Selasa, 23 Oktober 2012

fall love fall :)

http://www.bohemia-apartments.com/files/fall-in-prague-3.jpg
Fall in Prague. Looooveeeyy!! :D
http://img.photobucket.com/albums/v698/galexiegirl/Violet%20Slumber%20Party/Fall_Prague.jpg

Though Indonesia, the place where i live rite now, only got two seasons for the whole year - raining and dry - , i found myself falling for fall.
Haha. Sounds weird. But yeah, fall, the autumn, the earth color, the color change in leaves.
Just looking into that color tones, i already fell the warmness. Autumn is harvesting season which bring the joy but also got the melancholic feels because of the windy weather - which makes people tent to be inside their house than goofy around outside - 'sweeps around' people from the street.
I got this idea that autumn really made for lover. not the love-fling like happy summer lover, but the one which more real. because for me, love that found in 'hard' time like autumn - i mean in the cold weather, half humid half dry but somehow you fell wet - would last longer.
Yeah, i know! When it hit the fall, all of those wind suddenly comes from anywhere, make you tighten your jacket or layered your outfit with several sweaters and cardigans or cover your neck with the 100% wool-shawl.

But let's think beyond it. Beyond all the temperature matters.
Don't you ever questioning before about where all of those clothes, that people used as the shield from the vigorous wind, came from?
Some of you would think that, they bought it somewhere at the mall or street shop or maybe the nearest flea market. But some dreamers like me, would imagine that way different.
In my point of view, the might got that from their lovers. Yes, the thick blanket or sweater would keep you warm during the fall, obviously. But moreover, the love that came along with that stuff, would wrap not only your body, but also your heart, in a super warmness.

Come on. Join me in the dreamland. Here's my favorite one!
Imagine yourself, sitting inside a wooden-interior coffee shop with a cup of hot cappuccino in front of you. Looking to the street through the giant window or glass wall, where people walk around under their coat. And yes, that path looks so amazingly decorated with the fallen leaves and brownish-yellowish-reddish trees.
And just at the time, right after you sipped your cappuccino and turned the next page of your book, your lover entered the coffee shop waving his/her hand directly to you. And you caught 'em wearing the shawl or sweater or coat that you made it or bought it just for him/her.
That lovely scene might just happened inside the book or cheesy lovey dovey movie or dramas, but just by imagining that, i already felt a little flame inside my heart spreading the warmness around.
Back to the clothes matters, it's not only the receiver that would feel the warm, but also the one who gave that would feel all joyful inside just because seeing the lovable one wearing their gift.

Oh yeah, i'm soooo dying here want to go to all of those place who currently in fall season rite now. I'm dying to feel the warmness. To feel the love.
Not because i'm desperately craving for a lover, but simply because i like that scenery, when people feels warm just because of the other human being's existences.
Isn't that what happiness and peace means? :)

Catch you later! Enjoy your autumn! :D


http://a1.s6img.com/cdn/box_005/post_15/596167_14583472_lz.jpg

Senin, 18 Juni 2012

CHAPTER 03. part 2.


Ketika pelangi mulai muncul setelah hujan sore itu, lengkung yang sama sepertinya juga berbaik hati untuk singgah di wajahku. Setangkai lily berada di genggaman. Lagi seperti dua tahun yang lalu, dan kali ini tidak layu. Tidak seperti dulu. Tidak seperti perasaan yang terbuang dulu. Perasaan radit yang terbuang dulu.

Radit.

Yang satu ini memang masih bertahan pada pancangnya. Tidak memberikan kepastian. Tapi menurutku, sudah cukup. Cukup dengan lily yang sama ini, aku tahu. Aku juga harus bertahan pada porosku. Bahwa suatu saat nanti, pasti ada waktunya.

“Gue ngga tahu, elo itu goblok atau buta, atau malah putus asa, Ge! Ada juga orang minta mas kawin itu cincin, berlian, alat sholat, emas, atau mobil sekalian noh macem Andi Soraya! Lah ini! Lily, sebatang doang! Timbang gocap dua juga dapet!” Ence kembali mengeluarkan jurus bibir ibu mertuanya yang paling dahsyat.

“Heh! Lo tahu apa soal mas kawin, Ce! Nyobain juga belum pernah!” cerocos Kinar.

“Kambing lo! Ngga perlu kawin buat ngerti mas-mas! Apalagi emas! Investasi itu pelru, darling! Bahkan jauh sebelum elo akhirnya sah jadi suami istri!”

“Lo tahu? Investasi sebanyak apapun juga ngga bakal guna kalo akhirnya jadi jejaka tua macem elo! Gue juga ngga tahu sih yaa, elo jejaka atau capcuscin!”

“Sompret!”

Aku hanya bisa meringis melihat kelakuan mereka. Pikiranku bagai dipenuhi helium, mengawang entah kemana, terbang semampunya, mengikuti tiupan angin di luar sana. Setelah perang dingin kemarin, aku belajar banyak. Bahwa tidak mungkin seorang Gendis berusaha tidak peduli dengan satu-satunya orang yang tidak peduli betapa marahnya dia, namun tetap setia mengucapkan selamat tidur setiap malam meski hanya melalui pesan super singkat. Aku belajar banyak. Sedikit saja perhatian dari Radit, sudah jadi hadiah paling berharga buatku, mengingat kesibukannya tidak kalah dengan artis ibukota.

“Eh, tante! Senyum-senyum mulu! Gila ngga tanggung, yeee!” seloroh Kinar sambil melambai-lambaikan yangannya di depan wajahku.

“Emang udah gila, kali! Mau dikawinin gara-gara bunga doang! Mending bunga bank!” samber Ence sambil mematut dirinya di kusen aluminium jendela sebelah kami duduk.

Aku menghela nafas cukup panjang. Cukup untuk membuat Anet melirik tajam jika tersengar di telinganya yang super sensitif itu. Aku mencoba menyusun kata sebijak mungkin sebelum bersuara. Memang nggak tanggung-tanggung, urusan begini pun aku masih bawa-bawa gengsi. Adalah sangat tidak classy bagiku jika sudah terlalu lama melamun, tapi omongannya masih setara dengan isi comberan macam dua orang di depanku ini.

“Lo tahu ngga, sih? Kalo elo yakin sama sesuatu, every obstacles yang mendadak muncul di depan elo tuh bisa elo singkirin sekali tebas? That’s me! Rite now!”

“I know, Ge! Gue kan juga yakin kalo Ence ngga akan nikah seumur hidup!”

“Gue akan nikah, Cacing! Tapi minimal umur gue 35! Jangan jahit kaen mulu makanya! Jahit itu otak sama mulut lo biar nyambung kalo ngomong!”

Kinar terkikik puas setelah berhasil membuat Ence kesal, kemudian buru-buru bergelayut pada lengannya yang dibungkus kaos lengan panjang warna biru kesukaan Kinar. Sekilas teringat masa kuliah kami. Di mana kami bertiga sibuk hura-hura di saat deadline melanda. Hasilnya tidak tanggung-tanggung. Sama-sama masuk jurusan arsitektur, tapi hanya aku yang mau jadi arsitek. Kinar buru-buru membelokkan setirnya ke fashion industry. Padahal di antara kami bertiga, nilainya yang paling cemerlang dan sangat menjanjikan. Sementara Kinar tenggelam di antara tumpukan kain dan benang jahit, Ence memilih editorial jadi sumber uangnya. Sehingga omongannya tidak kalah kritis dan nyinyir bagai seorang saudagar pelit yang enggan kehilangan sebutir berasnya di gudang.

“Bukan itu maksud gue!! Gue sekarang ini jauh lebih merasa ikhlas. Menerima. Bahkan hampir lewat batas ngga peduli, deh.. Radit mau ngapain juga, hmmm, terserah.. Toh pada akhirnya dia akan selalu bersedia untuk kembali lagi ke sebelah gue. Dengan begini kami bisa berkembang. Jadi gue ngga perlu dengan labilnya bagai abg kurang gizi jaman sekarang, mikir sampe gila kapan gue mau nikah. Umur berapa pun, pasti gue akan mencapai itu bersama Radit.”

“Jangan seyakin itu, dear. Boleh yakin, tapi jangan lantas menutup hati elo dengan warna seromantis itu. Tidak semua lalu indah saat kita membubuhkan banyak-banyak warna pink dan biru muda. Lo boleh yakin seratus persen bahkan lebih, kalo emang itu urusannya sama diri lo sendiri!”

“Ini kan emang tentang gue, Nar. Jodoh gue, kan? Artinya gue-gue juga yang ngejalanin, kan?”

“Beda. Saat itu urusan elo, hanya elo yang ada di situ. Elo yang jadi titik fokusnya. Di sini, elo bergantung sama keberadaan radit. Ya kalo nantinya memang dia sejalan. Kalo tiba-tiba kalian ketemu pertigaan dan dia milih belok ke kanan sementara elo kekeuh lurus gimana?”

“Nar! Lo sendiri yang kemaren nasehatin gue panjang lebar ngga usah kemakan gengsi dan baikan sama Radit. Sekarang suruh hati-hati sama Radit! Can you just stay the same with yesterday?”

“Mengalah, berdamai, tapi bukan gini caranya, sayang.. Yakin itu bagus, tapi bukan lalu berarti pasrah! Inget materi praktek arsitektur dulu?”

“Lo ngga boleh nunggu doang! Harus bisa jemput bola! Cari celah buat tunjukkin ide-ide lo!” sahut Ence tiba-tiba.

Aku terdiam. Susah mencari kata-kata untuk jadi tameng omongan dua orang yang paling tahu di depan ku ini. Ence dan Kinar ngga bisa dibohongin, mereka jauh lebih pinter dari logika ku yang pas-pasan. Jauh di timbunan perasaan sok tenang dan sok tidak peduli ini, aku masih mengharap kejelasan, bahkan kalau perlu menandai kalender di handphone masing-masing tanggal berapakah aku harus mengepas gaun pengantin seperti yang sudah dilakukan Anet beberapa waktu yang lalu. Bukan hanya sekedar obat penghilang rasa sakit sementara.

Mungkin aku sudah kebanyakan menonton drama dan berharap menjadi seorang tokoh utama wanita di dalamnya di mana pada akhirnya selalu kembali ke pelukan kekasihnya dan menuju pelaminan begitu episode terakhir disiarkan. Kadang aku iri, drama yang ceritanya begitu rumit pun jelas tenggat waktunya. Jelas kapan si A akan menikah dengan si B, kapan si C bercerai dengan si D, dan seterusnya. Aku bahkan tidak sabar menunggu. Mungkin terlalu takut kisahku akan berlarut-larut dan sang sutradara memotongnya di tengah dengan tiba-tiba karena habis biaya produksi, sehingga membuatku memilih cerita yang jalan ceritanya mudah ditebak. Berusaha sebisa mungkin menyederhanakan cerita, sehingga tidak menikmati kesenangan mengurai kerumitan yang seharusnya bisa mengajariku banyak hal, menunjukkan padaku bahwa tidak semuanya mendapat alur cerita yang begitu mulus.

“Gue ngga tau, Nar.. Gue terlalu ingin bermain simpel, gue terlalu capek bergelut dengan segala kemungkinan ini itu yang membuat panik dan ingin lari dari kenyataan..”

“Lo kelamaan pake kacamata kuda, yang lo lihat sekarang Radit mulu. Nggak pake nengok kanan kiri! Bahkan hati kecil lo jarang banget elo tengok. Bukan begini caranya, bukan jalan ceritanya yang harus sederhana.. Soal yang terlalu rumit, belum tentu penyelesaiannya harus dengan rumus yang rumit juga kan..”

“Ah! Salah lagi, gue! Kapan sih bisa bener sekali aja?”

“Ngga salah! Inget itu! Lo udah pada posisi yang benar.. Tapi sekali lagi, bukan waktu yang tepat. Ada saatnya orang yakin banget sama pola pikirnya. Yang macem gini, udah tau persis harus siap buat kecewa kalo rencananya ngga sesuai sama kenyataan..,” Ence terdengar begitu waras sore ini.

“Coba yaaa, dulu gue iya-in aja nikah sama Radit dua tahun lalu..”

“Itu bisaaa… Tapi mungkin lo sekarang malah udah cerai, terus elo ngga setajir sekarang kan, dan ngga bisa belanja sepatu semau elo gara-gara ngelewatin kesempatan jadi project manager di beberapa kota karena elo cuti nikah, bahkan cuti hamil. Diiiih, anak lo mau makan apa coba? Terus sekolahnya? Dikira murah kali mau belajar aja!” 
Kinar mengikat rambutnya ke atas, dalam hati aku berpikir mungkin dia juga harus mengikat mulutnya agar mulai berhenti bicara. Mau tak mau aku tertawa juga, bocah yang satu ini memang cerdasnya ngga ketulungan. Sakit sih lebih tepatnya.

‘Tapi gue dukung elo buat yakin, Ge,” lagi, Kinar membuatku ikut terbolak-balik dengan jalan pikirannya, “Jadi, elo ngga perlu stress, lebih menikmati hidup aja.. Inget prinsip gue yaaa, we don’t make a plan! We make decision! Elo yang tanggung jawab sama kebahagiaan elo! They have no responsibility, even no right! Inget, elo! Bukan orang laen! Dan bahkan bukan orang tua lo, Ge!”

Kata-kata terakhir Kinar bagai menyegat kembali otakku yang sudah habis setrum aki nya. Orang tuaku. Mungkin kisah mereka yang membuatku takut. Takut mendapat kisah yang sama. Kata orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ah, begitu menghakimi. Aku ingin sejauh mungkin dari orang tuaku. Tidak ada sedikit pun keinginan untuk mengulang kisah mereka.

And here I am. With my two best buddies, yang mengingatkan lagi bahwa akulah yang punya kendali atas segala apa yang sudah dan akan kulakukan. Kadang aku iri dengan mereka berdua. Begitu impulsif, spontan, dan santai menjalani hidup. Aku terlalu banyak menyusun rencana. At the end of the day, aku hanya bisa harap-harap cemas dan selalu insecure serta merasa tidak puas sama sekali. Ah, hidup. Kenapa begitu keras padaku?

                Ah, Gendis. Kenapa begitu egois dan tidak pernah puas?

Selasa, 17 April 2012

CHAPTER 03. part 1.

Kau bertanya mengapa kita terus berjalan
Mencoba pertahankan meski ku tahu ada yang salah
Benarkah ini hanyalah penasaran cinta

Ku denganmu selalu jadi pertanyaan
Tanpa sebuah jawaban, tanpa cinta
Dirimu dan aku tlah banyak buang waktu




Lagu 'Penasaran' milik Maliq terdengar begitu saja di telinga. 
Siapa yang masukin nih? Pasti si Gendis. Gue ngga hobby update lagu di ipod gue. Kadang playlist bisa itu-itu terus hampir tiga bulan lebih. Gendis selalu gemas ngeliatnya, dan menyisihkan waktunya untuk masukin lagu-lagu baru demi kesehatan telinga gue. Lumayan lah, di saat-saat nungguin orang gini bisa menyelamatkan kewarasan gue.


Gue ngga suka nunggu. Males banget. Dulu pas masih jaman-jaman jadi hippies sih ngga masalah. Sekarang udah tua. Dan udah mulai masuk ke fase sehari-ngga-cukup-24-jam. Lari sana sini, doing such a quality-control's job, teriak kanan kiri, dan terjebak di depan layar komputer sampai lupa dunia luar. Satu tahun terakhir ini gue terjebak dalam status workaholic. Tidur udah jarang banget. Tempat sampah gue isinya kaleng kopi semua.


Lirik dan irama lagu tadi, menggelitik sekaligus noyor kepala gue kenceng-kenceng nih kayanya. Gue makin ke sini makin berubah jadi orang yang ngga peduli sekitar gue, cuma gara-gara kerjaan. Gue lupa keluarga. Lupa kamera gue. Lupa Gendis.


Lupa Gendis.
Kok bisa? Dua tahun yang lalu sih gue bela-belain buang harga diri gue jauh-jauh, ngelamar ini anak orang. Hasilnya? Nihil. Haha! Gendis belum mau nikah, masih mau kejar karir. Alasan klise. Dulu gue merutuk keputusan Gendis itu dalam hati, teriak-teriak di kamar kalo karir masih bisa jalan meski elo udah nikah. Tapi sekarang, gue yang harus nelen aer ludah sendiri. Sudut pandang gue ngga bergerak dari kata kerjaan, deadline, dan naik jabatan. Gue banting ngga cuma tulang, bahkan daging, otot, sama hati juga gue banting.


Gue inget sebelum kenal Gendis, gue kerja sembarangan banget. Ngga pernah berfikir buat naik jabatan. Terlalu takut untuk keluar dari zona nyaman. Arogan dan manja. Khas anak bungsu. Tapi demi mengenal bocah satu ini, gue jadi lebih tahu kalo hidup ngga cuma buat dijalanin dan dinikmati, tapi juga harus diperjuangin.

Gendis adalah orang yang ngga pernah menyerah bahkan sedikit pun dengan keadaan, itu setau gue. Yang bertahan mati-matian ketika sahabat dan adiknya mau nikah dalam waktu berdekatan. Sedangkan dia, harus nungguin gue untuk meminta nya lagi, yang mana gue sendiri juga ngga tahu kapan, aduh!

Gue tahu, Gendis pengen kepastian. Tapi gue kelewat gengsi untuk ngajak nikah lagi. Kelewat pengecut. Kelewat kesenengan sama kerjaan dan bawahan yang memuja gue. Idiot memang. Tapi bagi gue ini adalah suatu bukti kerja keras gue selama ini. Hasil pengorbanan gue. Buat siapa? Ya buat Gendis juga nantinya! 

Gue mau nikah sama Gendis. Mau banget. Tapi ngga sekarang. Ngga dalam waktu dekat, saat gue sedang di puncak dan menikmati kristalisasi keringet gue.


Mungkin bener, gue terlalu takut akan apa yang bakalan terjadi kedepannya. Gue takut rumah tangga gue ngga berjalan dengan semestinya, dan gue harus nyakitin Gendis, dan kerjaan gue berantakan, dan Gendis harus pergi karena kecewa sama gue, dan gue abis karena ngga punya apa-apa lagi buat dibanggain. Buat dipertahanin. Buat diperjuangin.


Perempuan ini bukan perempuan-perempuan yang selama ini gue temuin. Gendis ngga pernah suka kopi. Ngga takut buat mencaci gue dan kebiasaan minum kopi gue. Ngga kaya cewe-cewe yang pernah gue temuin yang memaksakan diri minum kopi supaya bisa nongkrong sama gue. Gendis suka Star Wars ketika perempuan lain mungkin udah bosen pas prolog nya selesai. Gendis ngga merengek, dia mampu berdiri di atas kaki nya sendiri. Kalo gue ngga punya apa-apa, jadi apa gue di mata dia? Dia pernah bilang kalo dia takut gue pergi begitu aja ninggalin dia. Gue justru lebih takut itu yang kejadian sama gue!


Gue mau nikah sama Gendis. Mau banget. Tapi ngga sekarang. Ngga dalam waktu dekat, saat gue merasa mampu menjadi sosok superior dalam hubungan yang ngga jelas antara gue sama Gendis. Wajar kalo ada yang bilang gue bego dan kurang ajar, tapi gue ngga mau munafik. Gue merasa seneng dibutuhin dan dikejar-kejar, setelah selama ini gue yang selalu ngarep dan meminta-minta.


Jangan lo terus pikir gue ngga sayang sama Gendis. Nggak mungkin itu. Bahkan hingga detik ini, gue kangen banget sama Gendis. Gue bisa kangen sama Gendis meski kita lagi barengan. Aura Gendis itu kuat banget. Sekali elo ngerasa nyaman sama dia, ngga ada celah buat elo untuk bebas dari pengaruhnya. Haha! Asli, canggih bener lah pokoknya perempuan yang satu ini. Baru ini gue ketemu perempuan yang teriak-teriak bareng gue maen games Call of Duty tapi juga lihai kalo harus masak di dapur. Yang kaya begini ini, mana mungkin dilepasin? Mana mungkin gue mampu jauh-jauh?


Gue mau nikah sama Gendis. Mau banget. Tapi ngga sekarang. Ngga dalam waktu dekat, saat gue lagi pengen bebas-bebasnya. Gue itu old-school banget, mind set gue sudah mendefinisikan pernikahan sebagai sebuah pembatas gue dari dunia luar. Gue sendiri heran, dulu gue susah payah meyakinkan Gendis buat nikah sama gue, sekarang gue yang melipir ketika Gendis udah ngebahas ini hubungan mau dibawa ke mana.


Gue mau nikah sama Gendis. Mau banget. Tapi ngga sekarang. Ngga dalam waktu dekat. Ngga di saat hubungan gue sama Gendis ngga jelas kaya gini. Siapa yang bikin ngga jelas? Gue rasa gue sendiri. Lo ngga bisa nyalahin orang laen sebelum lo cek kewarasan dan cara kerja otak lo kan?!


"Sorry yaa, Radit! Lama ya nungguinnya? Maaf, deh!"
"Oh, no probs! Gue bawa ipod kok tadi, lumayan, hehe! Yuk, ah! Ke mana nih kita?"
"Gue dapet info cafe baru, ni! Katanya americano nya enak banget! Gue mau cobain! Hehe!"
"Ah! Boleh juga tuh! Berangkat lah!"
"Eh, tapi gue mau ke toilet dulu, Dit! Tungguin yaa! Lo ke mobil aja deh dulu!"


Ayie melesat cepat ke arah kamar mandi. 
Gue ngga suka nunggu.
Tapi gue dari setengah jam yang lalu di sini. Cuma pegang ipod. Hape bahkan gue tinggal di mobil.
Gue ngga suka nunggu. 
Tapi gue dari setengah jam yang lalu di sini. Yang dibayar dengan tawaran minum kopi.
Gue ngga suka nunggu. Tapi gue mau nunggu demi kopi. 
Atau demi Ayie?


Gue mau nikah sama Gendis. Mau banget. Tapi ngga sekarang. Ngga dalam waktu dekat. Ngga di saat gue menemukan orang yang bisa diajak diskusi panjang lebar sambil minum kopi.
Gendis boleh suka hujan. Jadi gue boleh suka kopi.


Gue lalu memilih segera berlalu. Mematikan ipod sialan yang ngaduk-aduk otak gue. Mencari pembenaran. Mencari pembelaan.




Ku denganmu selalu jadi pertanyaan
Tanpa sebuah jawaban, tanpa cinta
Dirimu dan aku tlah banyak buang waktu
Trus mencari jawaban ’tuk terus berjalan
Mencari alasan ’tuk terus bertahan
‘tuk terus berjalan

Senin, 09 April 2012

Just me being grateful :)

I'm so blessed that i have life like this. Big family that i know always support me, even sometimes they got busy with their own life.
And also friends that i couldn't mention one by one, close friends, best friends, long-distance friends, childhood friends - that always be there with their troublesome mind haha!
I hope the almighty one give me chances to pay 'em back all of the thing that they had done for me.
Also to the tears, problems, scars, broken-hearted-time, failures and betrayal. Thanks for give me a chance to grow up and be stronger than before.

My name is Aya. And i'm so proud of myself so far. And i love everything that happened in my life. And thank God for all the people that i meant to meet. And being grateful with every part of this mother nature :)

I thank God upon every remembrance of you - Philippians 1:3

Nite nite, universe!

Rabu, 28 Maret 2012

Cantik, aku pergi dulu...

Cantik, suatu saat kamu akan mengerti kenapa aku harus pergi.
Cantik, suatu saat kamu akan sadar bahwa aku memang hanya sementara, hingga engkau menemukan yang memang diciptakan untukmu.
Cantik, jangan marah. Jangan dengarkan ketika mereka bilang kamu jahat. Ketika mereka bilang kamu menyusahkan.
Cantik, jangan terus-menerus mengatakan hanya kita berdua yang sama. Tidak. Bahkan aku dan kamu yang selalu bersama, memiliki perbedaan yang begitu mencolok.
Cantik, abaikan saja. Tidak ada gunanya mendengarkan ocehan mereka yang bahkan tidak tahu apa yang mereka katakan.
Cantik, waktuku tinggal sebentar lagi. Sudah tidak mampu aku menahan tubuhku. Sudah saatnya aku beranjak.
Cantik, jangan terlalu lama bersedih. Kamu akan segera memiliki yang baru. Mungkin tidak sebaik aku. Tidak seceria aku. Tidak selalu mengikutimu. Tidak selalu menemanimu. Tidak secerah senyumanmu.
Cantik, bersabarlah sedikit. Mungkin yang di atas sana ingin kamu lebih belajar sabar lagi. Menghadapi sikap mereka yang tidak pernah puas. Menghadapi tuntutan mereka yang tidak pernah ada habisnya.
Cantik, aku pergi dulu. Masih banyak yang perlu kau perhatikan.
Tak perlu lagi bermuram, banyak yang membutuhkanmu untuk selalu tersenyum.
Cantik, berjanjilah padaku, bahwa kau akan selalu bersinar. Dan menemukan aku-aku yang lainnya.
Tenang. Mereka akan sayang kepadamu sama seperti aku. Mereka akan mengikuti kamu dari pagi hingga sore hari. Sama seperti aku.
Cantik, terimakasih sudah menjadi temanku selama ini.
Cantik, aku pergi dulu..




______________________

Seorang anak berteriak dengan nyaring.
"ibuuuu! Bunga matahari ku matiii!"


Di atas sana, sang surya muram sejenak. Hilanglah senyumnya untuk beberapa saat. Disembunyikannya wajahnya di balik awan yang tiba-tiba melintas..

Senin, 26 Maret 2012

letters to you :)

it's almost midnight when i wrote this letter.

instead got you text-ed or mentioned on any kind of SNS, i send you this letter. little bit odd, but somehow letter could be the most precious thing, because it may take your time a bit longer, but i think that give us enough time to recall all that we've done so far.

distance.
i don't want to fight it, because nothing i could change about, unless i had the doraemon's magic door or kind of time machine.
thousands miles. yeah, sounds not good in any ways. being away from each other sometimes make me sick. and these bunch of reasons came up suddenly and terrorize me with those bad ideas.
i want to leave it away. throw that dream into tempting trash can at the corner of my room.

just be strong and wait, you said.
how could i supposed to be strong while i don't have someone or even something to hold on?
how could i be patient and wait while i couldn't even guess what would happened next?

distance.
it's just nothing when your tricky mind try compared it with damn thing called timezone.
it's alright when we are apart but we might doing similar activity.
but it's not even okay when i went to bed while you up there, ready to start your day. that's not even fair, anyway.
i hate this feeling while i want to face it but what i did seems so wrong at all. seems like nothing works here.

is it okay for you if i gave it up?
is it okay for you if i ran away right now?
is it okay for you if i tried to leave it behind?

is it okay for me?

the only thing that keep me sane is the fact that you didn't promise me anything. you didn't brag me with those marvelous speech.
you set me free and let me know that you are there, might have a screwed mind like me.
you didn't say that you would always be there. neither do i.

and i remember that priceless memories. i remember that smile. i remember that laughter.
also the tears. the scars. the shouts. the arguments. the fight. so many fights.

i am not ready to say goodbye to them. i am not ready to start another scrapbook.

the fact that the new one would be so spacious and make me couldn't wait to attach so many thing right there, it doesn't have anything to look back.

doesn't have anything to learn.

now i want to told you every single things - that i was too embarrassed and shy about - that i had to keep it by myself.

i want to argue with you. i want you give me a sunflower instead a rose. i want you not to shave for several days. i want you to tease me in basketball court because i couldn't pass your defense. i want you to scold me when i did something wrong.
i want to be in the same timezone with you. i want to be in the same city with you.
i miss you who couldn't wake up early. i miss you who always had the chance to say the right thing. i miss you who change order, from americano to espresso just to make you could drink mine.
i miss you who couldn't sing well, couldn't dance well. i miss you who couldn't cook at all.
i don't want you to be mr. always right. i don't want you to be perfect.

so, call me when you got this letter finished. call me right after you've done with the last word. call me just to make me know that you're not going anywhere, that you're on the same line with me, that you're still reachable.

hold on. stay warm. keep sane. don't get sick. always be happy. i'll cheer you up from afar.

i hate saying goodbye. always.
then, see you! and let's make it soon! :)



P.S.: please, do not shave for couple days. don't forget to take a snapshot! haha! :)
P.S.S.: i still haven't got the driving license. but i dyed my hair! :P

Kamis, 15 Maret 2012

Bond

Few years after, I must have been missing this moment..

Just hold on tight, buddy! We are all ready to spread our wings..

And fly across the sky! :)

Kamis, 23 Februari 2012

Bipolar 3

Aisa lupa menutup mulutnya. Konser ini begitu megah, gegap gempita dengan permainan lighting yang begitu hebat.
Telinganya berdengung kencang, penuh dengan nada-nada enerjik yang silih berganti dengan alunan irama nan lembut. Dada nya terasa ingin pecah, gara-gara jantungnya menggedor-gedor hebat hendak keluar dari tempatnya.

Tidak sia-sia Aisa merogoh kantongnya lebih dalam. Begitu dalam. Menunda keinginan membeli kamera polaroid baru yang sudah diincarnya sedari lama.
Rasa penasarannya terbayar sudah. Melihat sosok idolanya dengan jarak kurang dari 10 meter. Mendengar suaranya secara langsung. Menyerukan namanya tak kalah kencang dibanding gadis-gadis lainnya.
Aisa melambaikan tangannya tinggi-tinggi, berharap pria itu melihatnya barang sedetik, kemudian bermurah hati membalasnya dengan senyum simpul.
Hatinya sedikit miris terbuai iri hari, melihat mereka yang di barisan depan dapat bergantian menyentuh tangannya walau hanya sekejap.
Ah, seharusnya aku datang beberapa jam lebih awal! Begitu keluhnya dalam hati.

5 jam tampak belum cukup bagi Aisa. Namun di lubuk hatinya dia tahu, kepuasan sudah hinggap disana meskipun tidak banyak. Airmata bahkan sempat mengalir kecil menuruni pipinya, meninggalkan jejak kebahagiaan yang siap ditukar Aisa dengan apapun demi mendapatkannya.
Saat berjalan menuju halte bus terdekat, dikeluarkannya handphone canggih hadiah ayahnya karena prestasinya begitu menganggumkan si semester yang lalu.
Sosial media dan teknologi internet begitu membantu bagi pecundang sepertiku, memberikan kesempatan bermimpi lebih jauh, menampilkan kedekatan semu yang sudah lebih dari cukup bagiku, begitu gumam Aisa sendirian.
"What a great concert, @pisa00 :D see you soon! Have some rest you there!!"

Sudah cukup, mention singkat untuknya adalah hal terbaik yang bisa kulakukan sebagai seorng hopelessly romantic, kata Aisa dalam hati.

Kaos biru muda kesayangannya yang dia pakai mulai berubah warna, keringatnya membasahi bagian depan dan juga belakang. Kakinya dilangkahkan dengan gontai ke atas bus berwarna merah itu. Dihempaskannya badannya yang mulai lelah ke atas kursi dingin di dalamnya. Melemparkan pandangan ke luar jendela. Jauh. Sangat jauh.






______________________

Pria itu duduk sambil memegang handuk di tangan kirinya dan botol air mineral di tangan kanannya.
Diletakkan handuk kecil itu di atas bahunya, membuat tangannya bebas meraih telepon seluler dari saku celananya.
Hatinya berdebar saat melihat rangkaian huruf yang tampak di layar teleponnya.
Seorang pria menghampirinya, duduk d sebelahnya dan meraih handuk di bahunya.
"Kata Kole, tadi lo bisikin dia kalo Aisa nonton?"
Mendengar pertanyaan itu, dia diam saja. Alih-alih menjawab, dia memeberikan teleponnya kepada kawannya.
"What a great concert, @pisa00 :D see you soon! Have some rest you there!!"

"Bales dooong! Dari dulu kalo dimention dia bisanya cuma pamer sama anak-anak, habis itu jejeritan ngga tidur semaleman. Kenapa tadi ngga ditarik ke atas panggung aja sekalian?"
Menghela nafas, kemudian terbata menjawabnya pelan,
"Jangankan buat bales, buat sekedar ngelihat ke arahnya aja gue ngga berani, bro.. Iya gue tau gue bego, tapi gue ngga mau dia kenapa-napa.. Lo ngga liat cewek-cewek di barisan depan tadi? Beringasnya ngalahin macan puasa! Cantik sih... Tapi kalo mereka-mereka tahu gue bales mention Aisa, cewek itu bakalan jadi bulan-bulanan! Narik ke panggung? Pulang-pulang bisa jadi perkedel buat lauk makan malem kita!"

Temannya tertawa pelan. Menggumam tak jelas, menepuk pundaknya, dan pergi sambil meyakinkan dirinya sendiri anggota band nya yang satu ini sangatlah baik hati dan perhatian hingga tidak mau melukai perasaan orang lain.

Dalam diamnya, Pisa menyesal. Berharap memiliki sedikit keberanian untuk sekedar melambai dan tersenyum pada gadis berkaus biru muda yang sudah kelelahan melompat-lompat sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi di atas lautan kepala manusia..



_________________________________
I wanna hold your hand..
I wanna kiss your lips..
I wanna fallin' in love with you..
Must be beautiful lovely day..

Rabu, 01 Februari 2012

CHAPTER 02. part 5.

Bau tanah selepas diguyur air selang andalan Mang Uji membangunkanku pagi ini. Ah, hidungku rupanyaa sudah tidak mampet lagi. Tapi mataku masih berat, sama seperti tiga hari terakhir.

Aku jarang sakit. Namun sekalinya dihantam flu, butuh minimal satu minggu untuk membuatku mampu menyentuh laptop lagi. Kucoba untuk mengangkat kepala. Pusing bukan main. Kuingat kata ibu semalam,
"Ngga ada hujan, ngga lagi banyak kerjaan, kamu pasti banyak pikiran.. Sampai-sampai makan ngga bener, bukan jatah begadang juga milih melek berjam-jam.."
Aku bisa menambah beberapa fakta lagi. Sahabat-sahabat super kacau ku tidak ada yang sedang sakit. Bahkan mereka semakin getol ikut yoga dan pilates karena Ence menjanjikan tubuh seksi di akhir sesi nanti. Artinya, tidak mungkin bibit runny nose ini berasal dari mereka. Dan fakta paling penting disini yang menjadi bukti otentik penyebab tumbangnya seorang Gendis adalah Radit and I officially had haven't met each other for a month.

Masa bodoh dengan kecanggihan teknologi yang selama ini kami jadikan tumpuan. Kesabaranku ternyata tidak sejauh itu. Kuputuskan tidak menghubungi Radit sama sekali setelah panggilanku disahut oleh Betari. Aku tidak tahu apakah pesanku sudah sampai atau tidak. Entah Radit benar-benar marah atau aku yang kepalang gengsi.

Aku terbatuk, sakitnya bagai menggigit tenggorokanku. Kuraih gelas air yang ada di meja sebelah kasurku. Kosong. Kulihat dengan sudut mataku, sesosok laki-laki entah duduk entah tertidur di atas beanbag kesayanganku. Tidak jelas, kabur, kacamata sudah jauh dari jangkauan, apalagi lensa kontak.

Ah, Mota pasti semalem repot banget bantuin kompres jidat gue.
Setengah kesal aku menyingkap selimut tebal yang membungkusku tiga Hari ini. Baru saja aku menyentuhkan kaki di atas lantai, seseorang setengah terburu meraih gelas di tanganku dan keluar dari kamar.
"Motaaaa.., gue ambil sendiri ajaaa.. Pasti lo capek semalem kompresin gue.." kataku pelan, peduli setan Mota dengar atau tidak.

Kuambil kotak tissue d sebelah bantal. Hariku dimulai (lagi) dengan hidung beler dan tenggorokan perih.
Aku mulai menunduk, berusaha sekuat tenaga mengeluarkan seluruh ingus yang mengganggu pernafasan. Kulihat ember di dekat kaki tempat tidur. Sebegitu parah kah sakitku hingga ibu dan Mota harus menyediakan ember muntah untukku?

Aku benci rumah sakit. Tapi tampaknya mau tak mau aku hrs menelepon dokter langganan Sati.
Detik berikutnya segelas air terulur ke arahku. Segera kuraih dan kuteguk untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokanku. Hangatnya air bagi memijat perlahan mulut dan bagian dalam leherku.
Kuletakkan gelas, kuangkat kepala beratku, dan terpana aku melihat pemandangan yang ada di depanku.

"Mota dimana?"
Radit duduk di sebelahku,
"Aku suruh pindah tidur di kamarnya. Mukanya udah lecek banget. Tadi ketiduran di atas situ sambil tangannya masih pegang kain kompres." Kuraba keningku, samar terasa basah.
"Kamu mau sarapan apa? Bubur atau pisang? Tadi Ibu bilang di kulkas ada pisang sama pepaya.. Aku juga bawa bubur dari Diandra.. Perut kamu udah ku.."
Aku menghambur setengah menubruknya. Menghirup kuat-kuat aroma parfum andalannya sebisa mungkin. Kusandarkan kepalaku yang semakin berat di dadanya. Tempat favoritku menumpahkan air mata tiga tahun terakhir ini. Kurasakan tangannya yg hangat menyentuh puncak kepalaku Dan mengelus lembut punggungku yang lemah.
"Aku juga kangen banget, Gege.. Maafin aku yaaa.."

Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Memperburuk keadaan, membuatnya semakin terasa mau lepas dari leherku. Kupeluk Radit lama. Begitu lama, tanpa sepenggal kata pun keluar dari mulutku. Radit sudah tahu apa yang ingin kukatakan. Radit pasti tahu apa yang akan kukatakan. Selalu tahu.

Radit melepaskan pelukannya setelah hampr sepuluh menit berlalu dalam kesunyian, "Kamu nyandar lagi, gih.."
Dia lalu membantuku masuk ke dalam selimut. Memasang bantal di belakang punggungku. Membantuku duduk diatas kasur senyaman mungkin.

"Kamu mau sarapan apa?"
Radit bangkit perlahan. Namun kuraih tangannya. Menahannya tetap berada di sini. Aku menggeleng lemah, kupegang erat tangannya. Radit cuma menggeleng heran. Dia kemudian menggeser badanku, ikut bersandar pada kepala tempat tidur. Reflek kusandarkan kepalaku di bahunya yang sangat kurindukan. Kutahan air mata kuat-kuat agar tidak tumpah saking girangnya.

Radit mulai bicara, yang terdengar bagai dongeng di telingaku. Kudengarkan dengan seksama, tidak mau terlewat satu bagian pun. Radit bercerita tentang kerjaannya. Tentang kakak-kakaknya. Kucing tetangga yang suka numpang buang hajat di halaman rumahnya. Kesibukannya. Kucing-kucingan dengan Mota menanyakan keadaanku. Hari-harinya melewati kantorku tanpa berhenti di lobby seperti biasanya. Serta yang membuatku terharu, kesal, dan ingin tertawa sekaligus meski menggerakkan satu otot pun aku kerepotan, saat Radit mengatakan rindu berdebat denganku. Kesepian mampir sebentar membuatnya bingung akan dikemanakan marah dan senangnya.

Mataku terpejam, sudah hampir tertidur lagi. Ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi, kali ini kudengarkan kata-katanya lebih seksama.
"Iya, Yie?"
"Ini di rumah Gendis. Sampe malem mungkin kayanya. Kenapa gitu?"
"Oh, ada masalah lagi? Ya ngga papa sih kalo mau cerita, area you okay with texting? Nanti gue teleponnya kalo misalnya udah luangan dikit gitu.."
"Ya ngga enak aja dong sama Gendis.."
"Kan nanti dibales, Ayie. Kalo mau lo ke sini deh, gue kasih alamat rumah Gendis."
"Ngga bisa.."
"Lo ngertiin dikit dong, Gendis lagi sakit, Yie. Makannya ngga bener, udah ngga ngantor tiga hari.."
"Dih. Gendis lagi istirahat sekarang, buruan kalo mau cerita.."

Ayie. Betari. Lagi.
Kututup mata serapat mungkin, namun telinga setajam-tajamnya.
Kupererat tanganku yang melingkar pada lengan Radit yang duduk disampingku, dalam hati mempertegas kepemilikan atas pria ini..

Kamis, 26 Januari 2012

yellow :)














all images are taken from here.


I prefer calla lily for wedding decoration, back in high school time. more than roses. but lately, I had decided that sunflowers got their own charm which attracts me soooo bad!

"The way they move their massive heads to meet the sun make them a flower of spiritual attainment, flexibility, and opportunity. They are also symbolic of good luck, wealth and ambition. Give sunflowers away to someone who is working toward a goal and needs a big break in their lives. They are also an excellent housewarming gift as the receiver embraces new opportunities in the form of hearth and home."

its uniqueness is irresistible. its petals are drown me into the most yellowish feeling ever. nothing gonna be able to brighten your day more than it could.
I'm a playful person. I respect every single steps in wedding ceremony, but I also want it to be fun and could make every guests in that occasion as happy as I would.
well, for me, yellow is the new white. and sunflower is the new rose, likely.

romance isn't always related to candle light dinner, a rose bucket, a limo in front of your house, pinkish, serenades, a diamond, a kiss, or a love letter.
for me, romance is simple, as simple as a smile on someone's face when you gave a little surprise like breakfast in the morning. :)



*written while listening Sunflower by Super Junior :)



Sabtu, 14 Januari 2012

dear, swani.. :)







*udah liat kyuhyun bawa bunga kan?
*udah liat kyuhyun bawa kado kan?
*udah liat kyuhyun bikin lope2 pake tangan kan?
*udah liat kyuhyun bikin tempelan lope2 di dinding kan?
*udah liat kyuhyun dengan setia duduk nungguin lo kan?
*naah, skrg anggep aja ini kyuhyun yg ngomong! haha :D


happy birthday sayaang!!
wish you all the super best! hihi! semoga cita-citanya tercapai! semoga taon ini kita bisa lulus bareng amiin! trus taon depan liburan ke seoul cari tiket murah kabur kesana sama @andriands juga! amin! haha!

jangan males lagi, udah tuaaaaa. udah 22! haha! ngga boleh sensi lagi, dan semoga bisa sekurus kala pertama masuk arsi! hihi! awet-awet sama daniel yaa, jgn berantem mulu! jgn dibanding2in sama kyuhyun mulu, ngga nyampe! hahaha!

apa lagi yaa? gue bingung sih sebenernya mau nulis apa lagi. beda sama andrian, dia mah banyak yg bs dihina, jd enak nulisnya hihi! *udah bukan post ttg dia, tp tetep dibawa-bawa haha, pisss :D

aku mau curhat aja deh! aku stress ngerjain skripsi! trus inget kmu mau ulang taon. iseng deh. lagian aku lagi bokek ngga punya duit. tau sendiri, niat bertemu calon suami ternyata butuh biaya besar ya kan yaa.. haha!

jadi, aku kasih ini aja yaa. semoga menghibur! wkwkwkwk. sebagai anak arsi yang baek, gue harus bs dong mengaplikasikan kemampuan ber-photoshop gue.. haha! maap yaah, cacat nya tingkat dewa! ngga secanggih opa jeki ni :P

have a blast yaaa, dear! thanks for being in this world so i can find someone to laugh with and cry on! stay stunning, stay young, stay alive! jangan lupa sama gue kalo elo udah tua nanti yaaa!!

i looove you more, bebiii!! smooch!!

- aya :)
*gajadi kyuhyun hihi


   
bersama bapak ibu mertua :p

sukira!! :D

SPAO limited edition haha!

eng, gue ngga tau mau caption in apa hihi

happy birthday, cantik!! :)

Sabtu, 07 Januari 2012

soulmate

I see you standing there
Watching you breathing my air
Holding hands with some one else
Feel this love
That I bare

Why you said your love to me want ever die
When you know that is only a lie
Why you make me trust
That is love not a last
Days were gone
I'm still standing there

To love you is something that's true
No one can tell me that what I can do
To love you forever just you
To lose a tears drink the water from you

Do not wanna deny our fight
We one another soulmate
The promise we made

They tell me the love we had
Should not even by any reason
Making my life more complete


- What They Called Soulmate, Agnes Monica


melihatnya dengan gaun putih itu adalah impian yang akhirnya menjadi kenyataan.
melihatnya menutupi pipinya yang memerah dengan buket bunga lili itu membuatku seperti bertemu seorang malaikat.
melihatnya dengan jelas di depan altar membuatku yakin bahwa tuhan tidak pernah bercanda ketika menciptakan cinta.
melihatnya menangis bahagia memberikanku kekuatan untuk melanjutkan hidup.


love will find its own way to find you. if it's meant to be, then it would. if it isn't, then just let it go.

melihatnya menatapku di bangku gereja dengan senyumnya yang paling cantik adalah hadiah perpisahan terindah bagi seorang aku..

Selasa, 03 Januari 2012

we are perfect :)



Made a wrong turn, once or twice
Dug my way out, blood and fire
Bad decisions, that’s alright
Welcome to my silly life
Mistreated, misplaced, misunderstood
Miss ‘No way, it’s all good’, it didn’t slow me down
Mistaken, always second guessing, underestimated
Look, I’m still around

Pretty pretty please, don’t you ever ever feel
Like you’re less than less then perfect
Pretty pretty please, if you ever ever feel like you’re nothing
You are perfect to me

You’re so mean, when you talk about yourself, you were wrong
Change the voices in your head, make them like you instead
So complicated, look happy, you’ll make it
Filled with so much hatred… such a tired game
It’s enough! I’ve done all I can think of
Chased down all my demons, I’ve seen you do the same

Oh, pretty pretty please, don’t you ever ever feel
Like you’re less than less than perfect
Pretty pretty please, if you ever ever feel like you’re nothing
You are perfect to me

The whole world’s scared so I swallow the fear
The only thing I should be drinking is an ice cold beer
So cool in line, and we try try try, but we try too hard and it’s a waste of my time
Done looking for the critics, cause they’re everywhere
They don't like my jeans, they don’t get my hair
Exchange ourselves, and we do it all the time
Why do we do that
Why do I do that
Why do I do that..?

Yeah, oh, oh baby, pretty baby
Pretty pretty please, don’t you ever ever feel
Like you’re less than less than perfect
Pretty pretty please, if you ever ever feel
Like you’re nothing, you’re fucking perfect to me
You’re perfect, you’re perfect!
Pretty pretty please, if you ever ever feel like you’re nothing
You are perfect to me…


have you ever been feeling low? have you ever been feeling miserable?
have you ever been being nothing?
we might had thought once or twice before, that we were nothing. that we were worse than other. that we weren't capable done anything amazing, anything great.

it's hard to reset our mind map. it's not quite easy to being proud of ourselves. but The Almighty One has a greatest plan for each His kids. look around us. there are so many people that might haven't get the opportunity as we did. haven't been this good as we are.

all we have to do is just be thankful every single day. we are perfect for ourselves. we are born in a purpose. we are important part of His massive plan..
just like a smart gag said:

"nobody is perfect. i am nobody. well, then i am perfect!"


be strong, i am an outsider just like everyone! :D