan, apalagi lensa kontak.
Ah, Mota pasti semalem repot banget bantuin kompres jidat gue.
Setengah
kesal aku menyingkap selimut tebal yang membungkusku tiga Hari ini.
Baru saja aku menyentuhkan kaki di atas lantai, seseorang setengah
terburu meraih gelas di tanganku dan keluar dari kamar.
"Motaaaa.., gue ambil sendiri ajaaa.. Pasti lo capek semalem kompresin gue.." kataku pelan, peduli setan Mota dengar atau tidak.
Kuambil kotak tissue d sebelah bantal. Hariku dimulai (lagi) dengan hidung beler dan tenggorokan perih.
Aku
mulai menunduk, berusaha sekuat tenaga mengeluarkan seluruh ingus yang
mengganggu pernafasan. Kulihat ember di dekat kaki tempat tidur.
Sebegitu parah kah sakitku hingga ibu dan Mota harus menyediakan ember
muntah untukku?
Aku benci rumah sakit. Tapi tampaknya mau tak mau aku hrs menelepon dokter langganan Sati.
Detik
berikutnya segelas air terulur ke arahku. Segera kuraih dan kuteguk
untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokanku. Hangatnya air bagi
memijat perlahan mulut dan bagian dalam leherku.
Kuletakkan gelas, kuangkat kepala beratku, dan terpana aku melihat pemandangan yang ada di depanku.
"Mota dimana?"
Radit duduk di sebelahku,
"Aku
suruh pindah tidur di kamarnya. Mukanya udah lecek banget. Tadi
ketiduran di atas situ sambil tangannya masih pegang kain kompres." Kuraba keningku, samar terasa basah.
"Kamu
mau sarapan apa? Bubur atau pisang? Tadi Ibu bilang di kulkas ada pisang sama
pepaya.. Aku juga bawa bubur dari Diandra.. Perut kamu udah ku.."
Aku
menghambur setengah menubruknya. Menghirup kuat-kuat aroma parfum andalannya sebisa mungkin. Kusandarkan kepalaku yang semakin berat di
dadanya. Tempat favoritku menumpahkan air mata tiga tahun terakhir ini. Kurasakan tangannya yg hangat menyentuh puncak kepalaku Dan mengelus lembut punggungku yang lemah.
"Aku juga kangen banget, Gege.. Maafin aku yaaa.."
Aku
menggelengkan kepala kuat-kuat. Memperburuk keadaan, membuatnya semakin terasa mau lepas dari
leherku. Kupeluk Radit lama. Begitu lama, tanpa sepenggal kata pun
keluar dari mulutku. Radit sudah tahu apa yang ingin kukatakan. Radit
pasti tahu apa yang akan kukatakan. Selalu tahu.
Radit melepaskan pelukannya setelah hampr sepuluh menit berlalu dalam kesunyian, "Kamu nyandar lagi, gih.."
Dia lalu membantuku masuk ke dalam selimut. Memasang bantal di belakang punggungku. Membantuku duduk diatas kasur senyaman mungkin.
"Kamu mau sarapan apa?"
Radit bangkit perlahan. Namun kuraih tangannya. Menahannya tetap berada di sini. Aku
menggeleng lemah, kupegang erat tangannya. Radit cuma menggeleng heran.
Dia kemudian menggeser badanku, ikut bersandar pada kepala tempat
tidur. Reflek kusandarkan kepalaku di bahunya yang sangat kurindukan. Kutahan air mata kuat-kuat agar tidak tumpah saking girangnya.
Radit mulai bicara, yang terdengar bagai dongeng di telingaku. Kudengarkan dengan seksama, tidak mau terlewat satu bagian pun. Radit bercerita tentang kerjaannya. Tentang kakak-kakaknya. Kucing tetangga yang suka numpang buang hajat di halaman rumahnya. Kesibukannya. Kucing-kucingan dengan Mota menanyakan keadaanku. Hari-harinya melewati kantorku tanpa berhenti di lobby seperti biasanya. Serta yang membuatku terharu, kesal, dan ingin tertawa sekaligus meski menggerakkan satu otot pun aku kerepotan, saat Radit mengatakan rindu berdebat denganku. Kesepian mampir sebentar membuatnya bingung akan dikemanakan marah dan senangnya.
Mataku terpejam, sudah hampir tertidur lagi. Ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi, kali ini kudengarkan kata-katanya lebih seksama.
"Iya, Yie?"
"Ini di rumah Gendis. Sampe malem mungkin kayanya. Kenapa gitu?"
"Oh, ada masalah lagi? Ya ngga papa sih kalo mau cerita, area you okay with texting? Nanti gue teleponnya kalo misalnya udah luangan dikit gitu.."
"Ya ngga enak aja dong sama Gendis.."
"Kan nanti dibales, Ayie. Kalo mau lo ke sini deh, gue kasih alamat rumah Gendis."
"Ngga bisa.."
"Lo ngertiin dikit dong, Gendis lagi sakit, Yie. Makannya ngga bener, udah ngga ngantor tiga hari.."
"Dih. Gendis lagi istirahat sekarang, buruan kalo mau cerita.."
Ayie. Betari. Lagi.
Kututup mata serapat mungkin, namun telinga setajam-tajamnya.
Kupererat tanganku yang melingkar pada lengan Radit yang duduk disampingku, dalam hati mempertegas kepemilikan atas pria ini..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar