Sabtu, 05 Februari 2011

CHAPTER 01. part 2.

Jam dinding di ruang keluarga hampir menunjukkan jam sebelas malam ketika kututup pintu di belakangku. Badan rasanya mau rontok setelah seharian bergumul dengan persiapan pernikahan Anet yang beradu dengan kroscek gambar kerja dan desain interior cafe yang sudah nyaris dilibas deadline. Perawan yang satu itu memang kadang tidak melihat kondisi lapangan. Pernikahannya masih lima atau enam bulan lagi. Tapi dia tidak ingin kalah bersaing dengan agenda lain teman-temannya. Ingin rasanya langsung tidur, tapi aku tidak tahan dengan daki yang menempel bagai lintah di sekujur tubuh. Kuputuskan untuk mandi air hangat dulu. Alih-alih segera menuju kamar mandi, aku mengambil handphone dan memencet nomor yang kuhafal di luar kepala.

“Nighty nite, Ge… Can’t sleep as usual?”

“Nope… just got home. Today was so hectic. Anet udah kaya emak-emak rebutan daging di pasar. Mulutnya kemana-mana. Coba kamu lihat tadi.”

“Thanks God I wasn’t there. But one thing I want to know, see actually, Natra kaya apa. Masa iya nanti pas dinikahan aku salah nyalamin orang gara-gara nggak tahu mukanya?”

“Oh, that’s gonna be super lame. Ganteng kok Natra… Si Anet berhasil memenuhi list kriteria menantu idaman ibunya, tuh.”

“Ganteng mana sama aku, Ge?”

“Gantengan Natra laah. But I’m not really into him, kok. Tenang aja, dia nggak punya selera humor yang cukup rendah kaya kamu, sayaang.”

“Syukurlah. Kalau kamu bilang dia tipe kamu, aku langsung tutup telepon lari ke dapur makan udang banyak-banyak biar tenggorokannya alergi terus mati, deh,” katanya renyah.

“Rahaditya Ranggamukti, please promise me that you would never try that,” kataku pura-pura marah.

“Haha. Seneng deh denger kamu mendadak jadi emak-emak. Becanda bisa kali…”

“Kalo gini kan gue ga perlu sewa orang buat jadi mempelai laki-laki suatu saat nanti.”

Damn. Siapa sih yang ngasih ide buat ngomong begituan? Harusnya aku tidak sampai ke arah itu. Bisa kurasakan Radit juga terdiam cukup lama disana, sebelum akhirnya mengeluarkan suara lagi.

“Yeah, I hope someday, Ge. Excuse me honey, do you smell something bad? Tadi kayanya yang bantuin milih bunga Anet salah pesen jadi bunga bangkai deh…,” godanya.

“Haha. Okay sheriff, I’m on my way to the bathroom. Kamu kalo kerjaannya udah selesai tidur ya. Udah dua hari ini nggak tidur, kan?”

“Iyaaa. Dikit lagi ini. Kamu sih pake acara telepon, jadi ganggu, deh! Haha!”
Radit memang bercanda. Tapi entah kenapa, yang barusan menyentilku. Sedikit, tapi tetap terasa. Hmmm. Mungkin aku kecapekan, jadi mikir yang macem-macem.

“Yaudah, deh… Aku tutup teleponnya. Kopinya berhenti dulu ya. Pasti yang sekarang udah masuk gelas keempat, deh.”

“Lima. Malem ini ngantuk banget nggak tahu kenapa. Maaf, ya.”

“Jangan minta maaf sama aku, sama perut kamu aja sana… Well, catch ya’ later!”

“You too!”

Aku mematikan panggilan itu setengah kesal. Meski dalam hati kuakui, aku sendiri yang membuatnya berantakan. Kupikir dengan mendengar suaranya setelah seharian menyumpah serapah karena ulah Anet dan Nora, yang sepertinya sudah minum suplemen penambah tenaga sehingga lutut mereka bisa diajak berjalan lebih dari kapasitas maksimum, aku akan bisa sedikit mengurangi kadar stress. Ternyata tidak. Sangat tidak. Yang bisa kulakukan kini hanyalah berjalan dengan galau nya, mengambil handuk dan memulai mandi tengah malam ku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar