Sabtu, 31 Desember 2011

great job, 2011 :)

less than 8 hours in my local time, before we hit another January 1st. this time i should did my pre-final project though i'm here trying to recall every single moment that already happened this whole year.

for me, 2011 is about acceptance. i've worked hard -  sometimes i nailed it, but there's always hard times that i just couldn't help myself facing reality that didn't even match slightly with my expectation. i've tried, i've failed, i've cried - a lot, i've down, and yeah, there's always a hope when God decided to close that door in front of your face.

but i really thankful for being here, grabbing some lessons in the end of this year. how to respect others choices. how to appreciate every little thing that people had done for me. how to keep my dream and hope higher and higher.

some plans didn't go well. but life has its own path. its sparks popped up at the right time, showed me the different way, which even better than mine.

i don't have any resolution for 2012. i've changed my strategy lately. i've made my bucket list before i turned 30. and i hope the next following years i could crossed one by one every single thing on that list.

2012 seems tempting. i really don't give a sh*t with those issues about dooms day. let us just enjoy the time and live it to the fullest. i believe the next following year has its own magical moment. i'm hanging my dreams on you, 2012!

last but not least, happy new year everyone! be blessed always and don't forget to always thankful. though the weather isn't friendly lately, please keep your heart warm as always! i love you, universe! :)


do i look more silly as older as i am, don't i? hihi :P

Minggu, 20 November 2011

a walk of fame for a mate named ANDRIAN :)

(*tlg dibaca sambil denger no other ya, plis plis plis)
(*penting banget utk membangun suasana dan memegang peran penting untuk menit-menit berikutnya)











Happy superb birthday to you! Haha! Enjoy the double two!

Maap ya andrian cantik, gw ngga punya duit beli kado ni! Lo tau sendiri duitnya lg ditabung buat ketemu calon suami! Haha! Jadinya cuma kasih begini doang, deh. Jangan kecewa trus kagak nraktir gw yaa! :)
Kalo diinget-inget lagi, udah lama juga yaa kita kenal, dan gw semakin yakin kalo elo emang perlu dimuseumkan karena berdasarkan data lapangan, yang kaya elo udah ngga diproduksi lagi, ndrai! Kata Tuhan mah, soalnya kemaren kagak laku di pasaran. Hihi.

Stay stunning ya, ndrai! No matter what, peduli setan orang bilang apa, just be yourself! Thanks for always being there when I really need somebody to talk, serious discussion or just silly conversation. Your stupid mind is nothing compared! Haha! Akhirnya gw bisa menemukan orang yang bisa gw ajak berdebat dan diceritain mimpi-mimpi bodoh dan keinginan-keinginan semu gw gara-gara kebanyakan nonton film dan membalasnya dengan omongan-omongan nggak kalah nggak masuk akal.

Semoga lo tetap bisa meneruskan bisnis keluarga dengan terus mencari koin di pelabuhan, bisa terus mengasuh kedua adek tersayang dan tidak mengubahnya menjadi kebab atau makanan sebangsanya, jadi anak berbakti pada dosen pra TA dan dilancarkan proposal ganti judulnya, semakin bisa menempatkan diri – mau jadi cowok atau cowok jadi-jadian buahahahaha ampun kakak, dan tidak lupa nantinya bisa naik haji bila mampu.

Maaf yaa, gw suka ikut-ikutan kebawa anak2 nge-bully elo, ngata-ngatain, ini mulut emang kalo sekolah suka ngga ikut, sok-sok ijin sakit gitu buat bolos hehe. Jangan diambil ati, ya! Anggaplah rasa sayang yang tidak menemukan bahasanya.. tsaaah! Anjir gw ngomong apa sih yaa! Balaslah semuanya dengan doa, ndrai. Dan gw minta khusus buat gw doanya adalah dipertemukan segera dengan calon suami gw yang bernama mas CSW itu kan yaa.. keburu gila ini kan..

Ngomong-ngomong jodoh, semoga elo lekas dipertemukan dengan gadis khilaf yang sedang mencari pasangan hidup. Haha! Becanda! Tapi bener deh, semoga ya semoga, nanti taon depan ada mukjizat. Makanya doain gw sama mas CSW, jadi nnti gw mnta itu adeknya doi yang sebelas dua belas sama doi mau ngebiayain elo operasi plastik dan mengambil elo sebagai mempelainya.

Hahaha! Ah, gw makin ngelantur nih! Pokoknya selamat ulang taon deh! Semoga doa-doa nya terkabul termasuk yang ngedoain gw sama mas CSW itu (tetep!). Hihi! Besok-besok kalo kita udh lulus lo jangan lupa sama gw ya, ndrai! Huhu.. pasti bakalan kangen banyolan lo yang suka mendukung tindakan bully membully diri lo sendiri itu.. hehe.. Kita harus bikin clothing line bareng, ndrai! Kita jadi arsitek cool yang duitnya banyak dan bisa belanja seminggu sekali tanpa harus ngitung bon bakalan habis berapa! Hehe!

Well, stay young! Akhir kata akhir cerita, nanti kalo lo mau cari gw, ke Amerika langsung ya! Ato kalo lo ngga ada duit, ya udah ke Korea aja.. kita janjian ketemu di sana, sekalian gw silaturahmi sama mertua… buahahahahaha :P


Sooooo much hugs and smooches,

Aya :)


P.S. : awas aja kalo lo ngga denger no other pas baca ini!!
P.S.S. : kenapa no other, karena emang elo cuma satu-satunya dari jenis lo! Hihi! Kidding! Stay unique as well as always, ndrai! :)


 

Kamis, 27 Oktober 2011

CHAPTER 02. part 4.

Hampir dua minggu sudah. Aku tidak berbicara dengan Radit. Betapa rindu aku mendengar suaranya yang sangat mengganggu itu. Tapi sebagai gadis keras kepala yang baik, tingkat gengsi ku seperti biasa, sudah berada di level yang cukup tinggi. 

Komunikasi kami benar-benar hampir terhenti. Kecuali dengan tingkat kedewasaan yang terus berkembang, kami masih saling mengingatkan makan, minum obat, atau berdoa. Thanks God, there's text message service! Jadi meskipun sampai detik ini tidak ada salah satu dari kami merelakan diri memulai pembicaraan atau bahkan meminta maaf, setidaknya kami masih saling berkirim pesan singkat.
Pesan singkat dalam arti yang sebenarnya seperti: 'Jangan lupa makan', 'Jangan kebanyakan kopi', 'Minum air putih', yang berbalas 'Oke' dan 'sudah'. Teknologi memiliki peran yang penting dalam hubungan yang tidak jelas yang kami miliki dan pelihara hampir 3 tahun ini. Jangan salah, kami sama seperti para ABG labil di luar sana. Bahkan semakin mirip di usia yang semakin tua.

Meskipun dengan komunikasi super aneh dan jadwal bertemu yang ogah-ogahan, tidak pernah sekalipun aku meragukan kesetian seorang Radit. Tidak barang semenit pun. Meskipun bukan tidak mungkin orang semapan dan semenarik Radit tidak memiliki keinginan untuk selingkuh. Radit adalah salah satu dari ribuan makhluk yang memberi tanda cek pada kolom laki-laki yang mengetahui betapa menarik dirinya.

Radit selalu bilang dirinya tidak ganteng, selalu bilang 'ah, nggak' atau 'bisa aja' kalau ada orang berkata 'Radit, kamu kok ganteng banget, sih'. Tapi selalu sadar dan langsung jadi orang paling cool dan berstempel 'paling-tampan-sedunia' kalau beberapa perempuan di meja seberang mencuri-curi pandang ke arahnya dan berbisik sambil terkikik pelan. Dia adalah orang yang sangat berbeda ketika berkumpul bersama teman-teman lelakinya dan saat menemaniku pergi ke pesta. Biasanya aku begitu emoh untuk sekedar melirik laki-laki yang sadar muka, tetapi untuk yang satu ini, aku sudah dipaksa untuk mengalah dan memilih berjalan di sebelahnya menghabiskan sisa hidup yang nggak tahu masih seberapa lama diberikan sama yang di atas sana.

Dengan penampilan santai namun tetap terkesan charming dan gentleman, Radit mampu membius gadis-gadis ABG, wanita karir, bahkan pembantu di rumahnya yang meskipun sudah beranak dua masih mengidolakan Mas Radit-nya sehingga tidak pernah absen menyediakan secangkir kopi saat tuannya itu pulang ke rumah, entah itu diminta atau tidak. 

Namun seorang Radit tampaknya akan lebih memilih membius pekerjaan daripada gadis baru untuk diselingkuhi. Meskipun terkesan sadar muka, yeah, he’s another workaholic. Now. Dulu? Dia bahkan tidak bermimpi untuk terjaga jam dua malam demi menyelesaikan proposal design iklan yang dirancang timnya.

Dari situlah, tidak pernah sejenak pun aku merasa terancam akan kehadiran wanita idaman lain yang mampu memuaskan matanya yang mungkin sudah kelelahan menatap layar komputer. Hingga akhirnya buruh-buruh ibukota ini melontarkan pertanyaan-pertanyaan setara wartawan gosip yang mampu membuat rumah tangga pasangan selebritis retak ditempat.

"Tolong dong Ence, itu TV lo di ganti KBS World, please. Udah jam satu nih!" teriak Kinar mendadak setelah, tampaknya, membaca pesan singkat di telepon genggamnya.
"Dih, tumben amat, lo! Biasanya dikasih Fashion TV sama popcorn juga udah ngga beranjak!" Masih heran, aku tetap memberikan remote yang ada di dekat ku ke arah Ence. Dan begitu channel berpindah, Kinar mendadak berteriak kencang tanpa peduli teman-temannya masih membutuhkan telinga untuk mendengar.
"Anjrit, telinga gue woy! Bukan microphone!" Ence tampak gusar, "Kalo sampe gue diusir dari sini, lo bertanggung jawab nyariin gue tempat tinggal yang senyaman ini!"
"Aduh, sorry, deh, sorry! Ini laki kagak nahan deh demi demi! Mau deh gue dinikahin sekarang juga kalo sama dia!"
"Itu mah elo yang ngarep!! Dasar gembel! Mana ada yang nolak kalo dinikahin cowok macem itu? Inget umur tanteeee!! Jelas namanya aja Super Junior! Sementara elo senior nya senior!" sembur Nora kesal, tapi tetap ikut duduk di sebelah Kinar menikmati 'surga dunia' versi mereka.
"Siapa sih ini?" tanya Anet sambil membetulkan letak kacamatanya yang sangat tidak perlu dibenahi, gue yakin banget cuma biar keliatan pinter aja tuh.
"Namanya Choi Siwon. Personil Super Junior paling ganteng! Dan yang lebih penting paling tajir! Lo inget ngga, Ce! Waktu kita ke Korea gratisan itu terus kita ke Hyundai Department Store gara-gara tulisan sale segedhe dosa itu? Punya bokap doi, nih!! Gue ngga peduli dia tiga tahun lebih muda dari gue!!" Kinar tidak berhenti menunjuk-nunjuk layar televisi.
Ence dan aku segera menelengkan wajah ke arah televisi.
"Betapa dunia nggak adil. Sementara gue sibuk cari jati diri dan pasangan hidup, ada aja orang masih muda udah tenar dan banyak duit sedari lahir," Ence berkata dengan nada bercampur sedih, iri, dan setengah naksir.
"Satu lagi, Ce! Setia! Ngga pernah selingkuh! Gila ngga tuh?" Kinar makin menggebu-gebu. Mungkin kalau televisi itu miliknya, layarnya sudah basah diciuminya dengan nafsu.

“Astaga, demi apa, sampe segitunya elo tau seluk beluk kehidupan doi? Jago amat ni si Anet nularin Kinar yang beginian. My Tough Lady jadi nontonin yang beginian! Anyway, ngomong-ngomong setia, lo nggak takut gitu, Ge? Suatu saat lo menemukan Radit lagi gandengan mesra abis ngalahin Jolie-Pitt ato pasangan muda macem Justin Bieber- Selena Gomez?” Ence si tukang gosip lagi-lagi sukar menyegel mulutnya yang penuh dosa. Bagaimana mungkin dari artis Korea dia bisa melipir ke hal-hal beginian?
Nope,” jawabku singkat tanpa mengalihkan pandangan dari majalah pernikahan yang diboyong Anet jauh-jauh dari salon langganannya.
“Radit kan ganteng, Ge! Banyak yang doyan! Lagian status kalian sekarang super nggak jelas gitu.. Ditambah apaan tuh, nggak ngobrol dua minggu, cuma texting bego kaya orang baru kenal handphone. Mana ada jaminan Radit bakalan ngawinin elo?!” Ence mulai menjelma menjadi petasan kawinan khas Betawi.
"Banyak yang doyan termasuk elo maksudnya? Itu sih gue ngga perlu khawatir, Ce! Radit juga bisa bedain mana yang body nya asli mana yang jadi-jadian!" celetukku asal yang menciptakan kerutan-kerutan aneh di wajah Ence.

“Kawin sih pasti bisa, Ce.. Nikah itu yang belum tentu.. Ya nggak, Ge?” goda Nora sambil mengangkat jarinya tinggi-tinggi, berpura-pura melihat hasil karya nail art kuku kebanggaannya. Kinar dan Anet terkikik pelan di depan televisi sebelum kulemparkan lirikan ganas yang akhirnya membuat dua wanita itu segera fokus dengan si ganteng Choi Siwon, anyway untuk sekali ini selera Kinar bisa kumaklumi, sebelum kulempar dengan bantal.

"Ribet amat deh kalian ngurusin gue, dibayar juga nggak. Jangan-jangan ada konspirasi nih sama emak gue yang nanyain mulu kapan gue nikah?"
Kuikat rambutku tinggi-tinggi. Tiba-iba gerah sendiri. Betapa akhir-akhir ini dunia menurutku dengan begitu rempongnya, mengurusi tetek bengek hubunganku dengan Radit. Rasanya justru ingin tertawa hingga sakit perut. Begitu banyak yang ingin tahu apa yang terjadi, bagaimana kelanjutannya, kapan dibawa ke jenjang berikutnya, dan bla bla bla. Tetapi tidak satupun yang menyadari bahwa pertanyaan mereka nyaris sama dengan pertanyaan terpendamku untuk Radit.

Masih teringat saat itu, ketika untuk pertama kalinya aku bertemu dengan orang bernama Radit ini. Ketika itu betapa aku ingin melempar tumpukan kertas yang kubawa ke arahnya karena seenak jidat menabrakku hingga pekerjaanku terlempar dengan sempurna jatuh ke lantai, dan melenggang setengah berlari. Setelah tidak tidur selama 3 hari, otakku benar-benar kacau dan susah diajak bersabar. Berjuta rutukan keluar dari mulutku. Cowok goblok, idiot, anjing, ngga tau sopan santun, brengsek, ngga tau orang lagi capek, bego, kurang ajar, sembarangan, ngga punya mata, dan berbagai isi kebun binatang lainnya.

Entah suaraku yang terlalu keras, pendengaran Radit yang super sonik, atau mungkin dia dibisiki malaikat baik hati, dia tiba-tiba kembali dan membantuku membereskan kertas sambil berulang kali minta maaf. Saat itu setengah gusar setengah marah, aku menerima bantuannya, sambil meneruskan rutukan di dalam hati. Selesai membereskan harta benda yang telah kuperjuangkan seminggu ini, tiba-tiba dia berkata panjang lebar hampir-hampir tidak bisa kupotong.

"Maaf, ya! Tadi gue buru-buru! Nggak maksud nabrak, deh, bener! Tadi gue ngelihat ada orang mirip bokap gue lagi sama perempuan. Gue kira dia udah nikah lagi akhirnya. Maklum, gue masih emosi. Lo tau sendiri kan kalo orang emosi gimana? Tadi gue lari dari depan sana! Takut bokap gue keburu ngilang gara-gara gue! Eh udah capek-capek ternyata bukan bokap gue! Bego banget ya! Haha!"

Dalam hatiku saat itu, 'Siapa elo sih? Bawel banget ketawa garing pula. Astaga!'. Mungkin saat itu wajahku sudah setengah melompong, kaget, belum ada dua bulan akhirnya kuterima pekerjaan sebagai junior arsitek, disembur seorang laki-laki sebegitu cerewetnya dan tanpa tedeng aling-aling membuka aib keluarganya pada orang yang tidak dikenal.

"Oh iya, Rahaditya! Kerja di sini juga?" katanya kemudian sambil mengulurkan tangannya, mungkin sebagai permintaan maaf atau gara-gara melihat wajah memelasku.
Cukup kaget, baru kemudian kupindah kertas-kertasku ke tangan kiri dan menjabat tangannya, yang ternyata aduhai, itu tangan halusnya parah banget! Sampai-sampai aku menuduh orang ini pemalas.
"Eh, Gendis. Nggak, disini mau anter gambar klien aja."
"Arsitek, eh? Hmmm. Boleh boleh. Mau ke lantai berapa?"
Saat itu aku tidak menjawab karena tiba-tiba disibukkan dengan telepon yang berdering dan demi melihat nama yang muncul di layar harus kuangkat sesegera mungkin. Aku berbicara cukup lama. Mungkin ada kali sepuluh menit.
"Jadi mau ke lantai berapa?"
Pertanyaan itu lagi. Aku terheran-heran. Ngapain ni orang masih di sini? Aku pikir laki-laki yang satu ini akan segera minggir jauh-jauh.
"He?!?" Aku sangat yakin. Wajahku saat itu pasti mirip kambing mabok kebanyakan minum pocari sweat. Iya, absurd emang.
Dan laki-laki itu tertawa. Menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Gue nanya, elo mau ke lantai berapa.. Gitu amat deh kaya diajak kawin! Selooow aja kali.."
Untuk saat itu habis sudah kesabaran yang sedari tadi kuirit-irit. Dengan langkah seribu kutinggalkan laki-laki super aneh ini dan melenggang cepat-cepat sebelum dia membuka mulut busuknya sekali lagi.

Entah jodoh entah celaka, klien yang satu ini ternyata menyukai hasil pekerjaanku. Dan semenjak saat itu aku semakin sering ke kantornya untuk membahas setiap detail progress proyek yang kutangani. Dan semenjak saat itu pula, aku semakin terbiasa dengan senyum bodoh seorang lelaki yang mengetahui rutinitas kedatanganku ke kantor itu dan menunggu dengan setia di kafetaria yang kusambangi setelah selesai berdiskusi dengan klien.

Dari senyum bodoh, kemudian milk tea ice, dilanjutkan suatu hari aku ke sana tetapi tidak ada senyum bodohnya. Kebetulan hari itu aku sedang frustrasi, jadi ketidakhadirannya cukup membuat pikiran lebih tenang, meskipun aku mulai merasa kehilangan teman bercerita dan berkeluh kesah, menumpahkan unek-unek tentang klien yang sangat menyebalkan. Baru saja kutempelkan pantatku di bangku berwarna biru itu, seorang pelayan datang meletakkan segelas milk tea ice dan secarik kertas.

"Dari temannya, Mbak.. Minta maaf nggak bisa nemenin, soalnya katanya mau keluar kota seminggu.."
Temen gue yang mana ya? Genk berisik ngga ada yang rencana pergi deket-deket ini. Tidak ada diskon besar-besaran di negara seberang, sangat bisa dipastikan pula Kinar dan Ence akan berada di Indonesia. Kulirik kertas yang ada di sana, dan tertera surat paling konyol yang pernah kuterima seumur hidup.

"Halo, Gendis. Milk tea ice? Maaf loh, this gorgeous man couldn't be there rite now. Maklum, idola bos jadi dikirim tugas ke luar kota. Kalo masih kesepian, telepon aja. Om Girang siap menemani! - Radit"

Di bawah tanda tangan super absurd itu kutemukan nomor hape gratisan. Mau tak mau, kuseruput minuman di hadapanku sambil tersenyum sendiri. Peduli setan ini minuman ternyata isinya racun atau obat bius. Entah apa yang terjadi selama hampir 3 bulan ini, aku akhirnya mengirim pesan super singkat: "Lagi sibuk apa, Om? - Gendis" yang kemudian berbalas telepon, lalu pesan lainnya, ditambah telepon pagi-pagi buta, kemudian pesan singkat di sela-sela deadline, dan oleh-oleh yang tidak kalah konyolnya yang menantiku dua minggu berikutnya.

Voila, semenjak itu aku tidak pergi ke kondangan sendirian. Tidak pergi ke gereja sendirian. Tidak mengantar ibu ke pasar sendirian. Tidak memesan makanan melalui drive thru karena ada yang menemani makan ditempat. Tidak malas mandi karena ada yang sudah menunggu di depan pintu. Tidak sendiri di dalam mobil saat hujan.

Sejenak aku terdiam dan berpikir, apakah semua kenangan ini layak dibalas dengan tindakan bodoh saling berkirim pesan singkat tanpa mau mengalah dan memafkan diri sendiri? Sudah gilakah aku? Atau begitu laparnya kah aku hingga tidak mampu sadarkan diri? Berapa shot yang kuteguk akhir-akhir ini?

"Hoi, perawan tua! Bangun lah! Gimana mau dapet jodoh kalo hobinya melamun aje?" semprot Anet tiba-tiba.
"Iya, nih! Gue tanya mau nikah atau nggak, malah bertapa!" Ence tak mau kalah.
"Gue bego ya?" ucapku lirih, masih menyempatkan diri bertanya pada mereka.
Kinar lalu mematikan televisi, mungkin sudah puas menatap artis idolanya. Dia beranjak duduk di depanku. Menyeret tasku dan mengeluarkan handphone dari dalamnya.

"Elo emang bego. Tapi gue ngga peduli karena pada dasarnya elo selalu bego dan gue juga ngga pinter-pinter amat. Jadi tolong, elo ngga perlu lagi gengsi atau sok jual mahal. Mau berapapun tarif yang lo pasang, Radit definitely can buy! Gue paham banget kalo elo capek. Ngga semua orang punya hubungan sempurna. Bahkan Snow White harus rela keselek dan mati suri sebelum dapet cowok ganteng. Here, please, chase your future.."
Kinar mengulurkan handphone itu, memaksaku menggenggamnya dan berpikir kembali. Perempuan di depanku ini menatap dalam-dalam ke mataku. Dia memang bukan wanita sempurna. Dia adalah gadis konyol yang terjebak di tubuh seorang wanita karir yang setengah matre dan gila belanja. Dia adalah perempuan yang mendesain baju untuk orang lain tetapi memilih kaos polos untuk dipakai sehari-hari. Perempuan yang selalu ku nasihati karena tindak tanduknya yang terlalu impulsif. Perempuan yang sudah terlalu sering menjadi objek kebawelanku.

Sekali ini, bukan aku yang menceramahi Kinar. Kata-katanya barusan jelas menghapus image penyuka berondong Korea yang muncul sebelumnya. Kutekan juga nomor itu. Debar kencang kurasakan ketika menunggu telepon itu disambut di seberang sana.

Tidak diangkat. Aku menggeleng. Kinar berkata coba lagi. Dan kali ini diangkat. Meski bukan Radit.

"Halo, Radit phone's here! Dengan siapa ya?"
Wajahku berkerut heran. Siapa gadis ini?
"Eng, Radit nya di mana ya?"
"Oh, lagi di toilet! Tadi ngga mau saya angkat, tapi telepon lagi. Mungkin penting, jadi saya jawab. Ini dengan siapa kalo boleh tau?"
"Ini Gendis." Ingin kusebut lagi statusku, namun urung, karena bahkan aku pun tidak tahu siapa diriku bagi Radit sekarang ini.
"Ooooh, Mba Gendis.. Ini Betari, Mba.. Radit lagi ke toilet.. Ada pesen?"
"Oh, Ayie. Hmm. Nggak, deh! Nanti aku telepon lagi, bilang aja tadi Gendis telepon."
"Oke! Disampaikan pasti!"
"Makasih, ya.."
"Sama-sama, Mba!!"

Telepon kututup. Wajah-wajah di depanku sudah berebut bertanya bahkan sebelum mulut mereka terbuka.
"Radit di toilet. Itu tadi Ayie yang angkat."
"Ayie? Lagi? Sering ya kayanya Ayie sama Radit.."

Entah apa maksud pertanyaan Kinar barusan. Tapi kulihat Ence langsung memandangku dengan tajam. Yang hanya mampu kujawab dengan diam. Sejuta rasa tiba-tiba membuncah.

Mungkin akhirnya aku bisa cemburu.

CHAPTER 02. part 3.

Resiko punya kamar yang berbatasan langsung dengan taman. Pintu kaca nya selalu memberikan akses yang berlebih kepada sinar matahari. Sama seperti hari-hari Sabtu sebelumnya, dengan terpaksa aku harus membuka mata lebih awal dari jam bangun tidur yang direncanakan semalam. Perlu 15 menit untuk membuat otakku mulai meraba kondisi sekitar. Tapi mataku tampaknya memakan waktu yang cukup lama. Masih dengan terpejam, aku meregangkan otot-otot tangan, yang refleks justru menarik selimut yang entah sudah kutendang-tendang kemana semalam.

Aku tidak suka pake AC, membuat kamarku menjadi satu-satunya kamar yang punya kipas angin di pojok ruangan, yang semalam terpaksa tidak kunyalakan karena bekas hujan membawa angin melimpah yang membuat ku memilih tidur dengan sweat shirt buluk kebesaran milik Radit yang sudah ku stempel hak milik dari satu tahun yang lalu. Belum sempat aku selesai merenggangkan otot-otot di sekujur tubuh, Mota membuka pintu kemudian masuk dan melemparkan roti keju tepat ke arah mukaku.

"Bangun, woi! Pantesan kagak nikah-nikah lo! Gimana mau laku coba kalo perawan jam segini belum bangun?! Eh, lo masih perawan kan, Mbak, tapi?" sembur Mota sambil mengobrak-abrik meja riasku, mencari sesuatu untuk mengikat rambutnya yang gondrong itu.

Bocah yang satu ini, kadang jauh lebih bawel daripada Ibu. Jauh lebih cerewet tentang kelakuanku daripada Eyang.

"Banyak omong! Dari siapa ni roti? Tumben amat ada yang beginian. Ibu ngga masak apa?"
"Itu calon suami lo yang bawain kali! Dia udah melanglang buana beli sarapan, bayangin aja dari rumah doi ke sini, kagak malu lo?"

Demi mendengar omongan Mota barusan, segera kulempar selimut yang tadi susah payah kutarik-tarik. Kuikat rambut sekenanya. Belum sampai aku meraih gagang pintu, Mota sudah menyalak lagi.

"Udah balik doi ngga perlu heboh gitu kali! Mampir doang tadi! Kasih roti sama yoghurt! Tau banget tuh Radit caranya nyogok Ibu. Nggak tanggung-tanggung, Mbak! Pie apel masih panas udah bertengger tu di dapur!"

Dan semangatku langsung melorot. Super ogah-ogahan aku kembali ke kasur, bersandar di kepala tempat tidur sambil membenamkan badan ke dalam selimut.

"Dimakan kali, Mbak.. Udah jauh-jauh bawainnya.. Paling ngga kan udah ada niat dia bela-belain ke sini anter sarapan.."
"Iya, buat Ibu. Nggak buat gue. Buat elo! Ketemunya sama elo."
"Elaaah, timbang ngga ketemu doang. Kaya cuman sekarang bisa ketemunya.. Telepon, gih!"
Mota melepaskan ponselku dari charger-nya kemudian menyodorkan ke depan mukaku.
"Ngga usah gengsi lo, Mbak! Sopan dikit, bilang makasih! Gue minggir dulu deh di sana sambil makan roti kalo lo malu!"
"Ngga perlu! Lo disini aja!" seruku galak. Kuambil ponsel dari tangan Mota dan kutekan nomor itu lagi.

"Pagi, Gege! Udah bangun? Hehe.."
"Udah, barusan! Dilempar Mota pake roti.." sengaja kutekankan kata roti. Entah kenapa, ingin rasanya hari ini aku membuat seseorang merasa bersalah padaku. Padahal seingatku tanggal merah bulanan baru seminggu yang lalu berakhir.
"Ah, iya. Dimakan gih rotinya! Jauh-jauh tuh belinya, sayang kalo dianggurin."
"Masih males. Perutnya ngga enak diisi makanan pagi-pagi!" jawabku masih dengan ketus yang membuat Mota menaikkan alisnya.
"Yah, kebiasaan kan dia.. Tunggu aja dua jam lagi pasti marah-marah perut minta diisi tapi makan siang belum ada di atas meja.."

Tidak kuhiraukan candaan Radit kali ini. Entah kesambet, entah memang sedang sensitif, atau bahkan alter ego ku ingin perhatian lebih banyak dari biasanya.

"Tadi ke rumah jam berapa?" tanyaku masih tanpa semangat.
"Pagian, sih.. Semalem espresso-nya parah, sampe jam 5 tadi ngga bisa tidur, yaudah deh, keluar aja sekalian jalan-jalan mumpung masih pagi kan.. Mampir toko roti, langsung deh bertengger di depan rumahmu, nungguin jam 7, ketok pintu, si Mota yang muncul, terus teriak-teriak manggil Ibu.."
"Kenapa nggak teriak manggil aku?"
"Nyaris, si Mota udah pasang kuda-kuda teriak lagi manggil kamu, tapi kan semalem kamu masih ada kerjaan, pasti capek kan, jadi mending biarin tidur aja.. Lagian begitu sampe rumah kamu mata udah mulai pedes, takut ketemu kamu ngobrol lama, ketiduran malah ngga bisa balik nanti.."
"Astaga, segitunya males ketemu sama aku?"
"Lah. Bukan gitu, Ge.. Kan masih pagi tadi, nggak enak bangunin kamu.. Yakin pasti kamu masih capek semalem begadang juga.."
"Tapi nggak gitu juga, langsung main ngeloyor aja.. Kalo kamu ngantuk ya tinggal bilang, masa iya aku paksa-paksa di sini terus.. Nggak mungkin.."
"Loh kok jadi aku? Tadi itu Mota udah mau bangunin kamu, tapi ngga gue bolehin kali! Ganggu orang tidur namanya kalo maksa dibangunin!"

Anggap aku labil. Tapi begitu kata 'gue' keluar dari mulut Radit, bagiku artinya adalah bendera merah, tanda perang sudah siap dimulai.

"Dibangunin pas lagi capek emang nggak enak, Dit! Tapi boleh kan gue bikin pengecualian buat elo! Gue nggak akan semarah itu dibangunin pagi-pagi kalo emang elo yang dateng!"
"Apaan, sih, Ge! Kenapa jadi sewot gitu, sih? Yaudah lah, maaf kalo tadi aku ngga ketemu kamu! Intinya cuma aku ngga pengen ganggu kamu tidur. Itu aja! Terserah ya, kamu ngerti ato ngga. Kaya ngga pernah ketemu aja, besok-besok juga masih bisa kan.."
"Bedain dong! Ganggu tidur itu buat urusan ngga penting! Dan menurut gue ketemu elo itu penting, Dit! Kaya ngga bisa ketemu? Besok-besok masih bisa? Ngomong sama kaca! Siapa yang makin susah diajak ketemu?"
"Kenapa jadi merembet ke masalah ketemu, sih? Gue emang sibuk, tapi kalo elo minta ketemu juga bakalan gue sempetin, Ge!"
"Bakal disempetin? Demi bangunin gue sebentar buat ngucapin selamat pagi aja lo minta bantuan Mota lempar roti!"
"Kan udah dibilang dari tadi aku nggak mau ganggu tidur orang! Jangan besar-besarin masalah, dong! Masih pagi! You just ruin my weekend!"

Kata-kata terakhir Radit adalah sangat menyakitkan. Bagiku, dikata-katai seperti itu lebih buruk daripada revisi sehari sebelum deadline. Harusnya aku yang marah karena kedatangan Radit ke rumah tanpa sempat bertatap wajah denganku membuatku sudah ngomel panjang sepagi ini.

"Then it's my fault! Iya, gue ngerusak weekend lo! Puas? Nggak usah lah besok-besok sok mampir ke rumah kalo emang ngga mau ketemu gue!"
"Ngomong apa sih kamu? Waras dikit dong, Ge! Kamu kecapekan, ngomong kacau gini, jadi besar-besarin masalah! Non sense! Kaya anak kecil!"
"Kaya anak kecil kamu bilang? Oh, makasih ya! Emang gue manja, gue banyak minta, seenggaknya gue ngga ngata-ngatain orang kurang waras!"
"Tuh kan lagi! Apa kamu emang dilahirin untuk membalikkan kata-kata semua orang? Aku bilang A, kamu bahas sampe aku bilang B! Nanti kalo udah aku bilang B, kamu bakal cerca lagi pake B, lanjut ke C, lanjut ke D, ngga selesai-selesai! Kamu kejar terus sampe aku bingung harus ngomong apa! Dikira kamu aja yang capek? Aku juga capek, Ge, kalo setiap masalah kecil sama kamu jadi besar!"

Terdiam. Aku mulai kehilangan kata-kata. Telak, bagai pencuri ketahuan sedang menyembunyikan barang jarahannya. Lagi-lagi aku hanya bisa mulai terisak. Bodoh memang, memulai perdebatan tetapi di tengah jalan tidak mampu menyelesaikannya karena tidak memiliki amunisi lagi untuk sekedar membela pendapat.
Aku mungkin memang yang sudah mulai tidak waras. Sok tangguh, menyalahkan orang lain karena masalah kecil, membalikkan kata-kata, menyangkal semua penilaian. Kami terdiam cukup lama. Ego ku masih tinggi, sekedar untuk mengucapkan kata-kata untuk mengakhiri pembicaraan yang tidak memiliki esensi sama sekali ini.

"Jangan bikin aku ngerasa bersalah, Ge. Apalagi kalau kamu udah mulai nangis gini. I just can't handle it. Mau ngomong sepanjang apa kalo kamu udah nangis juga nggak berguna.."

Bisa kudengar, helaan nafas panjang dan berat setelah Radit mengatakannya. Bagaimana bisa sekarang Radit yang membuatku merasa bersalah? Padahal jelas-jelas rencana pembicaraan omong kosong ini adalah membuatnya berada di posisi yang tidak nyaman dan merelakan dirinya mengucapkan maaf kemudian kembali menjadi Radit yang akan menuruti permintaan gadis manja dan keras kepala seperti aku.

"Kamu butuh waktu sendiri. Aku ngga akan minta maaf, Ge, karena aku tahu kali ini aku nggak salah. Terserah kamu bilang aku egois. Aku capek, Ge. Aku juga tahu, kamu pasti lebih capek dari ini. Tapi tolong, bukan cuma kamu yang jatuh bangun di sini, Ge.. Aku juga. Silahkan marah, terserah kamu mau sampai kapan. Aku tunggu kamu siap diajak ngomong dengan kepala dingin. Aku mau tidur. Capek."

Telepon ditutup. Aku menghela nafas cukup panjang. Terdiam cukup lama. Demi Radit yang begitu baik mengantar sarapan dan membiarkan aku istirahat karena kelelahan, dimana sopan santunku yang malah menyemburkan amarah? Kamu keras kepala, dan sangat gemar menyalahkan orang lain karena kesempatanmu hilang begitu saja. Suara itu bergema terus di kepala. Silih berganti dengan air mata yang perlahan mengering.

Mataku menatap lurus. Sempat terekam, Mota beranjak keluar dengan malas. Menutup pintu pelan-pelan. Kemudian meninggalkan hening. Dan seorang gadis paling egois.

Selasa, 18 Oktober 2011

Simba ♥

Hi! I am Simba! And I'll protect you! :)


"hooooo....."


and that ridiculous eyebrow are just really like yours! ♥ ♥


Jumat, 14 Oktober 2011

when i hit the 4th year

hello there!
wow! it's quite long from my last post, isn't it?

 
hadiah ulang taon buat @obeell 12 oktober kemaren gara2 ngga bisa bobo malem2 

well, sepertinya saya bakalan jarang-jarang ngepost deh. poto yang di atas juga diambil jam stgh 3 pagi. this schedule is freakin' tight!
bukannya mau sok sibuk, apadaya, ketika udah mau siap-siap posting, mata melirik menangkap selembar kertas bertuliskan KARTU RENCANA STUDI yang dengan sadisnya mencantumkan kata-kata seperti studio tematik 2, kerja praktek, dan pra tugas akhir.

syalalalalalaa!
cukup horor buat saya yang sampai detik ini masih sering menunda pekerjaan sesering saya mengingatkan diri sendiri untuk tidak malas. jadinya ya sama aja, mengumpulkan semangat secepat dia menguap dan ilang aja gitu nggak tau kemana.

my internship's program is already done. but the internship's report is still on the list to glanced. haha. belum selesai juga sampai sekarang karena dengan gapteknya saya malah kebingungan begitu dikasih automated template yang harusnya bikin gampang.

sementara itu, saya juga harus kejar-kejaran sama deadline studio dan pra tugas akhir yang menguras otak, tenaga, bahkan duit karena saya harus menyisihkan selembar demi selembar untuk bisa beli buku pendongkrak bualan-bualan teoritis di skripsweet saya nanti.

semester ini hore banget lah pokoknya! ya ya ya ya, saya tau, saya sendiri yg salah sok-sok maksain mau cepet2 lulus tanpa melihat kemungkinan (besar) bakalan banyak yang keteteran. aih, jangan sampe sih tapi. saya udah mulai males kuliah. males sama duduk dengerin dosen sama tugas-tugasnya, hehe. bosen. tapi masih tetep pengen duduk bego di innercourt kampus ngobrol dari kebodohan diri sendiri dan temen, latest fashion, cowok ganteng, curhat edisi galau, bahkan ngomongin indonesia yang diserang pencaplokan wilayah dan kebudayaan.

then, time flies. sooooo much faster than we've already thought before. why oh why, baru ngerasa sekarang kalo waktu yang lalu-lalu itu harusnya dilewati lebih dari sekedar makan bareng dan foto-foto. bahwa harusnya kalo emang mau kumpul ya kumpul. ngga kaya sekarang, mau makan bareng susahnya minta ampun karena udah sibuk sendiri-sendiri.

astaga! me no likey!

....

tapi justru di titik ini saya berharap, bahwa teman-teman yang saya temukan sekarang ini adalah teman-teman terbaik yang saya punya. yang dengan sisa-sisa waktu menuju garis finish yudisium ini, benar-benar menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa diandalkan untuk mendukung, menyemangati, bahkan memarahi saya kalo saya salah.

demi choi si won, adam levine, kim hee chul, james mcavoy, johnny depp, dan kawan-kawannya yang dianugrahi muka ganteng langit dan bumi, SAYA SAYANG SEMUANYA!! :D

so much to do, so little time. that what they said.
tapi saya yakin, saya masih punya waktu untuk menyempatkan diri mendengarkan cerita mereka kalau mereka membutuhkan saya. saya jamin! sesibuk apapun saya! karena saya ngga mau kehilangan lagi waktu-waktu bersama mereka. :)

last, thanks for being there for the last almost 4 years. it's not over yet. we just started again our engine to the future.

nanti, kalo udah wisuda semua, udah lulus, udah kerja, udah nikah, udah punya anak, yang mau ketemu saya, cari ke amerika yaa! haha! :D

 i definitely looooooove you all, class of 2008! :*

Kamis, 01 September 2011

just not my league

sebuah mention pendek di twitter dari seorang teman membuat saya tiba-tiba teringat sesuatu.

yeah, i'm jogja again. home. and missing something just a second after read that short mention.

sebuah perjalanan yang begitu hebat. sebegitu berartinya meski walaupun singkat sangat melekat, and just that easy to recalled. for some people, that shouldn't grouped into something called precious moment. but sorry to say, that's already being something that mean a lot for me.

haha. me, the little dreamer.
yang selalu ngimpi bisa ambil bulan dengan sapu bergagang panjang dari atas kursi plastik warna merah.

sejuta mimpi, yang dengan sangat hati-hati disusun. ah, bukan mimpi ini namanya. hanya angan-angan gara-gara kebanyakan nonton film komedi romantis. bukan mimpi, karena saya ngga setengah mati berusaha untuk mewujudkannya.

kenapa ngga setengah mati?
karena saya baru saja tahu kalau ini memang bukan tempat saya untuk bertarung dan bertempur. buat yang satu ini yaa, jauhnya ngga karu-karuan. kenapa jauh? ngga tau emang dia yg kualifikasinya emang tingkat dewa, atau saya yang mindernya minta ampun.

yang satu ini terlalu sempurna, sih. terlalu sesuai mimpi. kayanya yaa.
jadi kalau ngarep ya kaya ngarepin adam levine tiba-tiba ada di pintu rumah saya bawa anjing pug super imut terus nyengir kuda sambil pake kaos tulisannya will you marry me.
alias ngga mungkin.

selama ini saya selalu cari kriteria yang aneh-aneh. ngga kaya yang suka muncul di dongeng-dongeng putri tidur itu. dan sekarang, begitu disuguhi orang yang sangat-sangat memenuhi itu, saya malah mundur teratur.
iya, saya pengecut emang.
tapi apa mau dikata, yang satu ini terlalu di atas awan.

sudah berpuluh-puluh bibir meyakinkan saya. berkata kalau ini cocok, ini pas, ini tepat, ini dia yang ditunggu-tunggu. tapi belum ada yang sanggup memaksa saya berjuang buat yang satu ini. buat apa kamu ngebet dan usaha jatuh bangun kalau kamu udah tahu dan yakin produk yang satu ini bakal noleh ke kamu aja nggak? kalau kamu udah tahu produk yang satu ini sudah berharap dimiliki oleh pemilik yang lain? yang jelas lebih hebat?

it's just not my league.
dan saya harus cepat-cepat kemasin barang-barang cabut, kejar bus berikutnya untuk cari medan tempur saya yang pas sesuai kemampuan.

i'm outta here.
semoga berbahagia ya. semoga saya juga cepat-cepat menyusul berbahagia.
capek ah kabur melulu lari-larian gini. haha.

Sabtu, 30 Juli 2011

CHAPTER 02. part 2.

If love was a bird
Then we wouldn't have wings

If love was a sky

We'd be blue

If love was a choir

You and I could never sing

Cause love isn't for me and you...



Perlahan lagu Usher yang satu itu merayap ke telinga. Anjir, gue dikerjain, nih! Ence memang sableng. Jelas tahu temennya super galau, dengan entengnya dia memilih playlist pendukung suasana.
Apa iya emang gue nggak ditakdirkan untuk akhirnya jadi satu dengan sosok nyaris sempurna bernama Radit?

Ence masih asik entah itu yoga atau apa, yang jelas dia sibuk melipat-lipat kaki dan tangannya di beranda kamarku yang langsung mengarah ke taman. Sengaja kubuka pintu kaca lebar-lebar, agar angin bisa dengan leluasa menyegarkan otak yang mungkin terlalu besar untuk tempurung kepalaku yang terlalu sempit.

Otakku terlalu besar? Mungkin! Terlalu banyak mimpi, tapi hanya sekadar mimpi belaka. Mimpi jadi orang sukses. Mimpi keliling Indonesia. Mimpi berumah tangga di Praha. Tidak ketinggalan, mimpi jadi arsitek hebat. Satu-satunya mimpi yang mungkin mengingatkanku akan sosok ayah. Bahwa aku masih memiliki ayah yang menjadi panutan. Ayah yang seharusnya menemani anaknya beranjak besar dan dewasa. Tugasnya berhenti saat aku berusia 13 tahun.

Entah Ayah yang salah, atau Ibu yang kurang mengerti. Masih teringat di kepalaku. Ayah berteriak kencang di depan pintu ruang kerjanya. Itu bukan Ayah. Mungkin itu monster yang menjelma, mencoba mengobrak-abrik rumah tangga orang lain. Ibu juga sudah kepalang basah. Melempar tumpukan kertas gambar Ayah. Maket rumah-rumahan yang dua hari sebelumnya dibanggakan padaku dan pada Sati, adik perempuanku.

Aku hampir-hampir tidak bisa menangis menyaksikan adegan itu. Sati meraung-raung, mendekap boneka pandanya dan tanganku erat-erat. Sempat kulihat Ayah menengok ke arahku, dan ketika mata kami bertatapan aku yakin sekali beliau mendengar mataku berteriak 'kenapa' keras-keras.

Tidak ada yang bisa menjawab. Tidak ada yang bisa dijawab. Tidak ada yang bisa menjelaskan dan dijelaskan. Yang kutahu, sejak hari itu, kamar kerja Ayah tertutup rapat. Dan tidak sekali pun aku melihat lagi kepulan asap rokok dari dalamnya dan sepatu warna walnut keluar dari dalamnya. Tidak sekali pun hingga Ibu memutuskan kembali ke rumah Eyang Putri di Jogja tepat ketika usia ku 17 tahun.

Bagai kapal yang kehilangan jangkar, aku terombang-ambing di samudera yang luas. Perpisahan itu tidak hanya membuat aku terpisah dari Ayah. Tetapi juga Ibu, terlebih ketika aku memutuskan untuk kuliah di jurusan teknik arsitektur. Hampir setengah tahun Ibu tidak berbicara padaku, seolah hanya Sati satu-satunya anak yang beliau lahirkan. Semua perintah dan pertanyaan datang lewat Eyang Putri. Atau Sati. Atau Bi Jali yang setia membukakan pintu jam 3 pagi sekalipun saat aku harus lembur.

Kalimat pertama yang Ibu lontarkan padaku adalah sebuah pernyataan, yang secuil pun tidak menggetarkan hatiku. Ibu akan menikah lagi.

Membawa ku ke rumah ini pada usia 19 tahun. Memperkenalkanku pada Mota, anak semata wayang Ayah Padre. Adalah aneh ketika kamu memperoleh saudara baru pada usia 19 tahun dan bukan 9 tahun. Sati bagitu senang saat itu. Usia mereka sebaya, hanya terpaut satu tahun. Keinginan Sati tercapai. Memiliki seorang saudara laki-laki yang bisa menemaninya pergi ke acara-acara di sekolah saat tidak ada laki-laki yang berstatus pacar.

Ayah Padre memang baik. Tetapi tidak bisa menggantikan sosok Ayah. Hal yang tidak dapat kujelaskan secara nalar kini adalah betapa Ayah Padre dan Mota sangat dekat denganku. Melebihi ikatan darah yang kumiliki dengan Ibu dan Sati, karena mereka kini bagai berada di televisi. Terlihat, namun tidak dapat kurasakan sentuhan kehadirannya.

Mota lebih paham aku dibanding Sati. Sati sibuk dengan dunianya sendiri dalam sebuah bola kaca. Tak terjangkau. Kami sama-sama ingin melupakan lubang hitam masa lalu, tetapi memilih jalan yang berbeda. Dia mencari kebahagiaan pada orang lain. Sementara aku, menenggelamkan diri dalam tumpukan pekerjaan, yang mana aku sangat yakin tidak akan meninggalkanku dan selalu ada disana baik aku menginginkannya ataupun tidak, right?

"Ngelamun aja, nih?" Mota menampilkan cengiran khasnya di ambang pintu.
"Idih, panjang umur!" celetukku mencoba menepis lembar nostalgia yang baru saja melintas di kepalaku.
"Panjang umur apa? Ah, diomongin ni pasti gue!" seru Mota kemudian menyandarkan tubuhnya di pinggir tempat tidur.
"Sok tenar! Ngomongin sama siapa coba gue? Guling? Lo liat sendiri Ence lagi bertapa noh mencari jati diri sebenernya cewek atau perempuan!!" semprotku asal.
"I hear thaaat!!" Ence berteriak membelakangi kami.

Mota tergelak mendengarnya. Tawa yang begitu tulus. Betapa kini aku berterima kasih pada Tuhan, bahwa jika perpisahan kedua orangtua ku adalah jalan untuk bertemu dengannya, maka memang harus inilah jalan yang ditempuh. Mota begitu memperhatikan sekelilingnya. Ketulusannya akan menyentuh hati orang paling beku sekali pun.

"Apaan sih lo, Mbak? Ngeliatin gue sambil senyum-senyum sendiri! Gila ya lo?"
"I loooove you soooo much, Dimo Yudhistira!! Sini gue peluk dulu sini!!"
"Aih, sintingnya orang satu ini. Mabok apa sih lo? Diketekin lagi sama si Ence yaaa?? Peluk cowo lo sono! Eh, anyway, ngomong-ngomong tentang cowo, kapan nikah ni elo sama Radit? Kan gue pengen cepet-cepet timang ponakan, pasti doi bangga banget punya om kaya gue!"

Yaaaaak!! Bahkan Mota pun menanyakan hal yang sama!

"Nggak tau! Gue juga penasaran ni kapan! Besok deh gue tanyain ke Radit nya juga! Lagian ni yaa, tumben amat lo nanyain gue nikahnya kapan. Terakhir kita ngobrol, elo sendiri yang bilang udah nggak usah dipikirin biar gue meweknya berhenti?"

"Hehe, bukan gitu.. Soalnya ni tadi pas gue jemput Sati, dia nyeletuk ke gue..."

Belum selesai Mota menceritakan adegan jemput menjemputnya dengan Sati, si gadis topik pembicaraan menghambur ke dalam kamar memelukku cepat dan berteriak setengah menahan tangis,

"I'm getting married, honey!"

Picisan, tapi sumpah, ini memang seperti disambar petir di siang bolong. Masih di dalam dekapan Sati yang cukup membuat sesak nafas, bisa kulihat mata Mota yang seolah berkata ini-tadi-yang-mau-gue-kasih-tau-tapi-si-oknum-udah-masuk-duluan.
Bagaimana mungkin semuanya serba kontradiktif seperti ini? Di saat aku bingung hendak membawa hubungan ke jenjang yang mana lagi, dengan tidak santainya adik perempuanku satu-satunya mengumumkan bahwa dia akan mengucapkan selamat tinggal pada status lajangnya?

Sati perlahan melepas pelukannya, berganti dengan air mata membanjiri wajahnya dan bahu yang mulai naik turun siring dengan nafas memburu.

"Are you serious?" tanyaku lagi. Masih tidak percaya. Belum ada tiga bulan Anet berencana menikah, sekarang Sati hendak menyusulnya. Emang lagi ada lomba kawin apa??!! Setdaaah!

"One hundred percent, sissy!"

Lagi, tampaknya si petir belum puas menyambar. Sekali lagi dia menyetrumku lewat kata-kata Sati yang meskipun terbata-bata, kurasakan juga keyakinannya. Berusaha mengikuti alur suasana, aku menghapus air mata Sati yang mulai berkurang.

"Why you have to cry now, then?"

Sati justru menangis lebih hebat. Kali ini tanpa suara, sehingga kepedihannya justru semakin terasa. Dan demi melihat Ence mulai bangkit dari ritual bertapanya, Mota segera menghambur ke pintu kaca dan menguncinya.

"Sorry, dude! Family's meeting!"

Bisa kulihat dengan ekor mataku, Ence mencoba membuka paksa pintu itu yang berbuah nihil. Akhirnya dia pasrah duduk berjemur lagi. Kupandang wajah Sati dalam-dalam. Dan begitu Mota kembali duduk bersama kami, kupanggil lagi namanya.

"Sati?"

Dia menghela nafas panjang. Berusaha menghentikan tangisnya. Kemudian membuka sumbat sebuah botol kenangan yang selama ini ditutupnya rapat-rapat.

"Gue takut, Gendis. Betapa gue bahagia saat ini, ngga ada yang bisa menandinginya, bahkan ketika gue berhasil mendapat pekerjaan paling hebat yang gue tahu. Tapi gue selalu takut. Naiknya berat badan gue nanti setelah gue nikah bukan apa-apa, melainkan gimana kalo nanti tiba-tiba perahu gue musti karam di tengah jalan sebelum gue sampai ke tujuan?"

Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini. Mota hanya terdiam, menunduk memainkan kunci mobil yang masih dibawanya.

"Gue takut, gue sangat takut akan mengulang sejarah kelam itu Gendis... Cukup kita aja. Cukup gue. Bukan anak-anak gue nantinya!!" tangis Sati memburu lagi.

Tertoreh luka itu kembali, aku merengkuh Sati ke dalam pelukanku. Hampir tiga belas tahun yang lalu Sati meraung menangis padaku. Dan begitu juga hari ini. Kubelai rambut panjangnya. Kurasakan betapa aku sangat menyayanginya meski seringkali terhalang keegoisan diri masing-masing.

"Sati, we are not our parents. Everyone has their own story. Dan kalaupun nantinya kita mengulangnya, itu karena kita ngga mau belajar dari pengalaman. Tapi kita bukan orang bodoh, Sati.. Kita sudah merasakan pahitnya. Kita sudah tau bagaimana rasa sakitnya. Kita pasti bisa mengobatinya, bahkan mencegahnya. Kita akan baik-baik saja, Sati. Kamu akan baik-baik saja.. Kamu akan menikah dan memiliki banyak anak, banyak cucu, dan kehidupan yang begitu bahagia. You deserve it, sweetheart..."

Tangis Sati mulai mereda. Dua kalimat terakhir bagiku adalah doa. Bukan hanya untuk Sati. Tetapi juga untukku. Mimpiku, yang terpaksa terbuang entah kemana. Aku ikut senang. Sati akhirnya menemukan tempatnya untuk mengadu. Namun aku tidak bisa berbohong bahwa kenyataan ini menghantamku, membawaku di persimpangan tanpa petunjuk jalan.

Sati memang tidak melihat mataku. Dia sudah cukup mendengar suaraku dan merasakan hangatnya pelukan seorang kakak.

Tidak dengan Mota. Dia di sana. Memandang ke mataku dalam-dalam. Mencari perasaan yang kusembunyikan rapat-rapat. Satu-satunya orang yang tidak bisa kubohongi di rumah ini, memaksaku untuk meneteskan air mata.

Dan bisa kulihat Mota memalingkan wajahnya jauh-jauh, enggan menerima kenyataan bahwa dia bisa merasakan sakitku juga...

Senin, 25 Juli 2011

time flies. best friend stayed. :)

happy Monday people!

another week passed here. I still can't believe that time goes that fast even i've been running with it.
tiga minggu sudah. kehidupan disini semakin hari semakin berwarna.
lembur sih ngga pernah absen. sampe2 masuk kosan lewat pager yang udah bolong hihi.

anyway, yang sangat saya banggakan adalah, teman-teman saya yang begitu hebat. i'm very blessed that i can call 'em mine :)

petualangan demi petualangan, kebodohan demi kebodohan, dan hal-hal kecil tapi berarti yang pastinya bakalan susah dilupakan.
maaan, saya ngga tau gimana nasib saya kemaren kalo ngga ada temen-temen saya ini.
kendaraan belum dateng, mapping pas-pasan, dan kadar ketakutan yang kadang melebihi rata-rata. hehe.


@rivandwino at ciwalk. kaya di singapore, eh?


@HendroTrieddian mejeng juga. turis abis! hihi

jadwal rutin rivan, kelupaan bikin script setiap malam minggu hihi :p

happy birthday mba icha! XD

pesta cheesecake. anak kos dapet anugrah banget liat ini kue :p

@RyanmOcii sibuk ngelamunin jodoh di kawah putih hehe

@mariaernatalia dan @andriands yang udah kebelet shopping,
sayang di kawah putih cuma ada belerang
xp

@jakanurs si papa bear! petualangan sableng menerobos semak semak hihi


dan nasib tukang poto, selalu ngga punya poto sendiri. adanya muka saya pasti di camera orang hehe. besoklah saya post bentuk saya setelah tiga minggu d bandung. tentunya habis ngemis-ngemis poto sama orang laen haha.


well, smell ya later people!
happy workday! :D

Sabtu, 16 Juli 2011

live report!

hai!
sudah dua minggu yaa! ngga kerasa!
hehe.

bandung masih dingin. dan saya sekarang lg mabok potongan ni huhu. stres ngerjain potongan skematik kawasan yang yang yang yang yang besok senen dipake buat presentasi. oh tidak.
weekend saya hilang sudah.

dan bosen sudah di ubun2. nungguin temen2 yang dari jakarta ngga dateng2. huhu.

kemaren2 sempat mellooow engga sellow banget. kangen ibu. kangen bapak. bahkan kangen adek saya yang nakalnya sejuta dosa itu.
tapi ternyata saya punya keluarga baru disini. temen2 di kantor yang biarpun cuma dikit bisa ngobatin kangen akan rumah. kantor saya menyenangkan, berasa di rumah. hehe.

ah. sebenernya saya lagi males posting ini. tapi daripada tidur trus kebablasan sampe ngga tau kapan kan yaa mending saya melakukan hal-hal yang mengasah otak sedikit, poto2 pake webcam misalnya.

seru! cobain deh!

pusing, mabok autoCAD

bingung sama hasil karya sendiri

dadah!!

Kamis, 07 Juli 2011

here i am, bandung :)

did i mention before that i'm going to bandung for two months doing something called internship, didn't i?

yeah, here i am.
saya sudah di bandung. sudah bekerja hampir satu minggu. kantor nya menyenangkaan! saya bersyukur bgt bisa dapet kesempatan kerja di LABO. sebuah biro arsitektur di bukit dago utara.
jarak kantor dari kosan deket banget. 5 menit aje. tinggal ngesot juga udah sampe. nggak ding, berlebihan, nanti sampe kantor yang ada besot-besot semua kaki sama tangan.

yang jelas, saya kedinginan. baik itu di kantor maupun di kosan. haha.
kampungan? emang!
hihihi. biasanya di jogja kepanasan. yang paling dingin di jogja juga lewaat kalo sama hawa sini.

saya belum sempat maen2 kemana gitu. blm apal jalan. nanti yaa. pasti di post yang lebih seru deh. sekarang sih akrab2 dulu sama supir angkot biar ngga dibawa kabur.


bukuuuu!! menyenangkaan!! :)

ada lampion gede banget buat ganti lampu kalo udah sore :)

salah satu spot yang saya jajah buat kerja. loh tp kok facebook yaa? ;p

begini wajah kantor nya dari arah pantry. cool yaaa?

salah satu view dari dalem kantor. segeeeeer!!! :D

segitu dulu deh. saya mau nonton film. satu-satunya hiburan kalo ngga ada temen di kosan ni. hehe. jangan iri yaaaa!! ayoo main ke bandung!! :DD

missing

bahwa kangen itu nggak harus sama seseorang.
bahwa kangen itu bisa mendadak muncul.
bahwa kangen itu seperti rasa-rasa biasanya yang muncul bukan karena disebabkan oleh orang lain.
bahwa kangen itu layaknya ngantuk.

dan sekarang saya kangen.
cuma gara-gara kantor tadi masih sepi. sinar matahari masuk lewat dinding-dinding kaca. dan udara dingin di sini masih berasa.

dan kangen itu bentuk perasaan.
dan saya kangen, tapi nggak sama siapa-siapa.

Kamis, 30 Juni 2011

pandora

hi there!

ujian saya tinggal satu lagi! so far so awesome. hihi. tidak ada kendala. semoga hasilnya sesuai ekspektasi. amiin.

beberapa saat yang lalu, saya sudah membuka kotak pandora saya. isinya berebutan keluar. semuanya datang bertubi-tubi. menghantam pertahanan diri saya. silih berganti kayanya ngga capek-capek ngeganggu hidup saya.

dhuuesss!! rasanya kaya dihajar tiang besi yang ngga keliatan. nyeri meeen.
kotak pandora ini bagi saya udah mirip isi kepala saya yang selama ini saya kubur dalam2. rapat2. tapi namanya manusia penasarannya ngelebihin sakit ibu mau beranak. saya bukalah itu kotak.

jelaas yang namanya kotak pandora bikin masalah. jelaaas yang namanya kotak pandora pasti ngasih wabah2 gundah gulana. bibit penyakit kesalahpahaman dan beribu-ribu pertanyaan dan kenyataan yang jadi rancu dan bikin kita kepleset ke hal-hal yang bisa merusak hubungan dengan orang lain.

i almost did. gawat adalah gawat. mengorbankan semua yang saya punya dengan keegoisan dan keras kepala. parno. idih. amit-amit.

untung kotak pandora saya bukan bajakan. jadi saat saya buka, meskipun isinya penyakit semua, masih ada kotak extra yang isinya harapan. namanya kedewasaan. penerimaan diri. mengalah. minta maaf, memaafkan, melupakan, dan memaklumi.

saya seneng. semuanya udah baik-baik lagi. dan semoga semuanya makin baik-baik nantinya. saya ngga mau berlama-lama larut ah. kalian-kalian yang terlibat juga pasti males. hehe. singkat kata singkat cerita, saya minta maaf kalo saya banyak2 salah2 kata. banyak salah2 kelakuan dan sikap. mari kita belajar tumbuh bersama dengan kedewasaan amiin :)

lembar baru lembar baru.
hidup baru hidup baru.

yeaah! next saturday, i'm going to start my new life. haha! bandung i'm coming! semoga membuka pintu dan kesempatan baru. semoga membawa kisah-kisah baru yang tentunya lebih berwarna.

mau ikut?? :)

Kamis, 16 Juni 2011

lazy town

Today I don't feel like doing anything
I just wanna lay in my bed
Don't feel like picking up my phone
So leave a message at the tone
'Cause today I swear I'm not doing anything
- The Lazy Song, Bruno Mars

Saya punya versi sendiri tentang lazy town. Bukan. Bukan seperti acara anak-anak yang ada di tipi itu, dengan warna pink dan biru yang begitu mendominasi. Please jangan.

Adalah kota di daerah pesisir. Dengan angin tropis yang paling top sedunia. Clear blue sky.
Rooftop dengan jarak pandang tak terbatas. Di mana saya bisa melihat laut tanpa harus bangkit dari sofa saya.
Cukup berteman radio yang menyuarakan folk songs selama 24 lamanya. Sebuah kamera. Seorang teman berbicara yang menyenangkan, sereal seperti coco crunch atau honey star, oreo tak terbatasm dan cooler berisi vanilla ice cream.


Say whaaat?!?!?!
AWESOME!

Betapa menyenangkan hidup di sana. No phone, no rush, no deadline, no pressure. Damn cool!
Konsep lazy town menurut saya bukan sekedar bermalas-malasan. Nggak melakukan apapun. Ngulet kanan kiri di atas kasur. Nope. Bukan yang seperti itu, meskipun saya sangat sangat suka guling-gulingan di kasur yang dingin tapi cahaya matahari sudah masuk ke kamar sambil menebar kehangatan.

Saya lebih memihak pada lambatnya waktu. Bagaimana kita bisa menikmati setiap movement yang kita buat, tanpa sibuk memikirkan rencana berikutnya akan apa yang harus kita lakukan. Yang harus kita kerjakan. Kita selesaikan.

Menikmati setiap detik yang berlalu. Tanpa ada penyesalan yang memburu karena membuat waktu barang sedetik saja.

Memilih kuliah di jurusan arsitektur membuat saya kehilangan banyak waktu untuk sekedar memejamkan mata. Deadline silih berganti tanpa peduli saya sempat menyentuh kasur saya atau tidak. Sempat menyalakan televisi dan menikmati acaranya atau tidak. Karena sekarang bagi saya televisi terkadang tidak ada bedanya dengan radio. Hanya jadi equipment penyedia backsound pengiring tidur.

Bagi saya, 'lazy-town-concept' bisa saya terapkan kapan saja. Makin ke sini, saya makin menyadari bahwa konsep ini sebenarnya patut dicoba/dieksekusi sekedar untuk mengurangi tingkat stres. Bahkan satu dua jam lazy town bagi saya sudah jadi penyembuhan tingkat dewa.

Berlebihan? Nggak peduli, yang penting saya bisa memperpanjang hidup satu dua jam (dikalikan jumlah saya menempatkan lazy concept town saya).

Do you wanna try? :)

Minggu, 12 Juni 2011

CHAPTER 02. part 1.

"Jadi, sebenernya, Radit kurang apa?" tanya Anet sambil merebahkan badannya di atas kasur apartemen Ence.

Sabtu siang terkadang menjadi pelarian terbaik untuk menyalahkan keadaan dan kondisi kehidupan masing-masing dari kami. Dan lagi-lagi, apartemen Ence adalah spot terbaik untuk menghindar sejenak dari hiruk pikuk mobil-mobil yang berebutan pergi ke tempat-tempat wisata, ditambah lagi kocek yang sedang tidak bersahabat.
Aku, Anet, dan Ence mengungsikan diri dari cerita-cerita romantis Nora tentang Ido, kekasihnya selama 10 tahun terakhir. Atau Kinar yang sibuk membandingkan barang mana yang seharusnya dia beli, dan mana yang seharusnya dia minta dari tunangannya.

"Hampir nggak ada, satu-satunya kekurangan dia cuma itu, Net. Dia nggak buru-buru ngajak gue kawin!" seruku ketus sambil mengikat rambut tinggi-tinggi saking gerahnya.

"Yasalaaam, kalo cuma ngajak kawin bisa kapan aja toh tergantung birahi. Kalo emang lagi pengen, ya sudah, ayo langsung tancap, kamar kamu atau kamar aku! Selesai perkara!" sembur Ence dari arah mini-kitchen kebanggaannya.

"Dasar bencong! Mesum dipiara! Diajarin dikit buat nggak deket-deket selangkangan kenapa sih sekali-sekali?!" teriak Anet tidak mau kalah.

"Ya habis, ngomong tuh yang bener.. Main ajak kawin aja yang dipikirin. Kan gue nya jadi doyan.."
Ence berjalan menuju kami berdua, yang langsung memberiku kesempatan mencubit lengannya keras-keras, hampir sekeras teriakan kesakitannya.

Anet tidak peduli dengan adegan penyiksaan pembantu barusan, dia bangkit duduk di atas kasur Ence, "Tunggu, deh. Seinget gue, dulu Radit udah pernah ngajak lo nikah. Tapi seinget gue lagi ni ya, jawaban elo sama asem nya kaya ketek Ence di siang bolong."

"Tapi itu kan dulu, Net. Bisa ngga sih dia belajar timing? Kapan gue siap dan kapan gue nggak siap? Kapan gue pengen dan kapan gue nggak pengen!!"
Aku mulai kehilangan kesabaran. Padahal seingatku tanggal merah bulananku belum mendekat.

"Radit mungkin emang harus belajar timing, tapi elo juga perlu belajar ngga egois!"

"Tolong digarisbawahi ya, gue nggak egois! Gue belum siap!"

"Belum siap bukan berarti seenaknya, dear.. Kalau gue boleh sok bijak sedikit, bukan pada tempatnya lo sekarang merengek-rengek untuk dinikahin sama Radit. Penolakan bagi kaum pria terkadang artinya bukan cuma mundur satu langkah. Tapi mundur teratur, sampe mentok, dan sambil berusaha melubangi tembok tinggi di belakangnya, mereka mencari-cari alasan untuk menolak dan mengulur waktu, lagi dan lagi," Anet memulai kothbah siangnya. Dan entah kenapa untuk sekali ini, aku tidak mampu membalasnya dengan amukan serta penyangkalan seperti biasanya. Mungkin aku mulai lelah. Atau, kata-kata Anet hampir bisa dikategorikan grade A?

"Salah sendiri nggak mau diajak nikah dulu. Itu kesempatan sekali seumur hidup tau!" celetuk Ence seenak jidat.
Kata-kata yang sederhana, tapi membuatku menatap lurus ke jendela yang membingkai langit biru bersih siang itu. Membawa harapan gamang ini kembali ke dua tahun yang lalu. Saat ketika aku dengan egoisnya lebih memilih untuk menjadi seorang arsitek dibanding seorang istri.

***

"Jadi sebenernya kamu serius ngga sih?" kata Radit yang mengekorku memilih bunga untuk ulang tahun Eyang Putri yang ke-83.

"Aku itu selalu serius, Sayang.. Aku jalan sama kamu bukan cuma untuk dipajang di ulang tahun Eyang nanti.. Bukan sekedar bukti kalau aku ini bukan calon perawan tua!"

Radit terkekeh. Mencoba ikut membaui bunga-bunga di sepanjang jalan itu tapi justru malah bersin-bersin dan membuat sang penjual melirik kesal.
Mau tidak mau, aku juga ikut mengulum senyum dibuatnya.

"Mana ada perempuan kaya kamu jadi perawan tua? Belum keluar kompleks aja udah tiga orang yang suit-suitin kamu. Kalau ada lelang, udah rebutan itu sampe tukang becak, sopir angkot, abang siomay demo di depan rumah!"

Aku hanya terdiam, terus berjalan ke depan, malas menengok ke belakang. Bukan apa-apa, nanti Radit pasti bakalan kesenengan saat melihat pipiku yang tiba-tiba memerah.

"Gege, kamu denger aku nggak sih?!"
Seruan Radit kubiarkan berlalu bersama deru sepeda motor yang lalu lalang. Aku asyik sendiri menawar bunga ketika melihat bunga matahari kuning yang cantik, kesukaan Eyang Putri.

"Gege, aku lagi ngegombal ni! Dengerin dooong! Jangan dicuekin!!"

Telingaku ini lama-lama gerah juga. Kubalikkan badan ke arahnya. Di depan ke seorang laki-laki dengan senyum bodohnya menyodorkan setangkai bunga lili putih yang anggun.
"Mau ya, Ge, nikah sama aku?"

Di dalam otakku saat itu, para penjual bunga itu langsung joget-joget india. Nari sana nari sini, jungkir balik sambil muter-muterin kita berdua. Ditembak begitu rasanya kaya diterjang ombak, tapi bukan air laut, melainkan air es campur. Rasanya manis, dinginnya pas banget buat diminum di siang bolong kala itu.

"Norak ah!"
Hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Entah, rasanya semua jadi satu. Terlalu kabur, terlalu absurd, terlalu bahagia.
Radit berjalan mendekat. Tidak peduli dengan para penjual bunga yang kegirangan punya tontonan sinetron versi siaran langsung. Tangannya meremas tanganku. Hangat. Tapi dengan bodohnya saat itu aku justru bimbang. Menggadai mimpi kanak-kanak dengan realita puncak karir yang terlalu berharga untuk dilepas begitu saja.

"Radit, kalau ada kata yang artinya jauh lebih berharga dari terima kasih, mungkin aku akan ambil itu untuk kamu. Apa yang kamu tanyakan barusan adalah pertanyaan yang mungkin paling ditunggu oleh semua wanita di muka bumi ini. Oh my J.., I think I'm gonna cry right now.."

"No, sugar, don't cry.. Ini bentuk keseriusan aku. Kamu sendiri tahu, bentuk ikatan apapun selalu membuatku mundur teratur, tapi tidak kali ini. Tidak kalau kamu sudah menemukan orang yang tepat. Mungkin kamu pikir semuanya selama dua tahun terakhir ini bukan apa-apa. Berjalan tanpa sebuah ikatan sama sekali, aku nggak bisa janjiin apa-apa buat kamu. Cuma satu yang aku tahu pasti, aku pengen nikah sama kamu.."

Aku hanya bungkam. Menatap dalam-dalam, ke sebuat titik pada bunga lili tadi yang sekarang terjepit dengan nyamannya di antara tanganku dan Radit.

"Tapi nggak sekarang, Dit.. Nggak, di saat aku dan kamu masih sibuk dengan mimpi masing-masing. Kita berdua masih terlalu asyik mengejar cita-cita, pekerjaan, bahkan mungkin gaji atau jabatan yang lebih tinggi lagi. I'll marry you someday, but just not at this time, honey.."

Bisa kulihat ada gores kecewa di mata itu. Ketika Radit tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ketika kata-kata yang seharusnya keluar itu berganti dengan melemahnya genggaman tangannya. Pada detik itu juga aku sudah pasrah, siap menerima resiko atas apa yang kulakukan, menggadai cinta.

Pada akhirnya tangan itu benar-benar terlepas dari genggamanku. Meninggalkan bunga lili di sana, yang berisi pesan dan harapan seorang laki-laki yang berdiri di hadapanku. Entah merah entah biru atau bahkan ungu, warna wajahku sekarang. Aku memilih tidak menatap matanya. Takut, aku lebih takut tersakiti daripada menerima kenyataan bahwa baru saja aku menorehkan luka penolakan bahkan sebelum harapan itu selesai dibangun.

Aku memilih melanjutkan transaksi dengan penjual bunga yang nampaknya cukup kecewa siaran langsung sinetronnya harus berhenti anti klimaks. Di kepalaku, aku sibuk menyusun cara menghilangkan kecanggungan, gimana caranya ngajak balik, gimana caranya bilang gue tetep sayang, gimana caranya bilang 'yaudah kita tunangan aja dulu' cuma gara-gara ketakutan ditinggal pergi orang yang pertama kali muncul di pikiran setiap bangun tidur?

"Pulang yuk, Dit.. Udah selesai, nih.. Panas banget deh, aku bentar lagi pingsan kayanya," kuberanikan diri untuk memulai percakapan senormal mungkin, sebiasa mungkin.

"Nggak mau, ah! Biar kamu kepanasan, biar pingsan, biar nanti bisa kuculik. Kubawa pergi. Ngga peduli Eyang Putri marah-marah cucunya dibawa kabur orang ganteng.."

Tali yang tadi mencekik leherku terurai perlahan. Membawa sejuta kelegaan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan demi melihat senyum Radit saat itu, aku melihat masa depanku. Sudah digariskan, sudah dituliskan. Aku tinggal menunggu saatnya nanti.
Kulempar wajahnya dengan bunga layu yang ada terselip di antara tumpukan bunga dandelion di depanku.

"I'll wait, Sugar. Someday, I'm going to marry you, no matter what would happened. Just like Mr. Pan always came to Wendy, even she's growing up and maybe forget about him.."

Masih kuingat bagaimana Radit tersenyum siang itu. Kata-kata terakhirnya di depan deretan toko bunga. Kemudian tangannya meraih tanganku lagi, mengajakku berjalan cepat-cepat ke mobil. Merelakan mimpinya harus tertunda lagi.

Kata-kata Ence kembali terngiang, kesempatan itu cuma dateng sekali. And, crap! gue udah buang sia-sia semuanya.

"Mungkin gue emang egois, Ce. Tapi apa Radit ngga egois juga namanya kalo dia menjanjikan sesuatu yang gue pegang erat-erat di sini, sementara dia dengan entengnya menganggap janji itu cuma jaminan semata untuk membuat gue tetap bertahan sama dia?"

Suaraku mulai melemah, seiring harapanku yang tenggelam lagi ke dasar hati. Mataku masih ke sana, pada langit biru yang terbingkai apik. Yang menjanjikan kebebasan dan kedamaian.

"Bahkan yang sampai tanda tangan di atas materai aja masih bisa ngeles, sayang! Hidup ngga punya stok jaminan yang cukup buat orang-orang kelebihan tenaga buat mikir terlalu panjang," sembur Anet santai.

"Hang on, dear. Kalo pesawat yang lo tumpangi udah bergoncang cukup keras, yang lo bisa lakukan cuma bertahan sesuai instruksi. Pegangan sama apa yang bisa dipegang sekuat mungkin. Banyak-banyak berdoa. Nanti kalo emang udah saatnya, selalu ada pendaratan darurat yang bisa diandalkan kok.."

Analogi Ence memang selalu ngawur. Tapi itu yang kubutuhkan sekarang. Saran yang tidak menasehati. Saran yang memang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Should I call him now?"

"Yes, please...,"
kata Anet, kemudian dia merebahkan lagi badannya ke atas kasur Ence.

Kutekan nomor yang sudah kuhafal di luar kepala. Kalau memang aku harus menunggu, aku akan menunggu.

"Hallo, Radit..."

i'm working on a dream


cheerio ya!! fortune will always come at the rite time kok :)
- Fathin Dwi Wicaksono, 2011.

sometimes things don't go that well as we had dreamed about it for so long. we had fight that hard, but it's just not our time yet, so we'd like screwed.

yeah, i'm screwed up. no back up plan. gotcha!
mad. from head to toe. but when i think that it's suddenly over think, i'd rather to stop.

saya sempoyongan menyusun semua benteng pertahanan lagi. ibarat ngumpulin semangat lagi itu kaya ngumpulin jagung kesebar yang lagi dipatokin ayam kelaperan udah dua minggu ngga makan.
susah?
nggak. nggak susah. cuman kamu jadi takut. takut nanti-nanti nya bakal sempoyongan lagi. bakal stress lagi. bakal kecewa lagi kalo semua ngga berjalan sesuai yang kita mimpikan.

buat saya ini pelajaran. eh bukan, ini adalah anugrah.
dimana saya bisa belajar.
kalo kita nggak jatuh, mana tau rasanya terbang? kalo kita nggak sedih, mana tau rasanya seneng? kalo kita ngga gagal, mana tau rasanya berhasil?

kecewa? iyalah, ngga bisa bo'ong itu.
munafik namanya kalo saya cuma bilang 'yaudah lah yaa...' lagi dan lagi.
cuma saya dan Tuhan yang tau seberapa banyak air mata yang tumpah. seberapa banyak menit dan detik yang saya habiskan untuk meratap dan berharap mending ngga pernah mimpi.

tapi saya punya teman-teman yang selalu ada di sekeliling saya. yang mendukung saya bolak balik. yang hebatnya ngga logis semua.
mereka yang bikin saya bertahan, tetap berpegang bahwa mimpi harus selalu diperjuangkan ngga peduli kamu harus jatuh bangun ditampar bolak balik ditabrak kanan kiri dan gagal berulang kali sebelum akhirnya kamu berhasil.

saya kecewa bukan cuma buat diri saya. saya kecewa karena lagi-lagi belum bisa bikin bangga orang tua. saya bilang belum, karena saya yakin, saya bakalan bikin mereka bangga, dengan apapun itu jalannya.

yang perlu saya lakukan sekarang adalah mengumpulkan lagi tenaga, kekuatan, kefokusan, dan keyakinan. saya ngga perlu lagi mengumpulkan mimpi-mimpi saya. karena saya ngga kehilangan mimpi saya. karena saya yakin cepat atau lambat, Tuhan pasti kasih jalan baru untuk saya buat jemput mimpi itu.

masih banyak yang harus saya lakukan. nggak ada banyak waktu tersedia untuk nangis lagi, ngerasa bego lagi, ngerasa sampah lagi, buat menyesal lagi. udah habis.

skenario masih panjang. saya masih punya sejuta rencana.

selesaiin kerja praktek, habisin mata kuliah wajib, magang, tugas akhir, lulus.
kerja di luar negeri, sekolah lagi, pulang kampung.
nikah sama orang kaya Seth Rogen, punya anak 3 biji, punya toko, punya resto, punya butik, bla bla bla bla bla bla....

i don't have a back-up plan. i have a lot. :)

sampai detik ini saya masih percaya. semua pasti ada jalannya asal kita mau usaha.
apapun yang kita mimpikan, itulah kita.

dreams come true?
well, terserah kamu! :)

i'm working on a dream
though sometimes it feels so far away
i'm working on a dream
and how it will be mine someday
- Working on A Dream, Bruce Springsteen, 2009

find me around, cause I'm working on a dream! smooch ya later!

Sabtu, 04 Juni 2011

surat

selamat malam, Tuhan.

ketika perjuanganku sudah terlewat. sudah berganti halaman. sudah menghabiskan berlembar-lembar kertas.
aku hanya bisa terdiam di dalam galau.
ketidaktenangan menghadapi apa yang ada di muka.
apa yang ada di depan.
yang nanti menyambutku. entah itu berbalas sorak sorai atau mungkin air mata penyesalan.

seketika aku mengingat wajah ibu.
yang matanya terpejam dalam doa.
mengharap tercapainya cita-cita anak perempuannya.
yang mulutnya terkunci dalam diam.
namun hatinya tak berhenti berseru kepada Mu, memohon satu kesempatan untuk keberhasilan gadisnya.

kemudian terngiang suara ayah.
yang menanyakan dan mendukung di saat yang bersamaan.
yang meski tak tampak, selalu melantunkan doa.
meminta jalan yang terbaik untuk anak gadisnya.

kakiku sudah kularikan jauh.
lebih dari selama ini yang mampu ku rentangkan.
tanganku tak henti-hentinya meminta ya Tuhan.
akan kuasa Mu. akan mukjizat Mu. akan kemurahan Mu.

waktu sudah bergulir. kini tinggal menunggu detik berikutnya.
satu yang kuharap Tuhan, semoga air mata yang nanti menetes di pipi kedua orang tuaku, adalah embun bahagia penuh kebanggaan akan darah daging mereka.
yang pada akhirnya mampu berdiri di atas kaki nya sendiri.

segala puji dan ampun berlomba-lomba keluar dari mulutku yang tak sempurna.

Tuhan,
semuanya kuserahkan ke dalam tangan Mu.
semoga Engkau bermurah hati, untuk memberikan kesempatan bagiku, untuk membahagiakan mereka yang kupanggil ibu dan ayah.
mereka yang kupanggil sahabat.
mereka yang kupanggil pendukung terhebat di dunia ini..





seandainya aku tahu alamat Mu, Tuhan..
segera kukirimkan surat ini, malam ini juga...