Hampir dua minggu sudah. Aku tidak berbicara dengan Radit. Betapa rindu aku mendengar suaranya yang sangat mengganggu itu. Tapi sebagai gadis keras kepala yang baik, tingkat gengsi ku seperti biasa, sudah berada di level yang cukup tinggi.
Komunikasi kami benar-benar hampir terhenti. Kecuali dengan tingkat kedewasaan yang terus berkembang, kami masih saling mengingatkan makan, minum obat, atau berdoa. Thanks God, there's text message service! Jadi meskipun sampai detik ini tidak ada salah satu dari kami merelakan diri memulai pembicaraan atau bahkan meminta maaf, setidaknya kami masih saling berkirim pesan singkat.
Pesan singkat dalam arti yang sebenarnya seperti: 'Jangan lupa makan', 'Jangan kebanyakan kopi', 'Minum air putih', yang berbalas 'Oke' dan 'sudah'. Teknologi memiliki peran yang penting dalam hubungan yang tidak jelas yang kami miliki dan pelihara hampir 3 tahun ini. Jangan salah, kami sama seperti para ABG labil di luar sana. Bahkan semakin mirip di usia yang semakin tua.
Meskipun dengan komunikasi super aneh dan jadwal bertemu yang ogah-ogahan, tidak pernah sekalipun aku meragukan kesetian seorang Radit.
Tidak barang semenit pun. Meskipun bukan tidak mungkin orang semapan dan
semenarik Radit tidak memiliki keinginan untuk selingkuh. Radit adalah salah
satu dari ribuan makhluk yang memberi tanda cek pada kolom laki-laki yang
mengetahui betapa menarik dirinya.
Radit selalu bilang dirinya tidak ganteng, selalu bilang 'ah, nggak' atau 'bisa aja' kalau ada orang berkata 'Radit, kamu kok ganteng banget, sih'. Tapi selalu sadar dan langsung jadi orang paling cool dan berstempel 'paling-tampan-sedunia' kalau beberapa perempuan di meja seberang mencuri-curi pandang ke arahnya dan berbisik sambil terkikik pelan. Dia adalah orang yang sangat berbeda ketika berkumpul bersama teman-teman lelakinya dan saat menemaniku pergi ke pesta. Biasanya aku begitu emoh untuk sekedar melirik laki-laki yang sadar muka, tetapi untuk yang satu ini, aku sudah dipaksa untuk mengalah dan memilih berjalan di sebelahnya menghabiskan sisa hidup yang nggak tahu masih seberapa lama diberikan sama yang di atas sana.
Dengan penampilan santai namun tetap terkesan charming dan gentleman, Radit mampu membius gadis-gadis ABG, wanita karir, bahkan pembantu di rumahnya yang meskipun sudah beranak dua masih mengidolakan Mas Radit-nya sehingga tidak pernah absen menyediakan secangkir kopi saat tuannya itu pulang ke rumah, entah itu diminta atau tidak.
Radit selalu bilang dirinya tidak ganteng, selalu bilang 'ah, nggak' atau 'bisa aja' kalau ada orang berkata 'Radit, kamu kok ganteng banget, sih'. Tapi selalu sadar dan langsung jadi orang paling cool dan berstempel 'paling-tampan-sedunia' kalau beberapa perempuan di meja seberang mencuri-curi pandang ke arahnya dan berbisik sambil terkikik pelan. Dia adalah orang yang sangat berbeda ketika berkumpul bersama teman-teman lelakinya dan saat menemaniku pergi ke pesta. Biasanya aku begitu emoh untuk sekedar melirik laki-laki yang sadar muka, tetapi untuk yang satu ini, aku sudah dipaksa untuk mengalah dan memilih berjalan di sebelahnya menghabiskan sisa hidup yang nggak tahu masih seberapa lama diberikan sama yang di atas sana.
Dengan penampilan santai namun tetap terkesan charming dan gentleman, Radit mampu membius gadis-gadis ABG, wanita karir, bahkan pembantu di rumahnya yang meskipun sudah beranak dua masih mengidolakan Mas Radit-nya sehingga tidak pernah absen menyediakan secangkir kopi saat tuannya itu pulang ke rumah, entah itu diminta atau tidak.
Namun seorang Radit tampaknya akan lebih memilih membius pekerjaan
daripada gadis baru untuk diselingkuhi. Meskipun terkesan sadar muka, yeah, he’s another workaholic. Now.
Dulu? Dia bahkan tidak bermimpi untuk terjaga jam dua malam demi menyelesaikan
proposal design iklan yang dirancang timnya.
Dari situlah, tidak pernah sejenak pun aku merasa terancam akan kehadiran wanita idaman lain yang mampu memuaskan matanya yang mungkin sudah kelelahan menatap layar komputer. Hingga akhirnya buruh-buruh ibukota ini melontarkan pertanyaan-pertanyaan setara wartawan gosip yang mampu membuat rumah tangga pasangan selebritis retak ditempat.
Dari situlah, tidak pernah sejenak pun aku merasa terancam akan kehadiran wanita idaman lain yang mampu memuaskan matanya yang mungkin sudah kelelahan menatap layar komputer. Hingga akhirnya buruh-buruh ibukota ini melontarkan pertanyaan-pertanyaan setara wartawan gosip yang mampu membuat rumah tangga pasangan selebritis retak ditempat.
"Tolong dong Ence, itu TV lo di ganti KBS World, please. Udah jam satu nih!" teriak Kinar mendadak setelah, tampaknya, membaca pesan singkat di telepon genggamnya.
"Dih, tumben amat, lo! Biasanya dikasih Fashion TV sama popcorn juga udah ngga beranjak!" Masih heran, aku tetap memberikan remote yang ada di dekat ku ke arah Ence. Dan begitu channel berpindah, Kinar mendadak berteriak kencang tanpa peduli teman-temannya masih membutuhkan telinga untuk mendengar.
"Anjrit, telinga gue woy! Bukan microphone!" Ence tampak gusar, "Kalo sampe gue diusir dari sini, lo bertanggung jawab nyariin gue tempat tinggal yang senyaman ini!"
"Aduh, sorry, deh, sorry! Ini laki kagak nahan deh demi demi! Mau deh gue dinikahin sekarang juga kalo sama dia!"
"Itu mah elo yang ngarep!! Dasar gembel! Mana ada yang nolak kalo dinikahin cowok macem itu? Inget umur tanteeee!! Jelas namanya aja Super Junior! Sementara elo senior nya senior!" sembur Nora kesal, tapi tetap ikut duduk di sebelah Kinar menikmati 'surga dunia' versi mereka.
"Siapa sih ini?" tanya Anet sambil membetulkan letak kacamatanya yang sangat tidak perlu dibenahi, gue yakin banget cuma biar keliatan pinter aja tuh.
"Namanya Choi Siwon. Personil Super Junior paling ganteng! Dan yang lebih penting paling tajir! Lo inget ngga, Ce! Waktu kita ke Korea gratisan itu terus kita ke Hyundai Department Store gara-gara tulisan sale segedhe dosa itu? Punya bokap doi, nih!! Gue ngga peduli dia tiga tahun lebih muda dari gue!!" Kinar tidak berhenti menunjuk-nunjuk layar televisi.
Ence dan aku segera menelengkan wajah ke arah televisi.
"Betapa dunia nggak adil. Sementara gue sibuk cari jati diri dan pasangan hidup, ada aja orang masih muda udah tenar dan banyak duit sedari lahir," Ence berkata dengan nada bercampur sedih, iri, dan setengah naksir.
"Satu lagi, Ce! Setia! Ngga pernah selingkuh! Gila ngga tuh?" Kinar makin menggebu-gebu. Mungkin kalau televisi itu miliknya, layarnya sudah basah diciuminya dengan nafsu.
“Astaga, demi apa, sampe segitunya elo tau seluk beluk kehidupan doi? Jago amat ni si Anet nularin Kinar yang beginian. My Tough Lady jadi nontonin yang beginian! Anyway, ngomong-ngomong setia, lo nggak takut gitu, Ge? Suatu saat lo menemukan Radit lagi
gandengan mesra abis ngalahin Jolie-Pitt ato pasangan muda macem Justin Bieber-
Selena Gomez?” Ence si tukang gosip lagi-lagi sukar menyegel mulutnya yang
penuh dosa. Bagaimana mungkin dari artis Korea dia bisa melipir ke hal-hal beginian?
“Nope,” jawabku singkat tanpa mengalihkan pandangan dari
majalah pernikahan yang diboyong Anet jauh-jauh dari salon langganannya.
“Radit kan ganteng, Ge! Banyak yang doyan! Lagian status
kalian sekarang super nggak jelas gitu.. Ditambah apaan tuh, nggak ngobrol dua minggu, cuma texting bego kaya orang baru kenal handphone. Mana ada jaminan Radit bakalan
ngawinin elo?!” Ence mulai menjelma menjadi petasan kawinan khas Betawi.
"Banyak yang doyan termasuk elo maksudnya? Itu sih gue ngga perlu khawatir, Ce! Radit juga bisa bedain mana yang body nya asli mana yang jadi-jadian!" celetukku asal yang menciptakan kerutan-kerutan aneh di wajah Ence.
"Banyak yang doyan termasuk elo maksudnya? Itu sih gue ngga perlu khawatir, Ce! Radit juga bisa bedain mana yang body nya asli mana yang jadi-jadian!" celetukku asal yang menciptakan kerutan-kerutan aneh di wajah Ence.
“Kawin sih pasti bisa, Ce.. Nikah itu yang belum tentu.. Ya
nggak, Ge?” goda Nora sambil mengangkat jarinya tinggi-tinggi, berpura-pura melihat hasil
karya nail art kuku kebanggaannya. Kinar dan Anet terkikik pelan di depan televisi sebelum
kulemparkan lirikan ganas yang akhirnya membuat dua wanita itu segera fokus dengan si ganteng Choi Siwon, anyway untuk sekali ini selera Kinar bisa kumaklumi, sebelum kulempar dengan bantal.
"Ribet amat deh kalian ngurusin gue, dibayar juga nggak. Jangan-jangan ada konspirasi nih sama emak gue yang nanyain mulu kapan gue nikah?"
Kuikat rambutku tinggi-tinggi. Tiba-iba gerah sendiri. Betapa akhir-akhir ini dunia menurutku dengan begitu rempongnya, mengurusi tetek bengek hubunganku dengan Radit. Rasanya justru ingin tertawa hingga sakit perut. Begitu banyak yang ingin tahu apa yang terjadi, bagaimana kelanjutannya, kapan dibawa ke jenjang berikutnya, dan bla bla bla. Tetapi tidak satupun yang menyadari bahwa pertanyaan mereka nyaris sama dengan pertanyaan terpendamku untuk Radit.
Masih teringat saat itu, ketika untuk pertama kalinya aku bertemu dengan orang bernama Radit ini. Ketika itu betapa aku ingin melempar tumpukan kertas yang kubawa ke arahnya karena seenak jidat menabrakku hingga pekerjaanku terlempar dengan sempurna jatuh ke lantai, dan melenggang setengah berlari. Setelah tidak tidur selama 3 hari, otakku benar-benar kacau dan susah diajak bersabar. Berjuta rutukan keluar dari mulutku. Cowok goblok, idiot, anjing, ngga tau sopan santun, brengsek, ngga tau orang lagi capek, bego, kurang ajar, sembarangan, ngga punya mata, dan berbagai isi kebun binatang lainnya.
Entah suaraku yang terlalu keras, pendengaran Radit yang super sonik, atau mungkin dia dibisiki malaikat baik hati, dia tiba-tiba kembali dan membantuku membereskan kertas sambil berulang kali minta maaf. Saat itu setengah gusar setengah marah, aku menerima bantuannya, sambil meneruskan rutukan di dalam hati. Selesai membereskan harta benda yang telah kuperjuangkan seminggu ini, tiba-tiba dia berkata panjang lebar hampir-hampir tidak bisa kupotong.
"Maaf, ya! Tadi gue buru-buru! Nggak maksud nabrak, deh, bener! Tadi gue ngelihat ada orang mirip bokap gue lagi sama perempuan. Gue kira dia udah nikah lagi akhirnya. Maklum, gue masih emosi. Lo tau sendiri kan kalo orang emosi gimana? Tadi gue lari dari depan sana! Takut bokap gue keburu ngilang gara-gara gue! Eh udah capek-capek ternyata bukan bokap gue! Bego banget ya! Haha!"
Dalam hatiku saat itu, 'Siapa elo sih? Bawel banget ketawa garing pula. Astaga!'. Mungkin saat itu wajahku sudah setengah melompong, kaget, belum ada dua bulan akhirnya kuterima pekerjaan sebagai junior arsitek, disembur seorang laki-laki sebegitu cerewetnya dan tanpa tedeng aling-aling membuka aib keluarganya pada orang yang tidak dikenal.
"Oh iya, Rahaditya! Kerja di sini juga?" katanya kemudian sambil mengulurkan tangannya, mungkin sebagai permintaan maaf atau gara-gara melihat wajah memelasku.
Cukup kaget, baru kemudian kupindah kertas-kertasku ke tangan kiri dan menjabat tangannya, yang ternyata aduhai, itu tangan halusnya parah banget! Sampai-sampai aku menuduh orang ini pemalas.
"Eh, Gendis. Nggak, disini mau anter gambar klien aja."
"Arsitek, eh? Hmmm. Boleh boleh. Mau ke lantai berapa?"
Saat itu aku tidak menjawab karena tiba-tiba disibukkan dengan telepon yang berdering dan demi melihat nama yang muncul di layar harus kuangkat sesegera mungkin. Aku berbicara cukup lama. Mungkin ada kali sepuluh menit.
"Jadi mau ke lantai berapa?"
Pertanyaan itu lagi. Aku terheran-heran. Ngapain ni orang masih di sini? Aku pikir laki-laki yang satu ini akan segera minggir jauh-jauh.
"He?!?" Aku sangat yakin. Wajahku saat itu pasti mirip kambing mabok kebanyakan minum pocari sweat. Iya, absurd emang.
Dan laki-laki itu tertawa. Menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Gue nanya, elo mau ke lantai berapa.. Gitu amat deh kaya diajak kawin! Selooow aja kali.."
Untuk saat itu habis sudah kesabaran yang sedari tadi kuirit-irit. Dengan langkah seribu kutinggalkan laki-laki super aneh ini dan melenggang cepat-cepat sebelum dia membuka mulut busuknya sekali lagi.
Entah jodoh entah celaka, klien yang satu ini ternyata menyukai hasil pekerjaanku. Dan semenjak saat itu aku semakin sering ke kantornya untuk membahas setiap detail progress proyek yang kutangani. Dan semenjak saat itu pula, aku semakin terbiasa dengan senyum bodoh seorang lelaki yang mengetahui rutinitas kedatanganku ke kantor itu dan menunggu dengan setia di kafetaria yang kusambangi setelah selesai berdiskusi dengan klien.
Dari senyum bodoh, kemudian milk tea ice, dilanjutkan suatu hari aku ke sana tetapi tidak ada senyum bodohnya. Kebetulan hari itu aku sedang frustrasi, jadi ketidakhadirannya cukup membuat pikiran lebih tenang, meskipun aku mulai merasa kehilangan teman bercerita dan berkeluh kesah, menumpahkan unek-unek tentang klien yang sangat menyebalkan. Baru saja kutempelkan pantatku di bangku berwarna biru itu, seorang pelayan datang meletakkan segelas milk tea ice dan secarik kertas.
"Dari temannya, Mbak.. Minta maaf nggak bisa nemenin, soalnya katanya mau keluar kota seminggu.."
Temen gue yang mana ya? Genk berisik ngga ada yang rencana pergi deket-deket ini. Tidak ada diskon besar-besaran di negara seberang, sangat bisa dipastikan pula Kinar dan Ence akan berada di Indonesia. Kulirik kertas yang ada di sana, dan tertera surat paling konyol yang pernah kuterima seumur hidup.
"Halo, Gendis. Milk tea ice? Maaf loh, this gorgeous man couldn't be there rite now. Maklum, idola bos jadi dikirim tugas ke luar kota. Kalo masih kesepian, telepon aja. Om Girang siap menemani! - Radit"
Di bawah tanda tangan super absurd itu kutemukan nomor hape gratisan. Mau tak mau, kuseruput minuman di hadapanku sambil tersenyum sendiri. Peduli setan ini minuman ternyata isinya racun atau obat bius. Entah apa yang terjadi selama hampir 3 bulan ini, aku akhirnya mengirim pesan super singkat: "Lagi sibuk apa, Om? - Gendis" yang kemudian berbalas telepon, lalu pesan lainnya, ditambah telepon pagi-pagi buta, kemudian pesan singkat di sela-sela deadline, dan oleh-oleh yang tidak kalah konyolnya yang menantiku dua minggu berikutnya.
Voila, semenjak itu aku tidak pergi ke kondangan sendirian. Tidak pergi ke gereja sendirian. Tidak mengantar ibu ke pasar sendirian. Tidak memesan makanan melalui drive thru karena ada yang menemani makan ditempat. Tidak malas mandi karena ada yang sudah menunggu di depan pintu. Tidak sendiri di dalam mobil saat hujan.
Sejenak aku terdiam dan berpikir, apakah semua kenangan ini layak dibalas dengan tindakan bodoh saling berkirim pesan singkat tanpa mau mengalah dan memafkan diri sendiri? Sudah gilakah aku? Atau begitu laparnya kah aku hingga tidak mampu sadarkan diri? Berapa shot yang kuteguk akhir-akhir ini?
"Hoi, perawan tua! Bangun lah! Gimana mau dapet jodoh kalo hobinya melamun aje?" semprot Anet tiba-tiba.
"Iya, nih! Gue tanya mau nikah atau nggak, malah bertapa!" Ence tak mau kalah.
"Gue bego ya?" ucapku lirih, masih menyempatkan diri bertanya pada mereka.
Kinar lalu mematikan televisi, mungkin sudah puas menatap artis idolanya. Dia beranjak duduk di depanku. Menyeret tasku dan mengeluarkan handphone dari dalamnya.
"Elo emang bego. Tapi gue ngga peduli karena pada dasarnya elo selalu bego dan gue juga ngga pinter-pinter amat. Jadi tolong, elo ngga perlu lagi gengsi atau sok jual mahal. Mau berapapun tarif yang lo pasang, Radit definitely can buy! Gue paham banget kalo elo capek. Ngga semua orang punya hubungan sempurna. Bahkan Snow White harus rela keselek dan mati suri sebelum dapet cowok ganteng. Here, please, chase your future.."
Kinar mengulurkan handphone itu, memaksaku menggenggamnya dan berpikir kembali. Perempuan di depanku ini menatap dalam-dalam ke mataku. Dia memang bukan wanita sempurna. Dia adalah gadis konyol yang terjebak di tubuh seorang wanita karir yang setengah matre dan gila belanja. Dia adalah perempuan yang mendesain baju untuk orang lain tetapi memilih kaos polos untuk dipakai sehari-hari. Perempuan yang selalu ku nasihati karena tindak tanduknya yang terlalu impulsif. Perempuan yang sudah terlalu sering menjadi objek kebawelanku.
Sekali ini, bukan aku yang menceramahi Kinar. Kata-katanya barusan jelas menghapus image penyuka berondong Korea yang muncul sebelumnya. Kutekan juga nomor itu. Debar kencang kurasakan ketika menunggu telepon itu disambut di seberang sana.
Tidak diangkat. Aku menggeleng. Kinar berkata coba lagi. Dan kali ini diangkat. Meski bukan Radit.
"Halo, Radit phone's here! Dengan siapa ya?"
Wajahku berkerut heran. Siapa gadis ini?
"Eng, Radit nya di mana ya?"
"Oh, lagi di toilet! Tadi ngga mau saya angkat, tapi telepon lagi. Mungkin penting, jadi saya jawab. Ini dengan siapa kalo boleh tau?"
"Ini Gendis." Ingin kusebut lagi statusku, namun urung, karena bahkan aku pun tidak tahu siapa diriku bagi Radit sekarang ini.
"Ooooh, Mba Gendis.. Ini Betari, Mba.. Radit lagi ke toilet.. Ada pesen?"
"Oh, Ayie. Hmm. Nggak, deh! Nanti aku telepon lagi, bilang aja tadi Gendis telepon."
"Oke! Disampaikan pasti!"
"Makasih, ya.."
"Sama-sama, Mba!!"
Telepon kututup. Wajah-wajah di depanku sudah berebut bertanya bahkan sebelum mulut mereka terbuka.
"Radit di toilet. Itu tadi Ayie yang angkat."
"Ayie? Lagi? Sering ya kayanya Ayie sama Radit.."
Entah apa maksud pertanyaan Kinar barusan. Tapi kulihat Ence langsung memandangku dengan tajam. Yang hanya mampu kujawab dengan diam. Sejuta rasa tiba-tiba membuncah.
Mungkin akhirnya aku bisa cemburu.
"Maaf, ya! Tadi gue buru-buru! Nggak maksud nabrak, deh, bener! Tadi gue ngelihat ada orang mirip bokap gue lagi sama perempuan. Gue kira dia udah nikah lagi akhirnya. Maklum, gue masih emosi. Lo tau sendiri kan kalo orang emosi gimana? Tadi gue lari dari depan sana! Takut bokap gue keburu ngilang gara-gara gue! Eh udah capek-capek ternyata bukan bokap gue! Bego banget ya! Haha!"
Dalam hatiku saat itu, 'Siapa elo sih? Bawel banget ketawa garing pula. Astaga!'. Mungkin saat itu wajahku sudah setengah melompong, kaget, belum ada dua bulan akhirnya kuterima pekerjaan sebagai junior arsitek, disembur seorang laki-laki sebegitu cerewetnya dan tanpa tedeng aling-aling membuka aib keluarganya pada orang yang tidak dikenal.
"Oh iya, Rahaditya! Kerja di sini juga?" katanya kemudian sambil mengulurkan tangannya, mungkin sebagai permintaan maaf atau gara-gara melihat wajah memelasku.
Cukup kaget, baru kemudian kupindah kertas-kertasku ke tangan kiri dan menjabat tangannya, yang ternyata aduhai, itu tangan halusnya parah banget! Sampai-sampai aku menuduh orang ini pemalas.
"Eh, Gendis. Nggak, disini mau anter gambar klien aja."
"Arsitek, eh? Hmmm. Boleh boleh. Mau ke lantai berapa?"
Saat itu aku tidak menjawab karena tiba-tiba disibukkan dengan telepon yang berdering dan demi melihat nama yang muncul di layar harus kuangkat sesegera mungkin. Aku berbicara cukup lama. Mungkin ada kali sepuluh menit.
"Jadi mau ke lantai berapa?"
Pertanyaan itu lagi. Aku terheran-heran. Ngapain ni orang masih di sini? Aku pikir laki-laki yang satu ini akan segera minggir jauh-jauh.
"He?!?" Aku sangat yakin. Wajahku saat itu pasti mirip kambing mabok kebanyakan minum pocari sweat. Iya, absurd emang.
Dan laki-laki itu tertawa. Menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Gue nanya, elo mau ke lantai berapa.. Gitu amat deh kaya diajak kawin! Selooow aja kali.."
Untuk saat itu habis sudah kesabaran yang sedari tadi kuirit-irit. Dengan langkah seribu kutinggalkan laki-laki super aneh ini dan melenggang cepat-cepat sebelum dia membuka mulut busuknya sekali lagi.
Entah jodoh entah celaka, klien yang satu ini ternyata menyukai hasil pekerjaanku. Dan semenjak saat itu aku semakin sering ke kantornya untuk membahas setiap detail progress proyek yang kutangani. Dan semenjak saat itu pula, aku semakin terbiasa dengan senyum bodoh seorang lelaki yang mengetahui rutinitas kedatanganku ke kantor itu dan menunggu dengan setia di kafetaria yang kusambangi setelah selesai berdiskusi dengan klien.
Dari senyum bodoh, kemudian milk tea ice, dilanjutkan suatu hari aku ke sana tetapi tidak ada senyum bodohnya. Kebetulan hari itu aku sedang frustrasi, jadi ketidakhadirannya cukup membuat pikiran lebih tenang, meskipun aku mulai merasa kehilangan teman bercerita dan berkeluh kesah, menumpahkan unek-unek tentang klien yang sangat menyebalkan. Baru saja kutempelkan pantatku di bangku berwarna biru itu, seorang pelayan datang meletakkan segelas milk tea ice dan secarik kertas.
"Dari temannya, Mbak.. Minta maaf nggak bisa nemenin, soalnya katanya mau keluar kota seminggu.."
Temen gue yang mana ya? Genk berisik ngga ada yang rencana pergi deket-deket ini. Tidak ada diskon besar-besaran di negara seberang, sangat bisa dipastikan pula Kinar dan Ence akan berada di Indonesia. Kulirik kertas yang ada di sana, dan tertera surat paling konyol yang pernah kuterima seumur hidup.
"Halo, Gendis. Milk tea ice? Maaf loh, this gorgeous man couldn't be there rite now. Maklum, idola bos jadi dikirim tugas ke luar kota. Kalo masih kesepian, telepon aja. Om Girang siap menemani! - Radit"
Di bawah tanda tangan super absurd itu kutemukan nomor hape gratisan. Mau tak mau, kuseruput minuman di hadapanku sambil tersenyum sendiri. Peduli setan ini minuman ternyata isinya racun atau obat bius. Entah apa yang terjadi selama hampir 3 bulan ini, aku akhirnya mengirim pesan super singkat: "Lagi sibuk apa, Om? - Gendis" yang kemudian berbalas telepon, lalu pesan lainnya, ditambah telepon pagi-pagi buta, kemudian pesan singkat di sela-sela deadline, dan oleh-oleh yang tidak kalah konyolnya yang menantiku dua minggu berikutnya.
Voila, semenjak itu aku tidak pergi ke kondangan sendirian. Tidak pergi ke gereja sendirian. Tidak mengantar ibu ke pasar sendirian. Tidak memesan makanan melalui drive thru karena ada yang menemani makan ditempat. Tidak malas mandi karena ada yang sudah menunggu di depan pintu. Tidak sendiri di dalam mobil saat hujan.
Sejenak aku terdiam dan berpikir, apakah semua kenangan ini layak dibalas dengan tindakan bodoh saling berkirim pesan singkat tanpa mau mengalah dan memafkan diri sendiri? Sudah gilakah aku? Atau begitu laparnya kah aku hingga tidak mampu sadarkan diri? Berapa shot yang kuteguk akhir-akhir ini?
"Hoi, perawan tua! Bangun lah! Gimana mau dapet jodoh kalo hobinya melamun aje?" semprot Anet tiba-tiba.
"Iya, nih! Gue tanya mau nikah atau nggak, malah bertapa!" Ence tak mau kalah.
"Gue bego ya?" ucapku lirih, masih menyempatkan diri bertanya pada mereka.
Kinar lalu mematikan televisi, mungkin sudah puas menatap artis idolanya. Dia beranjak duduk di depanku. Menyeret tasku dan mengeluarkan handphone dari dalamnya.
"Elo emang bego. Tapi gue ngga peduli karena pada dasarnya elo selalu bego dan gue juga ngga pinter-pinter amat. Jadi tolong, elo ngga perlu lagi gengsi atau sok jual mahal. Mau berapapun tarif yang lo pasang, Radit definitely can buy! Gue paham banget kalo elo capek. Ngga semua orang punya hubungan sempurna. Bahkan Snow White harus rela keselek dan mati suri sebelum dapet cowok ganteng. Here, please, chase your future.."
Kinar mengulurkan handphone itu, memaksaku menggenggamnya dan berpikir kembali. Perempuan di depanku ini menatap dalam-dalam ke mataku. Dia memang bukan wanita sempurna. Dia adalah gadis konyol yang terjebak di tubuh seorang wanita karir yang setengah matre dan gila belanja. Dia adalah perempuan yang mendesain baju untuk orang lain tetapi memilih kaos polos untuk dipakai sehari-hari. Perempuan yang selalu ku nasihati karena tindak tanduknya yang terlalu impulsif. Perempuan yang sudah terlalu sering menjadi objek kebawelanku.
Sekali ini, bukan aku yang menceramahi Kinar. Kata-katanya barusan jelas menghapus image penyuka berondong Korea yang muncul sebelumnya. Kutekan juga nomor itu. Debar kencang kurasakan ketika menunggu telepon itu disambut di seberang sana.
Tidak diangkat. Aku menggeleng. Kinar berkata coba lagi. Dan kali ini diangkat. Meski bukan Radit.
"Halo, Radit phone's here! Dengan siapa ya?"
Wajahku berkerut heran. Siapa gadis ini?
"Eng, Radit nya di mana ya?"
"Oh, lagi di toilet! Tadi ngga mau saya angkat, tapi telepon lagi. Mungkin penting, jadi saya jawab. Ini dengan siapa kalo boleh tau?"
"Ini Gendis." Ingin kusebut lagi statusku, namun urung, karena bahkan aku pun tidak tahu siapa diriku bagi Radit sekarang ini.
"Ooooh, Mba Gendis.. Ini Betari, Mba.. Radit lagi ke toilet.. Ada pesen?"
"Oh, Ayie. Hmm. Nggak, deh! Nanti aku telepon lagi, bilang aja tadi Gendis telepon."
"Oke! Disampaikan pasti!"
"Makasih, ya.."
"Sama-sama, Mba!!"
Telepon kututup. Wajah-wajah di depanku sudah berebut bertanya bahkan sebelum mulut mereka terbuka.
"Radit di toilet. Itu tadi Ayie yang angkat."
"Ayie? Lagi? Sering ya kayanya Ayie sama Radit.."
Entah apa maksud pertanyaan Kinar barusan. Tapi kulihat Ence langsung memandangku dengan tajam. Yang hanya mampu kujawab dengan diam. Sejuta rasa tiba-tiba membuncah.
Mungkin akhirnya aku bisa cemburu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar