Radit terkadang tidak tahu betapa seorang Gendis masih merawat impiannya saat remaja, memiliki seseorang yang selalu bisa membuatnya tertawa setiap saat, bahkan untuk hal-hal remeh sekalipun, sebagai seorang pasangan hidup.
Gendis menemukannya pada Radit. Namun terkadang gambaran itu menghilang seiring keegoisan Radit yang dengan gagah berani menyerang keras kepala.
Kata Anet, sebenarnya kalian itu kutub yang sama. Saking samanya bakalan menjauh kalau sudah terlalu dekat.
Kata Nora, Tuhan mungkin akan sakit jantung kalau melihat kalian berdua menikah.
Kata Ence, gue percaya lo berdua adalah suami istri di kehidupan sebelumnya tapi dikutuk untuk selalu bertengkar karena menunda punya anak.
Kata Kinar, astaga, kalau lo nggak mau sama Radit sini buat gue,Radit itu produk gagal yang limited edition, sekarang dibuang tapi nanti bakal dicari banget.
Kata Mota, dia serius mbak sama kamu, cuma kadang dia terlalu serius sampe lupa kamu sekali-kali butuh jokes juga biar nggak bosen.
Kata Diandra, maaf kalau Radit sering bikin kecewa, dia terlanjur sering menjadi anak kecil. Terlanjur sering dipaksa mengalah.
Kata Janu, kalau memang kalian jodoh, Tuhan pasti kasih jalan Gendis, dan maaf kalau sampai sekarang aku berharap Radit berjodoh dengan Betari.
Kata Betari, aku memang menyayangi Radit, aku akan selalu ada untuk menemaninya minum kopi. Tapi kamu satu-satunya yang ada untuk memaksanya minum air putih saat kopi sudah terlalu pahit di lidahnya.
Kata Radit, bercanda kamu? Kalo pagi-pagi aku minum air putih, mana bisa mataku ini lihat matahari terbit? Haha, oke aku minum air putih. Tapi cuma hari ini yaa..
Tapi apakah Gendis harus selalu mengatakan ya saat dia merasa tidak justru akan lebih pantas? Gendis tahu Radit selalu ada. Selalu mengerti. Selalu menyayangi. Selalu membuat tertawa. Dan selalu mengaku bodoh saat Gendis terlalu angkuh untuk sekedar mengatakan dirinya salah. Tapi menemukan sebuah status bagi Radit tampaknya jauh lebih meletihkan dibandingkan menyelesaikan sebuah proyek iklan.
Dan Gendis pun tahu, jawabannya akan selalu ada saat hari hujan. Entah itu dia sendiri atau bersama seseorang.
Dan Gendis pun tahu, jawabannya sudah terselip di setiap aroma kopi yang bisa dia hirup meskipun sedang menangis. Entah itu pahit atau berbau candu.
Dan Gendis pun tahu, jawabannya akan terhantarkan oleh sebuah vw kodok favoritnya. Yang akan menghantarkannya ke tujuan akhir. Entah benar entah salah.
Ya, Gendis yakin bisa tersenyum kembali. Menapak jalan terjal itu lagi. Mencari pelangi itu lagi.
Bersama dia yang memang untuknya, memang menunggunya, memang percaya padanya, memang membuatnya tertawa di saat paling pedih sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar