Jumat, 04 Februari 2011

CHAPTER 01. part 1.

“Yakin mau nikah, Net?” tanya Kinar.

“Nggak sih, tapi daripada nggak? Lumayan kan dapet amplop-an pas resepsi. Menurut lo aja kali!” seloroh Anet sambil tetap mematut diri.

“Tapi lo nggak nikah gara-gara hamil, kan?” kata Nora polos atau memang bodoh.

”Hallelujah! Keluarga besan akan sangat bersyukur karena meskipun anak laki-laki mereka dapet perawan tua, ternyata rahimnya masih berfungsi dengan baik. Dan kalaupun Anet nikah beneran gara-gara hamil, gue bersyukur itu jabang bayi belum berumur lebih dari tiga bulan jadi Anet masih bisa pake tu baju tanpa sibuk cari peniti untuk memastikan baju itu nggak robek saat dia sungkem sama bapak ibunya,” jawab Ence setengah ketus mulai nggak nyambung.

“Babi, lo!” serbu Anet sambil melempar kotak tissue ke arah Ence.

Aku memandang pantulan wajah Anet di cermin. Melihat dengan baik bagaimana ekspresi wajahnya saat mencoba mencocokkan anting-anting mana yang paling sesuai dengan gaun soft olive green pilihannya. Aku meneliti dengan seksama. Tidak ada yang berbeda dengan wajah Anet sebelumnya. Bahkan jika aku bisa mengukur dengan busur, dia masih menarik bibir dengan derajat yang sama untuk tersenyum.

Apakah Anet benar-benar akan menikah? Dalam benakku, seharusnya orang yang akan menikah setidaknya bagaikan pohon roh kudus di kitab suci yang akan penuh dengan kobaran api menyala-nyala. Tapi Anet? Masih dia yang sama, sahabatku yang selalu punya rencana cadangan apabila keadaan tidak berjalan sesuai keinginan kami.

“Net. Demi keluarga Chandrawinata yang mukanya tanpa cacat, elo serius kan mau nikah? Lebih tepatnya, elo bahagia kan mau nikah?”

Jika ada alat pengukur tekanan suara, mungkin jarumnya akan naik beberapa garis saat aku mengatakan bahagia.

Kulihat Anet menyudahi acara mix and match nya untuk sejenak. Dia berbalik untuk menatap kami. Melihat satu persatu ke mata kami. Mata yang sedari tadi penuh pertanyaan. Nora. Ence. Kinar. Dan terkahir aku. Dia menghela nafas cukup panjang sebelum akhirnya membuka konferensi pers nya.

“When I was a little girl, I always begged God to give me a prince charming like in Cinderella or Snow White story. Someone who always promise me a happily ever after story. I know I’m naive. But when you see the mirror and it told you that your smiling lines are turn to aging alert…,”

“Jadi lo nikah cuma karena lo mulai keriput?”

“Gembel gue belum selesai ngomong, Ra! Oke, back to my script, so, I start to face reality. Nungguin pangeran berkuda putih sama aja kaya nungguin Ence menemukan kejantanannya lagi,”

Aku langsung ngakak disusul Kinar dan Nora. Skak mat buat Ence.

Ence hanya menggerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan seperti ada irama yang menuntunnya.

“Haha, sorry dear, it’s because you’re the best and very original. Lalu gue mulai bertanya lagi, kalau begitu siapa yang harus ku tunggu? Dan voila! Natra datang dan menawarkan kepastian. Sesuatu yang jelas-jelas tidak membuat gue menunggu, you know, something that I really hate.”

“Dan lo memutuskan kalau Natra adalah pemain pengganti yang tepat untuk pangeran berkuda putih?” tanya Nora.

“Natra bukan pemain pengganti. Dia MVP yang sebenarnya, yang selama ini justru dia yang menunggu untuk dimainkan sang pelatih yang sibuk memelototi pemain mahal tapi tidak pasti. Ya, Natra ibarat kepastian, dia nggak menggantung gue dan siap masuk ke babak final, yang meski gue tahu bakalan lebih sengit daripada midnight sale beberapa bulan yang lalu, tapi gue tahu gue bakalan menang. Gue dan Natra.”

End of story. Semuanya terdiam. Kinar memainkan ujung-ujung benang yang mencuat dari sisi bantal. Nora mencoba meraih kotak tisu yang tadi dilempar Anet. Ence entah sejak kapan sudah merebahkan badannya di tepian karpet.

Dan aku cukup terdiam. Mengerti sekali kenapa semua ini menjadi begitu bisu, bahwa seperti dikatakan Anet, Natra itu pasti. Sementara kami yang lain ini hidupnya masih diseberang Natra dan Anet. Digantung, menggantung, dan tergantung. Setidaknya, aku paham kenapa Anet berani mengambil semua resikonya. Dan demi melihat kebahagiaan seorang sahabat, aku menarik bibirku ke atas dengan tulus.

“I’m so glad to hear that, honey. So, ding your wedding bells, then,” kataku pelan.

Anet tersenyum bahagia. Tidak hanya Anet. Kinar menyimpulkan senyum terbaiknya. Ence mesam-mesem ala topeng monyet. Sementara Nora sudah berhasil menghapus sebagian air matanya. Ingatanku kembali pada alat pengukur sudut senyuman. Alat itu mungkin akan rusak tiba-tiba, sebab aku yakin senyum kami saat ini, kebahagiaan kami, tidak akan bisa terukur dengan apapun selain senyuman balasan dari seorang sahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar