Jumat, 08 April 2011

CHAPTER 01. part 3.

"Gendis lo kalo mau makan nyusul aja yaa! Kita capek nungguin lo! Naga di perut gue udah belingsatan dari tadi, nek!" Bolly berteriak kencang dari balik dinding kaca.

Aku masih bisa mendengar celetukan Kandi yang memuji niatku untuk diet. Aku cukup ketawa sambil geleng-geleng kepala ala dugem secengan. Mana bisa aku diet? Lihat kertas dikecapin juga mungkin ku embat. Eh, nggak. Agak rusuh itu kayanya.

Seharusnya aku sudah bisa melenggang bersama Bolly dan Kandi menuju restoran seafood favorit Kandi. Apa daya, si bos kuntilanak satu itu minta revisinya diselesaikan hari ini karena besok doi cabut ke Aussie nemenin anaknya daftar kuliah. Penting banget, asli. Aku dongkol setengah mati. Alamat makan siang dirapel nanti malem.

Tiba-tiba, Sopi, OB andalan kantor masuk sambil bawa paper bag warna cokelat.
"Mba Gendis, ini tadi ada yang nitip barang. Katanya suruh kasih Mba Gendis yang nggak bisa keluar kantor hehe."

"Makasih ya, Pi. Dari siapa?"

"Katanya suruh baca aja di dalemnya, Mba," kata Sopi cepat sebelum berlalu dari ruanganku. Mungkin dia ingin segera menyantap makan siangnya keburu waktu istirahat selesai.

Aku menerima bingkisan itu dengan setengah heran. Ditilik dari pesan yang disampaikan Sopi tadi, aku langsung berpikir duo jahil Bolly dan Kandi sedang bersemangat iseng padaku. Kusingkirkan mouse ku barang sebentar untuk sekedar ingin tahu apa isinya, yang segera membuatku ingin memeluk Bolly dan Kandi saat ini juga.

Ada dua buah cupcake di dalam kotak transparan. Bau kopi dan kejunya langsung menyergap ke hidungku. Saat kucari-cari apa lagi isinya, tanganku menyentuh sebuah benda halus. Kuambil cepat-cepat untuk mengetahui siapa pengirimnya.

Tidak ada nama. Hanya sebuah foto hasil kamera polaroid. Seorang laki-laki setengah idiot sedang memakan cupcake nya. Tampak bertebaran remah-remah roti di pipinya. Dibaliknya tertulis dengan spidol hijau: "Happy lunch, Gen...dut! Haha!"

Setengah kesal setengah melayang. Setengah gengsi setengah laper. Setengah keki setengah doyan. Kusambar segera handphone di tas ku. Kutekan nomor tanpa berpikir panjang.

"Yes, Radit's speaking."

"Idiot!" semburku cepat-cepat.

"Tapi suka kan?"

Aku bisa membayangkan dengan jelas wajahnya, yang merupakan hasil inseminasi buatan antara gombal dan jahil, di seberang sana. Mau tidak mau bibirku membentuk sebuah senyum yang paling besar yang kubuat hari itu.

"Makasih, yaa... Tau dari mana aku ngga bisa keluar?"

"Status BBM-nya ada yang labil gitu kelaperan katanya. Hehe. Udah sana dimakan. Keburu basi tu cupcake, udah jam 10 tadi belinya pas keluar nganterin klien. Tadinya mau aku makan semua, tapi ada yang hidupnya nggak tenang gara-gara batal makan cumi.."

"Errr.. Nggak ikhlas nih kayanyaa.."

"Hahahaha! Ikhlas banget laah. Apasih yang nggak buat kamu? Udah, ah. Aku mau meeting dulu yaa. Itu si Joni udah petentang-petenteng di depan ruangan ni. Males liatnya. Oiya, maaf yaa yang semalem hehe. Smooch ya later, Sugar!"

Sebelum sempat kubalas salamnya, telepon sudah terlanjur terputus. Kuhela nafas dalam-dalam. Beribu rasa bahagia menyerbak tanpa ampun. Kutinggalkan dulu layar di depanku. Segera kuraup cupcake pertama.

Sugar. Sambil kukecap rasa kopi nya perlahan membuai pikiranku. Radit tau namaku artinya gula dalam bahasa Jawa. Radit tau semalam aku sempat kesal. Radit tau aku mengganti status BBM ku di tengah jadwal yang padat. Radit tau aku pasti bisa lebih rileks saat deadline kalau mendapat kejutan perhatian darinya. Radit selalu tau.

Kutelah potongan demi potongan. Kembali memutar segala kemengertian Radit. Satu cupcake sudah habis. Aku sudah memulai menghabiskan seperempat cupcake kedua. Ketika tiba-tiba kegalauan itu mencuri perhatian lagi.

Radit memang tau segalanya. Peduli segalanya. Tapi dia tidak akan susah-susah berpikir dua kali untuk mengajakmu mencari status baru.

Radit memang perhatian. Tapi belum tentu akan mengajakmu ke pelaminan.

Kuletakkan cupcake kedua yang bahkan belum kumakan setengahnya meski yang itu rasa keju kesukaanku.
Apa sih yang nggak buat kamu? Damn. Ingat rasa bahagia yang kuhirup cepat-cepat tadi? Secepat itu juga aku kehilangan hampir setengahnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar