Sabtu, 04 Juni 2011

surat

selamat malam, Tuhan.

ketika perjuanganku sudah terlewat. sudah berganti halaman. sudah menghabiskan berlembar-lembar kertas.
aku hanya bisa terdiam di dalam galau.
ketidaktenangan menghadapi apa yang ada di muka.
apa yang ada di depan.
yang nanti menyambutku. entah itu berbalas sorak sorai atau mungkin air mata penyesalan.

seketika aku mengingat wajah ibu.
yang matanya terpejam dalam doa.
mengharap tercapainya cita-cita anak perempuannya.
yang mulutnya terkunci dalam diam.
namun hatinya tak berhenti berseru kepada Mu, memohon satu kesempatan untuk keberhasilan gadisnya.

kemudian terngiang suara ayah.
yang menanyakan dan mendukung di saat yang bersamaan.
yang meski tak tampak, selalu melantunkan doa.
meminta jalan yang terbaik untuk anak gadisnya.

kakiku sudah kularikan jauh.
lebih dari selama ini yang mampu ku rentangkan.
tanganku tak henti-hentinya meminta ya Tuhan.
akan kuasa Mu. akan mukjizat Mu. akan kemurahan Mu.

waktu sudah bergulir. kini tinggal menunggu detik berikutnya.
satu yang kuharap Tuhan, semoga air mata yang nanti menetes di pipi kedua orang tuaku, adalah embun bahagia penuh kebanggaan akan darah daging mereka.
yang pada akhirnya mampu berdiri di atas kaki nya sendiri.

segala puji dan ampun berlomba-lomba keluar dari mulutku yang tak sempurna.

Tuhan,
semuanya kuserahkan ke dalam tangan Mu.
semoga Engkau bermurah hati, untuk memberikan kesempatan bagiku, untuk membahagiakan mereka yang kupanggil ibu dan ayah.
mereka yang kupanggil sahabat.
mereka yang kupanggil pendukung terhebat di dunia ini..





seandainya aku tahu alamat Mu, Tuhan..
segera kukirimkan surat ini, malam ini juga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar