Kamis, 16 Juni 2011

lazy town

Today I don't feel like doing anything
I just wanna lay in my bed
Don't feel like picking up my phone
So leave a message at the tone
'Cause today I swear I'm not doing anything
- The Lazy Song, Bruno Mars

Saya punya versi sendiri tentang lazy town. Bukan. Bukan seperti acara anak-anak yang ada di tipi itu, dengan warna pink dan biru yang begitu mendominasi. Please jangan.

Adalah kota di daerah pesisir. Dengan angin tropis yang paling top sedunia. Clear blue sky.
Rooftop dengan jarak pandang tak terbatas. Di mana saya bisa melihat laut tanpa harus bangkit dari sofa saya.
Cukup berteman radio yang menyuarakan folk songs selama 24 lamanya. Sebuah kamera. Seorang teman berbicara yang menyenangkan, sereal seperti coco crunch atau honey star, oreo tak terbatasm dan cooler berisi vanilla ice cream.


Say whaaat?!?!?!
AWESOME!

Betapa menyenangkan hidup di sana. No phone, no rush, no deadline, no pressure. Damn cool!
Konsep lazy town menurut saya bukan sekedar bermalas-malasan. Nggak melakukan apapun. Ngulet kanan kiri di atas kasur. Nope. Bukan yang seperti itu, meskipun saya sangat sangat suka guling-gulingan di kasur yang dingin tapi cahaya matahari sudah masuk ke kamar sambil menebar kehangatan.

Saya lebih memihak pada lambatnya waktu. Bagaimana kita bisa menikmati setiap movement yang kita buat, tanpa sibuk memikirkan rencana berikutnya akan apa yang harus kita lakukan. Yang harus kita kerjakan. Kita selesaikan.

Menikmati setiap detik yang berlalu. Tanpa ada penyesalan yang memburu karena membuat waktu barang sedetik saja.

Memilih kuliah di jurusan arsitektur membuat saya kehilangan banyak waktu untuk sekedar memejamkan mata. Deadline silih berganti tanpa peduli saya sempat menyentuh kasur saya atau tidak. Sempat menyalakan televisi dan menikmati acaranya atau tidak. Karena sekarang bagi saya televisi terkadang tidak ada bedanya dengan radio. Hanya jadi equipment penyedia backsound pengiring tidur.

Bagi saya, 'lazy-town-concept' bisa saya terapkan kapan saja. Makin ke sini, saya makin menyadari bahwa konsep ini sebenarnya patut dicoba/dieksekusi sekedar untuk mengurangi tingkat stres. Bahkan satu dua jam lazy town bagi saya sudah jadi penyembuhan tingkat dewa.

Berlebihan? Nggak peduli, yang penting saya bisa memperpanjang hidup satu dua jam (dikalikan jumlah saya menempatkan lazy concept town saya).

Do you wanna try? :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar