Minggu, 12 Juni 2011

CHAPTER 02. part 1.

"Jadi, sebenernya, Radit kurang apa?" tanya Anet sambil merebahkan badannya di atas kasur apartemen Ence.

Sabtu siang terkadang menjadi pelarian terbaik untuk menyalahkan keadaan dan kondisi kehidupan masing-masing dari kami. Dan lagi-lagi, apartemen Ence adalah spot terbaik untuk menghindar sejenak dari hiruk pikuk mobil-mobil yang berebutan pergi ke tempat-tempat wisata, ditambah lagi kocek yang sedang tidak bersahabat.
Aku, Anet, dan Ence mengungsikan diri dari cerita-cerita romantis Nora tentang Ido, kekasihnya selama 10 tahun terakhir. Atau Kinar yang sibuk membandingkan barang mana yang seharusnya dia beli, dan mana yang seharusnya dia minta dari tunangannya.

"Hampir nggak ada, satu-satunya kekurangan dia cuma itu, Net. Dia nggak buru-buru ngajak gue kawin!" seruku ketus sambil mengikat rambut tinggi-tinggi saking gerahnya.

"Yasalaaam, kalo cuma ngajak kawin bisa kapan aja toh tergantung birahi. Kalo emang lagi pengen, ya sudah, ayo langsung tancap, kamar kamu atau kamar aku! Selesai perkara!" sembur Ence dari arah mini-kitchen kebanggaannya.

"Dasar bencong! Mesum dipiara! Diajarin dikit buat nggak deket-deket selangkangan kenapa sih sekali-sekali?!" teriak Anet tidak mau kalah.

"Ya habis, ngomong tuh yang bener.. Main ajak kawin aja yang dipikirin. Kan gue nya jadi doyan.."
Ence berjalan menuju kami berdua, yang langsung memberiku kesempatan mencubit lengannya keras-keras, hampir sekeras teriakan kesakitannya.

Anet tidak peduli dengan adegan penyiksaan pembantu barusan, dia bangkit duduk di atas kasur Ence, "Tunggu, deh. Seinget gue, dulu Radit udah pernah ngajak lo nikah. Tapi seinget gue lagi ni ya, jawaban elo sama asem nya kaya ketek Ence di siang bolong."

"Tapi itu kan dulu, Net. Bisa ngga sih dia belajar timing? Kapan gue siap dan kapan gue nggak siap? Kapan gue pengen dan kapan gue nggak pengen!!"
Aku mulai kehilangan kesabaran. Padahal seingatku tanggal merah bulananku belum mendekat.

"Radit mungkin emang harus belajar timing, tapi elo juga perlu belajar ngga egois!"

"Tolong digarisbawahi ya, gue nggak egois! Gue belum siap!"

"Belum siap bukan berarti seenaknya, dear.. Kalau gue boleh sok bijak sedikit, bukan pada tempatnya lo sekarang merengek-rengek untuk dinikahin sama Radit. Penolakan bagi kaum pria terkadang artinya bukan cuma mundur satu langkah. Tapi mundur teratur, sampe mentok, dan sambil berusaha melubangi tembok tinggi di belakangnya, mereka mencari-cari alasan untuk menolak dan mengulur waktu, lagi dan lagi," Anet memulai kothbah siangnya. Dan entah kenapa untuk sekali ini, aku tidak mampu membalasnya dengan amukan serta penyangkalan seperti biasanya. Mungkin aku mulai lelah. Atau, kata-kata Anet hampir bisa dikategorikan grade A?

"Salah sendiri nggak mau diajak nikah dulu. Itu kesempatan sekali seumur hidup tau!" celetuk Ence seenak jidat.
Kata-kata yang sederhana, tapi membuatku menatap lurus ke jendela yang membingkai langit biru bersih siang itu. Membawa harapan gamang ini kembali ke dua tahun yang lalu. Saat ketika aku dengan egoisnya lebih memilih untuk menjadi seorang arsitek dibanding seorang istri.

***

"Jadi sebenernya kamu serius ngga sih?" kata Radit yang mengekorku memilih bunga untuk ulang tahun Eyang Putri yang ke-83.

"Aku itu selalu serius, Sayang.. Aku jalan sama kamu bukan cuma untuk dipajang di ulang tahun Eyang nanti.. Bukan sekedar bukti kalau aku ini bukan calon perawan tua!"

Radit terkekeh. Mencoba ikut membaui bunga-bunga di sepanjang jalan itu tapi justru malah bersin-bersin dan membuat sang penjual melirik kesal.
Mau tidak mau, aku juga ikut mengulum senyum dibuatnya.

"Mana ada perempuan kaya kamu jadi perawan tua? Belum keluar kompleks aja udah tiga orang yang suit-suitin kamu. Kalau ada lelang, udah rebutan itu sampe tukang becak, sopir angkot, abang siomay demo di depan rumah!"

Aku hanya terdiam, terus berjalan ke depan, malas menengok ke belakang. Bukan apa-apa, nanti Radit pasti bakalan kesenengan saat melihat pipiku yang tiba-tiba memerah.

"Gege, kamu denger aku nggak sih?!"
Seruan Radit kubiarkan berlalu bersama deru sepeda motor yang lalu lalang. Aku asyik sendiri menawar bunga ketika melihat bunga matahari kuning yang cantik, kesukaan Eyang Putri.

"Gege, aku lagi ngegombal ni! Dengerin dooong! Jangan dicuekin!!"

Telingaku ini lama-lama gerah juga. Kubalikkan badan ke arahnya. Di depan ke seorang laki-laki dengan senyum bodohnya menyodorkan setangkai bunga lili putih yang anggun.
"Mau ya, Ge, nikah sama aku?"

Di dalam otakku saat itu, para penjual bunga itu langsung joget-joget india. Nari sana nari sini, jungkir balik sambil muter-muterin kita berdua. Ditembak begitu rasanya kaya diterjang ombak, tapi bukan air laut, melainkan air es campur. Rasanya manis, dinginnya pas banget buat diminum di siang bolong kala itu.

"Norak ah!"
Hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Entah, rasanya semua jadi satu. Terlalu kabur, terlalu absurd, terlalu bahagia.
Radit berjalan mendekat. Tidak peduli dengan para penjual bunga yang kegirangan punya tontonan sinetron versi siaran langsung. Tangannya meremas tanganku. Hangat. Tapi dengan bodohnya saat itu aku justru bimbang. Menggadai mimpi kanak-kanak dengan realita puncak karir yang terlalu berharga untuk dilepas begitu saja.

"Radit, kalau ada kata yang artinya jauh lebih berharga dari terima kasih, mungkin aku akan ambil itu untuk kamu. Apa yang kamu tanyakan barusan adalah pertanyaan yang mungkin paling ditunggu oleh semua wanita di muka bumi ini. Oh my J.., I think I'm gonna cry right now.."

"No, sugar, don't cry.. Ini bentuk keseriusan aku. Kamu sendiri tahu, bentuk ikatan apapun selalu membuatku mundur teratur, tapi tidak kali ini. Tidak kalau kamu sudah menemukan orang yang tepat. Mungkin kamu pikir semuanya selama dua tahun terakhir ini bukan apa-apa. Berjalan tanpa sebuah ikatan sama sekali, aku nggak bisa janjiin apa-apa buat kamu. Cuma satu yang aku tahu pasti, aku pengen nikah sama kamu.."

Aku hanya bungkam. Menatap dalam-dalam, ke sebuat titik pada bunga lili tadi yang sekarang terjepit dengan nyamannya di antara tanganku dan Radit.

"Tapi nggak sekarang, Dit.. Nggak, di saat aku dan kamu masih sibuk dengan mimpi masing-masing. Kita berdua masih terlalu asyik mengejar cita-cita, pekerjaan, bahkan mungkin gaji atau jabatan yang lebih tinggi lagi. I'll marry you someday, but just not at this time, honey.."

Bisa kulihat ada gores kecewa di mata itu. Ketika Radit tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ketika kata-kata yang seharusnya keluar itu berganti dengan melemahnya genggaman tangannya. Pada detik itu juga aku sudah pasrah, siap menerima resiko atas apa yang kulakukan, menggadai cinta.

Pada akhirnya tangan itu benar-benar terlepas dari genggamanku. Meninggalkan bunga lili di sana, yang berisi pesan dan harapan seorang laki-laki yang berdiri di hadapanku. Entah merah entah biru atau bahkan ungu, warna wajahku sekarang. Aku memilih tidak menatap matanya. Takut, aku lebih takut tersakiti daripada menerima kenyataan bahwa baru saja aku menorehkan luka penolakan bahkan sebelum harapan itu selesai dibangun.

Aku memilih melanjutkan transaksi dengan penjual bunga yang nampaknya cukup kecewa siaran langsung sinetronnya harus berhenti anti klimaks. Di kepalaku, aku sibuk menyusun cara menghilangkan kecanggungan, gimana caranya ngajak balik, gimana caranya bilang gue tetep sayang, gimana caranya bilang 'yaudah kita tunangan aja dulu' cuma gara-gara ketakutan ditinggal pergi orang yang pertama kali muncul di pikiran setiap bangun tidur?

"Pulang yuk, Dit.. Udah selesai, nih.. Panas banget deh, aku bentar lagi pingsan kayanya," kuberanikan diri untuk memulai percakapan senormal mungkin, sebiasa mungkin.

"Nggak mau, ah! Biar kamu kepanasan, biar pingsan, biar nanti bisa kuculik. Kubawa pergi. Ngga peduli Eyang Putri marah-marah cucunya dibawa kabur orang ganteng.."

Tali yang tadi mencekik leherku terurai perlahan. Membawa sejuta kelegaan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan demi melihat senyum Radit saat itu, aku melihat masa depanku. Sudah digariskan, sudah dituliskan. Aku tinggal menunggu saatnya nanti.
Kulempar wajahnya dengan bunga layu yang ada terselip di antara tumpukan bunga dandelion di depanku.

"I'll wait, Sugar. Someday, I'm going to marry you, no matter what would happened. Just like Mr. Pan always came to Wendy, even she's growing up and maybe forget about him.."

Masih kuingat bagaimana Radit tersenyum siang itu. Kata-kata terakhirnya di depan deretan toko bunga. Kemudian tangannya meraih tanganku lagi, mengajakku berjalan cepat-cepat ke mobil. Merelakan mimpinya harus tertunda lagi.

Kata-kata Ence kembali terngiang, kesempatan itu cuma dateng sekali. And, crap! gue udah buang sia-sia semuanya.

"Mungkin gue emang egois, Ce. Tapi apa Radit ngga egois juga namanya kalo dia menjanjikan sesuatu yang gue pegang erat-erat di sini, sementara dia dengan entengnya menganggap janji itu cuma jaminan semata untuk membuat gue tetap bertahan sama dia?"

Suaraku mulai melemah, seiring harapanku yang tenggelam lagi ke dasar hati. Mataku masih ke sana, pada langit biru yang terbingkai apik. Yang menjanjikan kebebasan dan kedamaian.

"Bahkan yang sampai tanda tangan di atas materai aja masih bisa ngeles, sayang! Hidup ngga punya stok jaminan yang cukup buat orang-orang kelebihan tenaga buat mikir terlalu panjang," sembur Anet santai.

"Hang on, dear. Kalo pesawat yang lo tumpangi udah bergoncang cukup keras, yang lo bisa lakukan cuma bertahan sesuai instruksi. Pegangan sama apa yang bisa dipegang sekuat mungkin. Banyak-banyak berdoa. Nanti kalo emang udah saatnya, selalu ada pendaratan darurat yang bisa diandalkan kok.."

Analogi Ence memang selalu ngawur. Tapi itu yang kubutuhkan sekarang. Saran yang tidak menasehati. Saran yang memang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Should I call him now?"

"Yes, please...,"
kata Anet, kemudian dia merebahkan lagi badannya ke atas kasur Ence.

Kutekan nomor yang sudah kuhafal di luar kepala. Kalau memang aku harus menunggu, aku akan menunggu.

"Hallo, Radit..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar