Resiko punya kamar yang berbatasan langsung dengan taman. Pintu kaca nya selalu memberikan akses yang berlebih kepada sinar matahari. Sama seperti hari-hari Sabtu sebelumnya, dengan terpaksa aku harus membuka mata lebih awal dari jam bangun tidur yang direncanakan semalam. Perlu 15 menit untuk membuat otakku mulai meraba kondisi sekitar. Tapi mataku tampaknya memakan waktu yang cukup lama. Masih dengan terpejam, aku meregangkan otot-otot tangan, yang refleks justru menarik selimut yang entah sudah kutendang-tendang kemana semalam.
Aku tidak suka pake AC, membuat kamarku menjadi satu-satunya kamar yang punya kipas angin di pojok ruangan, yang semalam terpaksa tidak kunyalakan karena bekas hujan membawa angin melimpah yang membuat ku memilih tidur dengan sweat shirt buluk kebesaran milik Radit yang sudah ku stempel hak milik dari satu tahun yang lalu. Belum sempat aku selesai merenggangkan otot-otot di sekujur tubuh, Mota membuka pintu kemudian masuk dan melemparkan roti keju tepat ke arah mukaku.
"Bangun, woi! Pantesan kagak nikah-nikah lo! Gimana mau laku coba kalo perawan jam segini belum bangun?! Eh, lo masih perawan kan, Mbak, tapi?" sembur Mota sambil mengobrak-abrik meja riasku, mencari sesuatu untuk mengikat rambutnya yang gondrong itu.
Bocah yang satu ini, kadang jauh lebih bawel daripada Ibu. Jauh lebih cerewet tentang kelakuanku daripada Eyang.
"Banyak omong! Dari siapa ni roti? Tumben amat ada yang beginian. Ibu ngga masak apa?"
"Itu calon suami lo yang bawain kali! Dia udah melanglang buana beli sarapan, bayangin aja dari rumah doi ke sini, kagak malu lo?"
Demi mendengar omongan Mota barusan, segera kulempar selimut yang tadi susah payah kutarik-tarik. Kuikat rambut sekenanya. Belum sampai aku meraih gagang pintu, Mota sudah menyalak lagi.
"Udah balik doi ngga perlu heboh gitu kali! Mampir doang tadi! Kasih roti sama yoghurt! Tau banget tuh Radit caranya nyogok Ibu. Nggak tanggung-tanggung, Mbak! Pie apel masih panas udah bertengger tu di dapur!"
Dan semangatku langsung melorot. Super ogah-ogahan aku kembali ke kasur, bersandar di kepala tempat tidur sambil membenamkan badan ke dalam selimut.
"Dimakan kali, Mbak.. Udah jauh-jauh bawainnya.. Paling ngga kan udah ada niat dia bela-belain ke sini anter sarapan.."
"Iya, buat Ibu. Nggak buat gue. Buat elo! Ketemunya sama elo."
"Elaaah, timbang ngga ketemu doang. Kaya cuman sekarang bisa ketemunya.. Telepon, gih!"
Mota melepaskan ponselku dari charger-nya kemudian menyodorkan ke depan mukaku.
"Ngga usah gengsi lo, Mbak! Sopan dikit, bilang makasih! Gue minggir dulu deh di sana sambil makan roti kalo lo malu!"
"Ngga perlu! Lo disini aja!" seruku galak. Kuambil ponsel dari tangan Mota dan kutekan nomor itu lagi.
"Pagi, Gege! Udah bangun? Hehe.."
"Udah, barusan! Dilempar Mota pake roti.." sengaja kutekankan kata roti. Entah kenapa, ingin rasanya hari ini aku membuat seseorang merasa bersalah padaku. Padahal seingatku tanggal merah bulanan baru seminggu yang lalu berakhir.
"Ah, iya. Dimakan gih rotinya! Jauh-jauh tuh belinya, sayang kalo dianggurin."
"Masih males. Perutnya ngga enak diisi makanan pagi-pagi!" jawabku masih dengan ketus yang membuat Mota menaikkan alisnya.
"Yah, kebiasaan kan dia.. Tunggu aja dua jam lagi pasti marah-marah perut minta diisi tapi makan siang belum ada di atas meja.."
Tidak kuhiraukan candaan Radit kali ini. Entah kesambet, entah memang sedang sensitif, atau bahkan alter ego ku ingin perhatian lebih banyak dari biasanya.
"Tadi ke rumah jam berapa?" tanyaku masih tanpa semangat.
"Pagian, sih.. Semalem espresso-nya parah, sampe jam 5 tadi ngga bisa tidur, yaudah deh, keluar aja sekalian jalan-jalan mumpung masih pagi kan.. Mampir toko roti, langsung deh bertengger di depan rumahmu, nungguin jam 7, ketok pintu, si Mota yang muncul, terus teriak-teriak manggil Ibu.."
"Kenapa nggak teriak manggil aku?"
"Nyaris, si Mota udah pasang kuda-kuda teriak lagi manggil kamu, tapi kan semalem kamu masih ada kerjaan, pasti capek kan, jadi mending biarin tidur aja.. Lagian begitu sampe rumah kamu mata udah mulai pedes, takut ketemu kamu ngobrol lama, ketiduran malah ngga bisa balik nanti.."
"Astaga, segitunya males ketemu sama aku?"
"Lah. Bukan gitu, Ge.. Kan masih pagi tadi, nggak enak bangunin kamu.. Yakin pasti kamu masih capek semalem begadang juga.."
"Tapi nggak gitu juga, langsung main ngeloyor aja.. Kalo kamu ngantuk ya tinggal bilang, masa iya aku paksa-paksa di sini terus.. Nggak mungkin.."
"Loh kok jadi aku? Tadi itu Mota udah mau bangunin kamu, tapi ngga gue bolehin kali! Ganggu orang tidur namanya kalo maksa dibangunin!"
Anggap aku labil. Tapi begitu kata 'gue' keluar dari mulut Radit, bagiku artinya adalah bendera merah, tanda perang sudah siap dimulai.
"Dibangunin pas lagi capek emang nggak enak, Dit! Tapi boleh kan gue bikin pengecualian buat elo! Gue nggak akan semarah itu dibangunin pagi-pagi kalo emang elo yang dateng!"
"Apaan, sih, Ge! Kenapa jadi sewot gitu, sih? Yaudah lah, maaf kalo tadi aku ngga ketemu kamu! Intinya cuma aku ngga pengen ganggu kamu tidur. Itu aja! Terserah ya, kamu ngerti ato ngga. Kaya ngga pernah ketemu aja, besok-besok juga masih bisa kan.."
"Bedain dong! Ganggu tidur itu buat urusan ngga penting! Dan menurut gue ketemu elo itu penting, Dit! Kaya ngga bisa ketemu? Besok-besok masih bisa? Ngomong sama kaca! Siapa yang makin susah diajak ketemu?"
"Kenapa jadi merembet ke masalah ketemu, sih? Gue emang sibuk, tapi kalo elo minta ketemu juga bakalan gue sempetin, Ge!"
"Bakal disempetin? Demi bangunin gue sebentar buat ngucapin selamat pagi aja lo minta bantuan Mota lempar roti!"
"Kan udah dibilang dari tadi aku nggak mau ganggu tidur orang! Jangan besar-besarin masalah, dong! Masih pagi! You just ruin my weekend!"
Kata-kata terakhir Radit adalah sangat menyakitkan. Bagiku, dikata-katai seperti itu lebih buruk daripada revisi sehari sebelum deadline. Harusnya aku yang marah karena kedatangan Radit ke rumah tanpa sempat bertatap wajah denganku membuatku sudah ngomel panjang sepagi ini.
"Then it's my fault! Iya, gue ngerusak weekend lo! Puas? Nggak usah lah besok-besok sok mampir ke rumah kalo emang ngga mau ketemu gue!"
"Ngomong apa sih kamu? Waras dikit dong, Ge! Kamu kecapekan, ngomong kacau gini, jadi besar-besarin masalah! Non sense! Kaya anak kecil!"
"Kaya anak kecil kamu bilang? Oh, makasih ya! Emang gue manja, gue banyak minta, seenggaknya gue ngga ngata-ngatain orang kurang waras!"
"Tuh kan lagi! Apa kamu emang dilahirin untuk membalikkan kata-kata semua orang? Aku bilang A, kamu bahas sampe aku bilang B! Nanti kalo udah aku bilang B, kamu bakal cerca lagi pake B, lanjut ke C, lanjut ke D, ngga selesai-selesai! Kamu kejar terus sampe aku bingung harus ngomong apa! Dikira kamu aja yang capek? Aku juga capek, Ge, kalo setiap masalah kecil sama kamu jadi besar!"
Terdiam. Aku mulai kehilangan kata-kata. Telak, bagai pencuri ketahuan sedang menyembunyikan barang jarahannya. Lagi-lagi aku hanya bisa mulai terisak. Bodoh memang, memulai perdebatan tetapi di tengah jalan tidak mampu menyelesaikannya karena tidak memiliki amunisi lagi untuk sekedar membela pendapat.
Aku mungkin memang yang sudah mulai tidak waras. Sok tangguh, menyalahkan orang lain karena masalah kecil, membalikkan kata-kata, menyangkal semua penilaian. Kami terdiam cukup lama. Ego ku masih tinggi, sekedar untuk mengucapkan kata-kata untuk mengakhiri pembicaraan yang tidak memiliki esensi sama sekali ini.
"Jangan bikin aku ngerasa bersalah, Ge. Apalagi kalau kamu udah mulai nangis gini. I just can't handle it. Mau ngomong sepanjang apa kalo kamu udah nangis juga nggak berguna.."
Bisa kudengar, helaan nafas panjang dan berat setelah Radit mengatakannya. Bagaimana bisa sekarang Radit yang membuatku merasa bersalah? Padahal jelas-jelas rencana pembicaraan omong kosong ini adalah membuatnya berada di posisi yang tidak nyaman dan merelakan dirinya mengucapkan maaf kemudian kembali menjadi Radit yang akan menuruti permintaan gadis manja dan keras kepala seperti aku.
"Kamu butuh waktu sendiri. Aku ngga akan minta maaf, Ge, karena aku tahu kali ini aku nggak salah. Terserah kamu bilang aku egois. Aku capek, Ge. Aku juga tahu, kamu pasti lebih capek dari ini. Tapi tolong, bukan cuma kamu yang jatuh bangun di sini, Ge.. Aku juga. Silahkan marah, terserah kamu mau sampai kapan. Aku tunggu kamu siap diajak ngomong dengan kepala dingin. Aku mau tidur. Capek."
Telepon ditutup. Aku menghela nafas cukup panjang. Terdiam cukup lama. Demi Radit yang begitu baik mengantar sarapan dan membiarkan aku istirahat karena kelelahan, dimana sopan santunku yang malah menyemburkan amarah? Kamu keras kepala, dan sangat gemar menyalahkan orang lain karena kesempatanmu hilang begitu saja. Suara itu bergema terus di kepala. Silih berganti dengan air mata yang perlahan mengering.
Mataku menatap lurus. Sempat terekam, Mota beranjak keluar dengan malas. Menutup pintu pelan-pelan. Kemudian meninggalkan hening. Dan seorang gadis paling egois.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar