Kamis, 20 Januari 2011

betapa ributnya sati

Banyu sudah mulai lupa. Betapa ributnya Sati. Mulutnya yang kecil itu seolah mampu mengeluarkan beribu banyak kata, jauh lebih banyak dibandingkan kutu di tubuh Marlon, anjing kesayangan Banyu yang sudah menginjak usia 12 tahun.

Sati yang selalu berkomentar ini itu. Mengkritik Banyu yang terlalu sering lupa mandi dengan alasan menghemat air. Sati tidak akan pernah bosan melemparkan handuk ke arah Banyu, tidak peduli kapan, tampaknya Sati punya indra keenam yang mampu menangkap radar ketidakmandian Banyu, meski pria itu mengenakan kemeja terbaiknya.

Sati akan kembali berkicau jika Banyu menginjak bagian belakang sepatunya. Meski sama-sama pecinta sepatu keds, Sati tidak memiliki ampun sama sekali untuk tindakan tersebut. Sati akan segera mencubit hidung Banyu sampai pria itu sadar.

Sati tidak suka bedandan terlalu lama. Bahkan kadang waktu yang dihabiskan Banyu untuk mengecek bayangannya di cermin tiga kali lebih lama dari Sati memoles bedak dan pewarna bibir. Banyu menyukainya karena Sati tidak membutuhkan waktu lama membuat dirinya bersinar lebih terang dari berlian sekalipun.

Agak berlebihan mungkin, tetapi Banyu rela menukar semua koleksi mobil Hot Wheels nya dengan satu kesempatan makan siang saat Sati mulai sibuk bekerja. Ya, gadis itu adalah tipe pekerja keras yang tidak kenal waktu, bahkan kekasih saat sudah menyentuh kain-kain itu.

Banyu akan bersorak senang dan segera bangkit dari kursi malas favoritnya saat Sati menelepon minta dibawakan makan siang dan mereka bisa makan bersama di taman belakang kantor Sati. Saat itu Sati akan siap menunggu di sana dengan kamera polaroid kesayangannya. Mengabadikan tiap detik yang bisa dilalui bersama ditengah-tengah hiruk pikuk ibukota.

Banyu sudah mulai lupa. Betapa ributnya Sati. Tapi ia tidak akan lupa tangisan terakhir Sati yang begitu mengiris urat nadi. Wajahnya bagai mayat hidup, tubuh yang sama sekali tidak berjiwa. Sinar itu hilang, meninggalkan mata Sati, wajahnya. Banyu hanya mampu memeluk Sati, ikut menangis lirih dalam hati. Banyu berusaha tetap tegar dihadapan gadis pujaannya, meskipun dia tahu, mereka sudah benar-benar terserak berkeping.

Sati tidak mampu meredakan dirinya sendiri. Sore itu, berjupuluh bahkan mungkin beratus kali mulutnya mengatakan kata sayang hanya untuk Banyu seorang. Dalam lelapnya hari itu pun, air mata Sati tetap mengalir membasahi lengan Banyu. Sati yang begitu tegar begitu keras begitu kuat seolah pudar dihantam kenyataan. Tak satu hal pun mampu dilakukan Banyu saat itu, bahkan mengajak Sati bunuh diri sekalipun, ketika dengan anggunnya kenyataan yang selama ini mereka singkirkan jauh-jauh, akhirnya mendekat dengan perlahan, memeluk mereka dalam luka yang teramat dalam.

Banyu sudah mulai lupa. Betapa ributnya Sati. Betapa seringnya Sati mengatakan bahwa dirinya susah sekali berakting sebagai wanita feminin. Tetapi kini, Banyu melihat sesosok perempuan paling anggun dan lembut dalam hidupnya, berdiri di hadapan altar menggenggam tangan pria pilihan ibunya.

Banyu sudah mulai lupa. Betapa ributnya Sati. Namun hari ini, wajah putih porselen itu tampak tenang, membungkam mulutnya rapat-rapat, meski dalam waktu bersamaan, hatinya terkoyak begitu dalam.

Banyu sudah mulai lupa. Betapa ributnya Sati. Betapa ributnya dirinya. Betapa keduanya tidak bisa diam satu sama lain saat bercerita dan tertawa bersama. Tapi hari ini, kenyataan kembali membelai mereka. Keduanya terdiam, terpisahkan hampir 17 bangku gereja. Sama-sama membungkam, mencoba tersenyum pada satu sama lainnya. Meski enggan mengingkari, bahwa tidak cukup sepuluh tahun untuk melupakan apa yang sudah mereka lalui tiga tahun terakhir ini.

Lonceng gereja berdentang dua belas kali. Banyu bangkit berdiri. Mencoba merelakan gadisnya memenuhi kewajiban sebagai seorang putri yang selalu mengingat bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibunya. Banyu melangkah keluar dengan lebih kuat lagi, suara adzan itu telah memanggilnya. Hari ini hari Jumat, seperti yang tertulis di undangan berwarna putih yang sampai kemarin sore...

Jumat, 14 Januari 2011

sepatu merah marun

Bian tertegun sesaat. Kembali mematut tampilan barunya di cermin. Rasa tidak puas kembali memenuhi kepalanya. Masih ada yang kurang. Masih ada yang tidak sempurna.

Ia duduk kembali. Merapikan rok lipitnya yang berwarna khaki, kesukaan Eyang Putri. Eyang Putri kesayangannya. Yang mengajarkannya memilih baju yang tepat untuk setiap acara. Yang mengatakan bahwa seorang perempuan akan lebih cantik saat berada dalam balutan rok. Yang membuat Bian begitu menyukai sepatu.

Bagi Bian, sepatu bukanlah sekedar alas kaki. Tetapi menunjukkan kehadirannya di suatu tempat. Di suatu keadaan. Bian tidak suka sepatu yang biasa saja. Dia tidak akan membeli sepatu yang tidak memiliki cerita. Sepatu favoritnya adalah boots cokelat yang tingginya 7 cm di atas mata kaki.

Boots itu dulunya menjadi rebutan. antara dia dan kakak perempuannya yang kini sudah menikah. Boots itu oleh-oleh Opa. Suami baru Eyang Putri yang baru saja mengunjungi anaknya di Turki. Eyang Putri menjanjikan sepatu itu untuknya. Namun Opa terlanjur mengijinkan Pilar memilikinya.

Pertengkaran hebat dua gadis yang sama-sama keras kepala. Suara-suara sumbang saling sahut menyahut. Terlontar dengan entengnya dari kedua bibir yang sama-sama merah merona. Bian dan Pilar sudah terlalu lupa untuk menganggap mereka masih bersaudara.

Opa hanya pasrah melihatnya. Memilih diam di sudut, tidak peduli siapa yang akan mengenakan sepatu itu nantinya. Eyang Putri tentu saja membela Bian. Karena usia Bian lebih sedikit 2 angka. Tapi Ibu bersikukuh sepatu itu sudah menjadi milik Pilar sejak Opa memberikan ijinnya.

Ya, Ibu memang tidak pernah membelaku, begitu pikir Bian. Mungkin karena Ibu adalah ibu kandung Pilar. Sedangkan Bian hanyalah anak bawaan Ayah dari istri sebelumnya. Ibu menyayangi Bian. Tetapi tidak segan-segan menamparnya ketika Bian pulang ke rumah dua menit lebih larut. Ibu menyayangi Bian. Tetapi tidak menutup-nutupi bahwa prioritas utamanya adalah Pilar.

Ibu dan Bian bagaikan kutub magnet yang sama. Ketika berdekatan akan membuat mual satu sama lain sehingga keduanya lebih memilih untuk berada di jarak aman. Ibu sangat membenci kebiasaan Bian mengoleksi sepatu. Ibu bilang itu hanya menghabiskan uang Ayah. Namun Bian sangat paham, bahwa Ibu ketakutan tidak mendapatkan jatah bulanan membeli perhiasan baru di mall sebelah.

Ayah tidak pernah peduli. Ia terlalu sibuk keluar kota. Mengurus bisnis, ujarnya. Bian percaya, hingga Pilar menemukannya berduaan dengan seorang wanita yang jauh lebih muda di sebuah restoran keluarga ketika Pilar mendapat tugas lapangan ke Mataram.

Bukannya takut ditinggalkan, Ibu justru makin senang. Dia bebas membelanjakan uang dari ayah. Dulu jadwal Ibu membeli cincin baru adalah sebulan sekali. Kini tampaknya tidak cukup, jadi Ibu harus mempercepat periode itu menjadi setiap hari Jumat.

Pilar sudah pergi dari rumah setahun yang lalu. Dia begitu gembira saat harus berpisah dari Bian, yang selama ini baginya hanya menjadi perusak pemandangan dengan koleksi sepatunya. Pilar mencoba menjadi seperti Bian. Alih-alih mengoleksi sepatu, Pilar mengumpulkan berbagai jenis tas. Namun Pilar bukan Bian. Dia tidak semenarik Bian yang begitu mencintai sepatu hingga menarik hati seorang Dima. Dima yang tampan dan bersahaja. Dima yang suka berceloteh tentang bagaimana dia membayangkan Bian menjadi ibu dari anak-anaknya. Dima yang begitu ramah pada Ibu, meski Dima tahu, Ibu tidak seramah itu pada Bian.

Bian kembali memandang cermin besar dihadapannya. Cermin warisan Eyang Putri yang menurut Opa sangat ingin diberikannya kepada Bian sejak barang itu masuk ke rumah ini. Kali ini dia puas.

Kakinya yang cantik sudah berbalut sepatu merah marun yang indah. Meski pewarnaannya tidak sempurna sehingga masih ada beberapa bagian putih di sana sini, lagi-lagi Bian cukup menikmati cerita di belakangnya. Cerita yang ditampilkan di pantulan cermin itu.

Ibu tergeletak setengah telanjang di lantai dekat kaki tempat tidur. Bajunya entah kemana. Dan Dima yang tanpa sehelai kain menutupi tubuhnya tergolek lemas tak berdaya di sebelahnya. Leher ibu yang putih mulus sudah berganti menjadi merah marun.

Rasa tidak puas kembali menyerang Bian setelah beberapa menit. Dia mengambil kursi kecil di sebelah Dima. Melemparkannya dengan anggun ke arah cermin kesayangan Eyang Putri. Kaca menyerpih dengan segera. Bian beranjak memungut retakan yang paling besar.

Kaki indahnya ia langkahkan menuju kekasihnya. Diangkatnya wajah penuh derita itu sebentar. Dibelainya rambut Dima dengan lembut. Bian melihat pancaran memohon belas kasihan di mata Dima. Bian tersenyum sebentar. Kemudian mengecup lembut bibir Dima yang hampir kering. Cukup lama. Bian menikmatinya. Mengembalikan semua kenangan mereka berdua yang direkam oleh dinding kamar Bian selama hampir tiga tahun ini.

Bian mengangkat wajahnya dari wajah Dima. Aku mencintaimu sayang, sekarang dan sampai kapan pun juga, ujarnya pelan sambil menempelkan kepala Dima di lehernya sendiri.

Dan sepatu merah marun itu kini menjadi sempurna. Bercak-bercak putih itu lenyap sesaat setelah pecahan kaca itu berdiri dengan gagahnya di atas perut Dima...