Senin, 14 Februari 2011

happiness :)

hi, there!
first thing first, happy val's day people! haha!

sorry for leaving quite long. banyak banget deh yang harus dikerjain akhir-akhir ini. kalo nggak tidur ya nonton tipi atau baca majalah. hihi. gara-garanya males connect internet karena bawaannya bakalan galau dan super flat kalo lihat email belum dibales.

well, daripada galau mending kita hepi hepi ya kaan. berhubung semua orang bakalan selalu kepengen bahagia dalam hidupnya, kemaren saya nemu bacaan yang lumayan menggoda pikiran. which is lima peraturan sederhana untuk hidup bahagia.

wow. quite interesting, huh? so here we go!

pertama, bebaskan dirimu dari kebencian.
jelas benci sama orang dilarang agama. guna nggak dosa iya. lagian kadang susah-susah kita benci sama orang, eeeeh orangnya nggak ngeh sama sekali alias pasang tampang innocent dan masa bodo. rugi di kita ya kan?

kedua, bebaskan pikiranmu dari kesusahan.
hidup itu udah susah, jangan dibikin makin susah. inget, ini bukan cuma ungkapan bocah abg yang habis nge-gele. kalau kita selalu mikir semua yang kita lakukan di hidup itu susah, kita sama sekali nggak bakalan bisa ngerasain kemudahan yang dikasih sama yang di atas. yang artinya, we could be missed some great opportunities.

ketiga, hiduplah secara sederhana.
sederhana di sini bukan cuma urusan materi. tetapi pola pikir kita juga. nggak usah mikir yang aneh-aneh. kalo kita punya rencana, kita cukup stick to that plan. nggak perlu mikirin nantinya bakal gimana-gimana. cukup fokus dan jalani aja. kalo kita mau berusaha pasti ada jalannya ya toh?

keempat, give more.
lagi-lagi bukan sekedar materi. perhatian kadang bisa jauh lebih berharga dan sangat dibutuhkan orang-orang di sekitar kita. bisa meringankan beban orang lain walaupun super sedikit itu bisa bikin kita seneng. nggak usah muna, we like it when other people need us, don't we? ;p

last but not least, less expectation.
pasrah bukan berarti menyerah. kalo kita udah ngasih yang terbaik dari segala usaha yang bisa kita lakukan, kita nggak perlu takut sama apapun hasilnya. do the best, and God will do the rest. kita memang nggak boleh putus harapan. tapi jangan sampai harapan kita terlalu tinggi hingga kita sendiri nggak bisa menggapainya :)

easy to say. mungkin kalian bakal bilang gitu. saya nggak muna, saya juga belum bisa kok melakukan itu semua.
apalagi yang terakhir. beeeuh! susahnya! apalagi disaat-saat saya lagi butuh jawaban hasil lamaran internship program kaya gini. bawaannya galau kalo liat belum ada hasilnya. hehe.

daan meskipun saya galau gara-gara email ga kunjung berbalas, saya hepi banget akhirnya saya bisa ngebeli barang yang saya pengenin dari tahun lalu.

this is it!

sepatu ini akhirnya diskon 70%. tadinya udah mau saya beli pas diskon 40%.
tapi ibu bilang sabaar, tunggu dulu bentar lagi.
eh bener, jadi agak banting harga gitu hihi.


hikmah dari semua itu adalah, sabaaar! :)
karena Tuhan selalu punya rencana yang jauh lebih besar! yang lagi galau nungguin sesuatu, keep believing and keep praying!


life is too priceless to be wasted! be stunning! :D

Sabtu, 05 Februari 2011

CHAPTER 01. part 2.

Jam dinding di ruang keluarga hampir menunjukkan jam sebelas malam ketika kututup pintu di belakangku. Badan rasanya mau rontok setelah seharian bergumul dengan persiapan pernikahan Anet yang beradu dengan kroscek gambar kerja dan desain interior cafe yang sudah nyaris dilibas deadline. Perawan yang satu itu memang kadang tidak melihat kondisi lapangan. Pernikahannya masih lima atau enam bulan lagi. Tapi dia tidak ingin kalah bersaing dengan agenda lain teman-temannya. Ingin rasanya langsung tidur, tapi aku tidak tahan dengan daki yang menempel bagai lintah di sekujur tubuh. Kuputuskan untuk mandi air hangat dulu. Alih-alih segera menuju kamar mandi, aku mengambil handphone dan memencet nomor yang kuhafal di luar kepala.

“Nighty nite, Ge… Can’t sleep as usual?”

“Nope… just got home. Today was so hectic. Anet udah kaya emak-emak rebutan daging di pasar. Mulutnya kemana-mana. Coba kamu lihat tadi.”

“Thanks God I wasn’t there. But one thing I want to know, see actually, Natra kaya apa. Masa iya nanti pas dinikahan aku salah nyalamin orang gara-gara nggak tahu mukanya?”

“Oh, that’s gonna be super lame. Ganteng kok Natra… Si Anet berhasil memenuhi list kriteria menantu idaman ibunya, tuh.”

“Ganteng mana sama aku, Ge?”

“Gantengan Natra laah. But I’m not really into him, kok. Tenang aja, dia nggak punya selera humor yang cukup rendah kaya kamu, sayaang.”

“Syukurlah. Kalau kamu bilang dia tipe kamu, aku langsung tutup telepon lari ke dapur makan udang banyak-banyak biar tenggorokannya alergi terus mati, deh,” katanya renyah.

“Rahaditya Ranggamukti, please promise me that you would never try that,” kataku pura-pura marah.

“Haha. Seneng deh denger kamu mendadak jadi emak-emak. Becanda bisa kali…”

“Kalo gini kan gue ga perlu sewa orang buat jadi mempelai laki-laki suatu saat nanti.”

Damn. Siapa sih yang ngasih ide buat ngomong begituan? Harusnya aku tidak sampai ke arah itu. Bisa kurasakan Radit juga terdiam cukup lama disana, sebelum akhirnya mengeluarkan suara lagi.

“Yeah, I hope someday, Ge. Excuse me honey, do you smell something bad? Tadi kayanya yang bantuin milih bunga Anet salah pesen jadi bunga bangkai deh…,” godanya.

“Haha. Okay sheriff, I’m on my way to the bathroom. Kamu kalo kerjaannya udah selesai tidur ya. Udah dua hari ini nggak tidur, kan?”

“Iyaaa. Dikit lagi ini. Kamu sih pake acara telepon, jadi ganggu, deh! Haha!”
Radit memang bercanda. Tapi entah kenapa, yang barusan menyentilku. Sedikit, tapi tetap terasa. Hmmm. Mungkin aku kecapekan, jadi mikir yang macem-macem.

“Yaudah, deh… Aku tutup teleponnya. Kopinya berhenti dulu ya. Pasti yang sekarang udah masuk gelas keempat, deh.”

“Lima. Malem ini ngantuk banget nggak tahu kenapa. Maaf, ya.”

“Jangan minta maaf sama aku, sama perut kamu aja sana… Well, catch ya’ later!”

“You too!”

Aku mematikan panggilan itu setengah kesal. Meski dalam hati kuakui, aku sendiri yang membuatnya berantakan. Kupikir dengan mendengar suaranya setelah seharian menyumpah serapah karena ulah Anet dan Nora, yang sepertinya sudah minum suplemen penambah tenaga sehingga lutut mereka bisa diajak berjalan lebih dari kapasitas maksimum, aku akan bisa sedikit mengurangi kadar stress. Ternyata tidak. Sangat tidak. Yang bisa kulakukan kini hanyalah berjalan dengan galau nya, mengambil handuk dan memulai mandi tengah malam ku...

Jumat, 04 Februari 2011

CHAPTER 01. part 1.

“Yakin mau nikah, Net?” tanya Kinar.

“Nggak sih, tapi daripada nggak? Lumayan kan dapet amplop-an pas resepsi. Menurut lo aja kali!” seloroh Anet sambil tetap mematut diri.

“Tapi lo nggak nikah gara-gara hamil, kan?” kata Nora polos atau memang bodoh.

”Hallelujah! Keluarga besan akan sangat bersyukur karena meskipun anak laki-laki mereka dapet perawan tua, ternyata rahimnya masih berfungsi dengan baik. Dan kalaupun Anet nikah beneran gara-gara hamil, gue bersyukur itu jabang bayi belum berumur lebih dari tiga bulan jadi Anet masih bisa pake tu baju tanpa sibuk cari peniti untuk memastikan baju itu nggak robek saat dia sungkem sama bapak ibunya,” jawab Ence setengah ketus mulai nggak nyambung.

“Babi, lo!” serbu Anet sambil melempar kotak tissue ke arah Ence.

Aku memandang pantulan wajah Anet di cermin. Melihat dengan baik bagaimana ekspresi wajahnya saat mencoba mencocokkan anting-anting mana yang paling sesuai dengan gaun soft olive green pilihannya. Aku meneliti dengan seksama. Tidak ada yang berbeda dengan wajah Anet sebelumnya. Bahkan jika aku bisa mengukur dengan busur, dia masih menarik bibir dengan derajat yang sama untuk tersenyum.

Apakah Anet benar-benar akan menikah? Dalam benakku, seharusnya orang yang akan menikah setidaknya bagaikan pohon roh kudus di kitab suci yang akan penuh dengan kobaran api menyala-nyala. Tapi Anet? Masih dia yang sama, sahabatku yang selalu punya rencana cadangan apabila keadaan tidak berjalan sesuai keinginan kami.

“Net. Demi keluarga Chandrawinata yang mukanya tanpa cacat, elo serius kan mau nikah? Lebih tepatnya, elo bahagia kan mau nikah?”

Jika ada alat pengukur tekanan suara, mungkin jarumnya akan naik beberapa garis saat aku mengatakan bahagia.

Kulihat Anet menyudahi acara mix and match nya untuk sejenak. Dia berbalik untuk menatap kami. Melihat satu persatu ke mata kami. Mata yang sedari tadi penuh pertanyaan. Nora. Ence. Kinar. Dan terkahir aku. Dia menghela nafas cukup panjang sebelum akhirnya membuka konferensi pers nya.

“When I was a little girl, I always begged God to give me a prince charming like in Cinderella or Snow White story. Someone who always promise me a happily ever after story. I know I’m naive. But when you see the mirror and it told you that your smiling lines are turn to aging alert…,”

“Jadi lo nikah cuma karena lo mulai keriput?”

“Gembel gue belum selesai ngomong, Ra! Oke, back to my script, so, I start to face reality. Nungguin pangeran berkuda putih sama aja kaya nungguin Ence menemukan kejantanannya lagi,”

Aku langsung ngakak disusul Kinar dan Nora. Skak mat buat Ence.

Ence hanya menggerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan seperti ada irama yang menuntunnya.

“Haha, sorry dear, it’s because you’re the best and very original. Lalu gue mulai bertanya lagi, kalau begitu siapa yang harus ku tunggu? Dan voila! Natra datang dan menawarkan kepastian. Sesuatu yang jelas-jelas tidak membuat gue menunggu, you know, something that I really hate.”

“Dan lo memutuskan kalau Natra adalah pemain pengganti yang tepat untuk pangeran berkuda putih?” tanya Nora.

“Natra bukan pemain pengganti. Dia MVP yang sebenarnya, yang selama ini justru dia yang menunggu untuk dimainkan sang pelatih yang sibuk memelototi pemain mahal tapi tidak pasti. Ya, Natra ibarat kepastian, dia nggak menggantung gue dan siap masuk ke babak final, yang meski gue tahu bakalan lebih sengit daripada midnight sale beberapa bulan yang lalu, tapi gue tahu gue bakalan menang. Gue dan Natra.”

End of story. Semuanya terdiam. Kinar memainkan ujung-ujung benang yang mencuat dari sisi bantal. Nora mencoba meraih kotak tisu yang tadi dilempar Anet. Ence entah sejak kapan sudah merebahkan badannya di tepian karpet.

Dan aku cukup terdiam. Mengerti sekali kenapa semua ini menjadi begitu bisu, bahwa seperti dikatakan Anet, Natra itu pasti. Sementara kami yang lain ini hidupnya masih diseberang Natra dan Anet. Digantung, menggantung, dan tergantung. Setidaknya, aku paham kenapa Anet berani mengambil semua resikonya. Dan demi melihat kebahagiaan seorang sahabat, aku menarik bibirku ke atas dengan tulus.

“I’m so glad to hear that, honey. So, ding your wedding bells, then,” kataku pelan.

Anet tersenyum bahagia. Tidak hanya Anet. Kinar menyimpulkan senyum terbaiknya. Ence mesam-mesem ala topeng monyet. Sementara Nora sudah berhasil menghapus sebagian air matanya. Ingatanku kembali pada alat pengukur sudut senyuman. Alat itu mungkin akan rusak tiba-tiba, sebab aku yakin senyum kami saat ini, kebahagiaan kami, tidak akan bisa terukur dengan apapun selain senyuman balasan dari seorang sahabat.

Kamis, 03 Februari 2011

hujan, kopi, dan vw kodok. PROLOG.

Radit terkadang tidak tahu betapa seorang Gendis masih merawat impiannya saat remaja, memiliki seseorang yang selalu bisa membuatnya tertawa setiap saat, bahkan untuk hal-hal remeh sekalipun, sebagai seorang pasangan hidup.

Gendis menemukannya pada Radit. Namun terkadang gambaran itu menghilang seiring keegoisan Radit yang dengan gagah berani menyerang keras kepala.


Kata Anet, sebenarnya kalian itu kutub yang sama. Saking samanya bakalan menjauh kalau sudah terlalu dekat.

Kata Nora, Tuhan mungkin akan sakit jantung kalau melihat kalian berdua menikah.

Kata Ence, gue percaya lo berdua adalah suami istri di kehidupan sebelumnya tapi dikutuk untuk selalu bertengkar karena menunda punya anak.

Kata Kinar, astaga, kalau lo nggak mau sama Radit sini buat gue,Radit itu produk gagal yang limited edition, sekarang dibuang tapi nanti bakal dicari banget.

Kata Mota, dia serius mbak sama kamu, cuma kadang dia terlalu serius sampe lupa kamu sekali-kali butuh jokes juga biar nggak bosen.

Kata Diandra, maaf kalau Radit sering bikin kecewa, dia terlanjur sering menjadi anak kecil. Terlanjur sering dipaksa mengalah.

Kata Janu, kalau memang kalian jodoh, Tuhan pasti kasih jalan Gendis, dan maaf kalau sampai sekarang aku berharap Radit berjodoh dengan Betari.

Kata Betari, aku memang menyayangi Radit, aku akan selalu ada untuk menemaninya minum kopi. Tapi kamu satu-satunya yang ada untuk memaksanya minum air putih saat kopi sudah terlalu pahit di lidahnya.

Kata Radit, bercanda kamu? Kalo pagi-pagi aku minum air putih, mana bisa mataku ini lihat matahari terbit? Haha, oke aku minum air putih. Tapi cuma hari ini yaa..


Tapi apakah Gendis harus selalu mengatakan ya saat dia merasa tidak justru akan lebih pantas? Gendis tahu Radit selalu ada. Selalu mengerti. Selalu menyayangi. Selalu membuat tertawa. Dan selalu mengaku bodoh saat Gendis terlalu angkuh untuk sekedar mengatakan dirinya salah. Tapi menemukan sebuah status bagi Radit tampaknya jauh lebih meletihkan dibandingkan menyelesaikan sebuah proyek iklan.

Dan Gendis pun tahu, jawabannya akan selalu ada saat hari hujan. Entah itu dia sendiri atau bersama seseorang.

Dan Gendis pun tahu, jawabannya sudah terselip di setiap aroma kopi yang bisa dia hirup meskipun sedang menangis. Entah itu pahit atau berbau candu.

Dan Gendis pun tahu, jawabannya akan terhantarkan oleh sebuah vw kodok favoritnya. Yang akan menghantarkannya ke tujuan akhir. Entah benar entah salah.

Ya, Gendis yakin bisa tersenyum kembali. Menapak jalan terjal itu lagi. Mencari pelangi itu lagi.

Bersama dia yang memang untuknya, memang menunggunya, memang percaya padanya, memang membuatnya tertawa di saat paling pedih sekalipun.

here we go

sudah berapa kali saya bilang mau bikin cerita? bikin novel? yang panjang. YANG SELESAI.
ha! berkali-kali. tapi tentu saya rencana itu kalah bertarung dengan semangat mengejar nilai yang tinggi di kampus, alias mengerjakan tugas sampai pagi menjelang.

well. daripada di postpone terus menerus, akhirnya saya memutuskan untuk nulis novel nya by online aja. haha. no edit artinya. yang udah ditulis yaudah harus dilanjut. resikonya saya nggak bisa tiba-tiba ganti alur cerita atau ganti nama, which is sangat sering saya lakukan sampe akhirnya ide saya mandek di situ-situ aja hehe.

yah, kali-kali aja ada yang tertarik bikin ini jadi buku. who knows. ngarep sih intinya haha. passion saya adalah tulisan saya bisa dibaca, dinikmati, menginspirasi orang lain. saya ga peduli dicontek disadur dicemooh, toh artinya mereka peduli kan yaa sama saya? hehe.

okay. akan saya mulai hari ini.

HUJAN, KOPI, DAN VW KODOK.

yeah, it's official now! :)